DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Revaluasi Aset dan Pertumbuhan Ekonomi. It’s too good to be true…

Posted by I Wayan Agus Eka on February 13, 2016

Menarik untuk menelisik lebih lanjut kaitan antara revaluasi aset dengan pertumbuhan ekonomi. Para pendukung dari kebijakan ini mengatakan bahwa revaluasi aset dapat memperbaiki kondisi keuangan perusahaan yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan posisi perusahaan untuk mendapatkan sumber pembiayaan yang lebih efisien (kalau tidak bisa dikatakan murah). Bagaimana hal ini bisa terjadi? Saya akan berusaha menggambarkan mekanismenya dengan pendekatan akuntansi yang saya pahami. Read the rest of this entry »

Posted in Accounting, Taxes | Tagged: , , , , , | 8 Comments »

Kebocoran PPN, Benarkah?

Posted by I Wayan Agus Eka on February 5, 2016

Menarik untuk membaca majalah Inside Tax Edisi Khusus 2015-2016, khususnya pada kolom pengamat Enny Sri Hartati.

Isi kolom ini sebenarnya sangat bagus dan relevan, khususnya ketika mengulas urgensi database perpajakan yang dikaitkan dengan keterbatasan sumber daya manusia. Namun pada bagian akhir kolom ini terasa ada yang kurang pas dan perlu diluruskan. Berikut saya sajikan screenshot bagian akhirnya. Read the rest of this entry »

Posted in Taxes, Uncategorized | Tagged: | 1 Comment »

Mengapa Netlfix Harus Diblokir? Tinjauan Singkat dari Aspek Perpajakan

Posted by I Wayan Agus Eka on February 3, 2016

Beberapa hari terakhir media sosial dihebohkan dengan diblokirnya situs layanan streaming berbayar Netflix. Telkom, sebagai ISP pertama yang melakukan pemblokiran ini, beralasan bahwa Netflix mengandung unsur pornografi dan tidak memenuhi regulasi di Indonesia. Namun ada satu alasan penting yang luput hampir sebagian besar dari kita semua, alasan perpajakan.
Read the rest of this entry »

Posted in Taxes | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Sisi Lain Korupsi

Posted by I Wayan Agus Eka on April 12, 2014

Saya termasuk golongan orang yang percaya bahwa setiap orang itu defaultnya adalah baik kecuali terbukti sebaliknya. Terkait dengan korupsi selama ini yang ada di benak kita pasti muncul bayangan seseorang yang memperkaya dirinya atau orang lain dengan mengambil kekayaan negara yang bukan haknya. Tidak ada yang salah memang dengan pemahaman atau definisi ini, namun ijinkan saya menggambarkan sisi lain sebuah tindakan yang selama ini kita hujat. Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Mereklamasi Bali, Menguruk Budaya

Posted by I Wayan Agus Eka on July 17, 2013

Pertama kali saya mendengar rencana reklamasi di Benoa kira-kira sebulan lalu. Sekali waktu saya sempatkan diri mengikuti perkembangannya dan terakhir saya membaca sebuah artikel di situs the jakarta post http://www.thejakartapost.com/bali-daily/2013-07-10/pastika-says-benoa-bay-plan-bring-prosperity.html.

Read the rest of this entry »

Posted in Selamatkan Bali | 2 Comments »

Mengurus VISA dengan Paspor Biru

Posted by I Wayan Agus Eka on July 15, 2013

Hari sudah menunjukkan pukul 12.00, sementara belum ada tanda-tanda rapat ini akan berakhir. Satu setengah jam lagi waktu pengambilan visa akan dimulai, dan sudah terbayang di benak ini bagaimana panjangnya antrian mengingat banyaknya orang yang sedang apply visa untuk libur lebaran tahun ini. Read the rest of this entry »

Posted in Daily Notes | 1 Comment »

Menggugat Komersialisasi Prambanan

Posted by I Wayan Agus Eka on February 9, 2013

Lelah badan dan letihnya mata ini serasa belum pergi setelah menempuh perjalanan darat yang cukup jauh dari Bandung menuju Jogjakarta. Pagi itu tanggal 30 Desember 2012, saya dengan selamat menjejakkan kaki di Jogjakarta bersama calon mantan pacar saya :D. Read the rest of this entry »

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Bercermin di Ujung Slamet Riyadi

Posted by I Wayan Agus Eka on June 29, 2012

Malam itu adalah malam terakhir saya bertugas di solo, kota yang mendapat julukan the spirit of java. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 sepulang dari makan malam menikmati enaknya kikil bakar di jalan gadjah mada. Mobil kami menelusuri jalan slamet riyadi dan sesaat lagi akan berbelok di penghujung jalan menuju tempat kami menginap. Seketika mata saya menuju sekumpulan orang yang berhimpun tepat di sebelah patung slamet riyadi, menelisik hati saya untuk mampir sebentar. Dari kejauhan terlihat kelir putih yang tidak terlalu besar, ya, itu adalah pertunjukkan wayang kulit.

