DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Archive for the ‘Daily Notes’ Category

Lebih Dari Sekadar Solusi dan Reaktif

Posted by I Wayan Agus Eka on April 2, 2010

Apakah turun ke jalan  salah???apakah menghujat di media salah??tidak, sama sekali tidak, sepanjang itu merupakan wujud kekecewaan dan kontrol saya sangat bisa memahaminya. Namun lupakah kita bahwa kita semua adalah komponen bangsa ini, bangsa ini bukan hanya pemerintah saja, bangsa ini bukan hanya presiden saja, tapi bangsa ini saya, anda dan kita semua. Jadi, adalah sebuah kewajiban kita semua untuk memperbaikinya, kalaupun kita menghujat atau memaki pemerintah haruslah disertai dengan solusi yang beradab dan konkret yang tidak berupa solusi normatif saja.

Saya sangat mendambakah keadaan dimana ketika mahasiswa turun ke jalan, berorasi di depan istana negara, menentang kebijakan pemerintah namun setelah itu memberikan dokumen yang berisi hasil kajian mereka sebagai kaum intelektual kepada presiden mengenai bagaimana seharusnya pemerintah mengambil sebuah kebijakan atas isu tertentu. Saya sangat memimpikan keadaan dimana mahasiswa sebelum turun ke jalan mengadakan seminar yang khusus membahas kebijakan pemerintah secara mendalam dan hasilnya berupa rekomendasi-rekomendasi konkret yang tidak bersifat normatif namun dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam memutuskan sesuatu. Saya sangat mengharapkan kelompok-kelompok oposisi juga melakukan tindakan serupa dengan menghasilkan solusi-solusi bagi perbaikan bangsa. Solusi tersebut hendaknya mempertimbangkan semua aspek dan tidak bersifat parsial saja sehingga semua kalangan tercakup dalam solusi tersebut.

Bahwa pemerintah ada kekurangan dan masih perlu diperbaiki saya mengakuinya dan tidak menafikannya. Bahwa pemerintah masih ada cacatnya itu pasti dan mungkin pasti akan terus ada sepanjang jaman. Namun bahwa segala sesuatu yang tidak benar di negara ini ditimpakan kepada pemerintah saya agak kurang sependapat, bahwa pemerintah memiliki peran atas sebuah masalah adalah sebuah kepastian namun bahwa pemerintah memiliki kuasa penuh atas masalah tersebut mungkin perlu dipertanyakan. Artinya, sedikit banyak saya, anda dan kita semua memiliki andil dalam kekurangan-kekurangan yang masih ada di negeri ini dan hal inilah yang perlu disadari.

Menjadi pribadi yang solutif adalah solusi bagi negeri ini. Sudah saatnya hujatan, kritikan dan makian kita terhadap ketidakberesan diikuti dengan solusi membangun yang dilandasi pada rasa empati. Emphaty solution lebih dari sekadar solusi, dia berusaha menempatkan dirinya sebagai pihak yang memiliki wewenang karena dengan seperti itu kita mampu menangkap suasana ketika sebuah kebijakan diputuskan dan mampu memberikan solusi-solusi alternatif yang saya yakini akan bersifat konstruktif bukan destruktif.

Sudah saatnya kita semua menjadi pribadi yang menawarkan solusi terutama di bidang masing-masing yang kita tekuni dan kuasai, dan mudah-mudahan saya termasuk di dalamnya, semoga….

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Remunerasi dan Korupsi

Posted by I Wayan Agus Eka on March 30, 2010

Satu lagi kesalahan media dalam memberitakan kasus Gayus, atau mungkin memang sengaja dibuat salah supaya menggiring opini publik. Dalam salah satu beritanya Metro TV (gw ga takut nyebutin medianya) menyebutkan dengan gamblang bahwa “mewahnya remunerasi depkeu tidak mampu memberantas tindakan korupsi”.

Perlu dipahami bahwa remunerasi hanyalah salah satu bagian kecil dari tiga pilar reformasi birokrasi di Depkeu yaitu penataan organisasi, perbaikan proses bisnis dan perbaikan SDM. Meskipun demikian, remunerasi menjadi salah satu komponen yang sangat penting, kenapa??Penyebab korupsi pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua, pertama corruption by need dan kedua corruption by greed. Seringkali seseorang melakukan tindakan korupsi didasari pada kebutuhannya, sering kita mendengar ada orang yang memeras karena didorong oleh kondisi bahwa anaknya yang membutuhkan uang untuk bersekolah atau istrinya yang memerlukan biaya pengobatan, nah korupsi jenis ini masuk ke dalam golongan pertama. Namun, tidak jarang juga ada orang yang kebutuhan dasarnya sudah mencukupi namun tetap melakukan tindakan korupsi yang didorong oleh nafsu serakah, korupsi jenis ini masuk ke dalam kelompok kedua.

Lalu dimanakah peranan remunerasi???remunerasi memang didesain untuk mengurangi tindakan korupsi terutama korupsi yang didorong keinginan untuk memenuhi kebutuhan. Namun remunerasi tidak akan pernah mampu untuk menangani jenis korupsi yang didasari oleh nafsu serakah (greed) karena berapapun gaji yang diterima oleh pelaku korupsi jenis ini tidak akan pernah cukup karena didorong oleh ketamakan. Jadi, remunerasi tidak akan pernah bisa untuk menghilangkan korupsi secara keseluruhan namun remunerasi dapat mengurangi potensi korupsi terutama yang didasari oleh needs.

Trus, dimanakah salahnya pendapat media itu????bahasa yang digunakan oleh media tersebut salah karena menyamakan semua jenis tindakan korupsi. Remunerasi bukanlah obat paten yang akan mampu menyembuhkan semua jenis korupsi, obat ini hanya cocok terutama untuk tindakan korupsi yang didorong oleh kebutuhan bukan oleh keserakahan, karena pada prinsipnya pelaku korupsi jenis pertama tidak mempunyai mental korup karena semata-mata didorong oleh kebutuhan hidup dasar.

Bahasa media tersebut juga salah karena menggiring opini publik untuk menarik kesimpulan yang salah bahwa “karena korupsi masih terjadi maka sebaiknya remunerasi dicabut”. Penarikan kesimpulan ini salah karena apabila remunerasi dicabut maka penyakit korupsi yang pertama akan kambuh lagi. Kemudian pasti akan muncul pendapat, kan semua PNS punya kebutuhan lalu mengapa hanya depkeu yang melaksanakan remunerasi???memang, idealnya seluruh PNS menikmati gaji yang layak yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