Sejak kecil saya sangat suka menonton pertunjukkan wayang kulit. Di kampung halaman saya pertunjukkan wayang bisa berakhir sampai dini hari. Kesempatan ini tidak akan saya lewatkan dan sesaat setelah memarkir mobil, saya memisahkan diri dari rombongan dan melangkahkan kaki menuju pertunjukkan tersebut.

Saya menyusup di tengah keramaian dan akhirnya mendapatkan spot yang cukup baik untuk dapat menikmati pertunjukkan tersebut. Saya berdiri di sebelah seorang pemuda yang duduk di atas sepada motornya. Ternyata cerita yang disajikan bukanlah cerita klasik semacam ramayana atau mahabarata, tokoh-tokohnya pun bukanlah pandawa, rahwana dll, namun tokoh-tokoh modern yang saya tidak kenal sama sekali.

Di depan kelir sang dalang sedang memainkan dua orang tokohnya dan tentunya dengan bahasa jawa yang sebagian besar tidak saya mengerti artinya. Gelak tawa penonton pun membahana setiap sang dalang membuka dialognya. Saya yang sama sekali tidak mengerti juga tertawa kecil, bukan menertawai kelucuan yang dibuat sang dalang tapi tertawa karena yang lain tertawa juga.

Sejenak perhatian ini beralih dari kelir sang dalang menuju ke penonton. Ternyata penontonnya tidak hanya dari golongan orang tua namun banyak juga remaja tanggung yang menonton, mungkin karena lakon yang dipentaskan bukanlah lakon klasik namun lakon modern yang kita temui sehari-hari. Saya sangat senang mengamati ekspresi penonton ketika tertawa, raut muka mereka sangat orisinil, tertawa mereka tidak dibuat-buat hanya untuk sekedar menghormati sang dalang. Mereka seperti melupakan kesulitan-kesulitan hidup yang sedang dihadapi saat ini. Ekspresinya jauh dari kesan berpura-pura, polos, lugu selayaknya masyarakat tradisional yang menjunjung tinggi arti kejujuran dan ketulusan. Bagi mereka semua ini murah harganya karena mereka lakukan setiap hari, tapi bagi saya dan mungkin sebagian besar masyarakat modern, semua ini mahal harganya. Ketulusan, kejujuran dan keikhasan sudah menjadi barang langka yang teramat mahal bagi kita semua, dan di pertunjukkan inilah saya bisa melihatnya lagi, gratis.

Sang dalang masih memainkan tangan dan jarinya menghidupkan tokoh-tokoh rekaan yang dia ciptakan hingga pada sepenggal adegan terdapat 4 orang yang salah satunya adalah seorang calon lurah yang berhasil mengantongi suara terbanyak dalam sebuah pemilihan dan 3 orang lainnya adalah petugas pemilihan yang terdiri dari seorang pemimpinnya dan dua orang bawahannya. Adegan ini menggunakan dialog bahasa indonesia sehingga saya dapat memahaminya.

“terima kasih atas bantuan bapak membantu memenangkan saya dalam pemilihan ini. Ini ada uang 30 juta untuk bapak dan rekan-rekan bapak” tungkas sang lurah terpilih. Si A (sebut saja seperti itu) sebagai pimpinan petugas pemilihan kemudian bertemu dengan si B dan si C, anak buahnya. “rekan-rekan, ini ada uang 3 juta dari pak lurah sebagai imbalan atas bantuan kita memenangkan beliau, saya ambil sejuta dan sisanya buat kalian berdua”. Seketika tertawalah para penonton ketika sang dalang menyampaikan dialog tersebut.

Dalam hati kecil saya sangat penasaran, mengapa untuk dialog tersebut hampir semua penonton tertawa terbahak-bahak, apakah memang mereka menertawakan cara dialog tersebut dibawakan yang memang sangat jenaka atau mereka sedang menertawakan isi atau pesan yang hendak disampaikan sang dalang. Bagaimana kemudian sang dalang dengan cerdas menyindir pembagian uang haram yang juga tidak luput dari korupsi (udah uangnya haram, dikorupsi pula). Semua ini seperti menohok saya dan kita semua, dan inilah pesan yang ingin disampaikan sang dalang kepada khalayak.

Entah disadari oleh penonton atau tidak, memang ada pesan tersembunyi yang hendak disampaikan oleh sang dalang. Inilah substansi dari wayang itu sendiri. Di kampung halaman saya wayang ditonton di balik layar, jadi sang penonton hanya akan melihat bayangan wayangnya saja. Dari sanalah kemudian muncul sebuah makna mendalam bahwa menonton wayang adalah menonton bayangan kita sendiri, melihat diri kita sendiri di depan sana dengan tingkah laku yang beraneka macam. Dan itulah intinya, bercermin sehingga mampu melihat dan menyimpulkan apakah yang kita lakukan selama ini sudah berada dalam jalur yang benar atau perlu koreksi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, saya pun melangkah pamit meskipun pertunjukkan belum usai. Malam itu, dibawah sebuah patung pahlawan, sebuah pagelaran memberikan kesempatan bagi saya untuk bercermin kembali, melihat noda-noda yang mulai menghitamkan wajah ini seraya berusaha mengambil tisu bersih untuk mulai membersihkannya lagi. Terima kasih Solo atas sebuah kearifan yang engkau ajarkan, suatu saat aku pasti kembali lagi, meskipun hanya untuk bercermin.

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Teori Keagenan, Maximizing Shareholders (Life) Value dan Tri Hita Karana

Posted by I Wayan Agus Eka on January 15, 2012

Dalam sebuah entitas ekonomi (bahkan institusi publik sekalipun), manajemen (atau pemerintah) merupakan agen dari pemilik modal (rakyatnya) yang memiliki tugas utama untuk meningkatkan nilai mereka (maximizing shareholders value). Segala tindakan dari sebuah manajemen adalah dalam rangka meningkatkan nilai pemegang sahamnya. Inilah inti dari teori keagenan dalam berbagai literatur ekonomi. Dalam perkembangannya teori ini juga diadopsi pada ranah manajemen publik dengan melibatkan pemerintah sebagai agen dari rakyatnya.

Disadari ataupun tidak, teori ini juga berlaku dalam kehidupan ini. Kita semua adalah agen-agen bagi orang lain untuk meningkatkan nilai mereka dan disaat yang sama kita juga berposisi sebagai shareholder bagi mereka. Bedanya, dalam teori keagenan kehidupan shareholdernya bukanlah pemegang saham tapi semua hal di luar kita, yaitu orang tua, saudara, pasangan, anak, rekan kerja, bahkan makhluk hidup dan alam ini seluruhnya. Nilai yang dimaksimalkan juga bukan nilai saham namun nilai dalam arti luas antara lain kedewasaan, pencapaian, penerimaan, pengetahuan, penghargaan dan lain sebagainya.

Berbagi dan Pemaksimalan Nilai
Lalu bagaimana caranya meningkatkan nilai shareholders kita? Bertolak belakang dengan premis matematika dimana berbagi dimaknai sebagai pengurangan (minus), maka dalam teori keagenan kehidupan berbagi adalah cara paling efektif untuk meningkatkan nilai shareholders termasuk nilai kita sendiri sebagai shareholders bagi mereka di luar kita. Berbagi memang mengurangi pada saat kita melakukannya namun suatu saat jumlah yang kita terima akan berlipat-lipat. Selayaknya menabung yang mengurangi nilai uang di kantong kita, namun suatu saat kita dapat menikmati kembali uang tersebut bahkan dengan bunganya sekaligus.

Proses pemaksimalan
Bayangkan dua orang anak manusia berbeda jenis, sang lelaki dan sang wanita. Kita asumsikan mereka berdua memiliki masing-masing memiliki modal nilai sejumlah 10. Proses pernikahan dipercaya berbagai agama sebagai salah satu sarana untuk memaksimalkan nilai kedua orang ini.

Ketika mereka berpasangan, masing-masing bertindak sebagai agen dari pasangannya, mereka bersepakat untuk saling berbagi dengan menyerahkan sebagian modal nilai mereka kepada pasangannya. Mengapa sebagian? Karena sisanya mereka gunakan untuk kehidupan mereka masing-masing, untuk pekerjaan, orang tua, masyarakat, anak dan lain sebagainya. Proses berbagi antara kedua anak manusia berbeda jenis inilah yang nantinya akan memaksimalkan nilai mereka masing-masing sehingga bahkan akan mampu memperoleh nilai di atas modal mereka semula yaitu 10. Inilah yang dalam pepatah sering disebut dibalik laki-laki yang hebat terdapat wanita yang hebat dan sebaliknya di balik wanita yang hebat terdapat laki-laki yang juga hebat.

Lalu apakah selamanya akan terjadi proses pemaksimalan nilai dalam hubungan pasangan ini? Jawabannya tentu tidak. Setiap manusia pada dasarnya memiliki standar pengharapan masing-masing dari pasangannya. Misalnya dalam perumpamaan ini standar pengharapan si wanita adalah 6, namun sang laki-laki hanya bisa memberikan 5 saja karena selebihnya dia gunakan untuk pekerjaan kantornya, adiknya, bisnisnya, orang tuanya dst. Apabila si wanita tidak mau menerima nilai yang dibawah standarnya maka alih-alih akan terjadi pemaksimalan nilai yang terjadi justru akan mengurangi nilai masing-masing karena energi mereka berdua terkuras untuk konflik dan pertentangan. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tidak ada cara lain selain yang disebut dengan pengertian, selisih sejumlah 1 (6-5) antara standar pengharapan sang wanita dengan nilai yang dia dapat dari pasangannya adalah apa yang disebut dengan pengertian dan penerimaan.

Secara teori, apa yang diilustrasikan di atas sangat simpel dan sederhana sehingga terkesan sangat gampang untuk dilaksanakan, namun pada prakteknya tidak semudah itu. Pertentangan selalu akan terjadi, tawar menawar selalu akan sengit untuk menuju titik temu yang dalam istilah ekonomi disebut harga.

Contoh di atas hanya merupakan gambaran sederhana bagaimana proses pemaksimalan nilai seseorang yang terbentuk dalam hubungan antara sepasang anak manusia. Proses lainnya juga berlaku untuk pola hubungan yang lain seperti hubungan keluarga, hubungan rekan kerja di kantor bahkan hubungan kita dengan Tuhan dan lingkungan sekitar. Bukan sebuah kebetulan pula apabila pola hubungan (keagenan) ini dalam konsep tradisional Hindu sering disebut dengan Tri Hita Karana, sebuah konsep yang menyebutkan bahwa keseimbangan semesta terbangun dari keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alamnya.

Semoga kita semua mampu menjadi agen-agen yang akan memaksimalkan nilai shareholders kita.

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Ketika Orang Mabuk Bukan Karena Miras

Posted by I Wayan Agus Eka on January 14, 2012

“ahh..elo lagi elo lagi” gumam saya ketika mata ini dipertontonkan adegan kekerasan layak sensor. Niatnya sih mulia, ingin memperjuangkan supaya perda miras tidak dicabut. Tapi apa gunanya niat yang mulia ketika diejawantahkan dalam lemparan batu dan ayunan tongkat kayu.

Tidak hanya sekali ini saja, catatan sejarah menunjukkan perilaku yang sama sudah sangat sering diperagakan, lalu apa gunanya ilmu Ilahi yang dikuasai kalau semuanya berujung anarkisme. Sejarah masa lalu sudah banyak memberikan gambaran kalau perjuangan dengan kekerasan hanya akan menyisakan pihak yang kalah, tidak ada yang menang. Namun sebaliknya, perjuangan dengan mengandalkan diplomasi dan kekuatan rasa atau pikiran sudah banyak terbukti keberhasilannya, lihatlah India dengan Gandhi, lihatlah Aceh dengan JK.

Pikiran bodoh saya sering bercanda kepada saya, kalau seperti ini mungkin lebih baik miras dibiarkan saja beredar dengan bebas, kalau orang sudah mabuk palingan dia hanya teriak-teriak ga jelas, jalan terhuyung huyung lalu rebah menghujam tanah, tinggal keesokan harinya diguyur air saja daripada mereka yang anti miras (dan logikanya tidak pernah mabuk) tetapi merusak dan mengancam orang lain. Saya menjadi heran, kalau sudah seperti ini siapa yang sebenarnya lagi mabuk???

Kata Bang Haji, miras memang memabukkan, tetapi nafsu merusak ternyata lebih dahsyat memabukkannya daripada miras. Kalau sudah seperti ini, Bang Haji sepertinya harus mengubah lirik lagunya.

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »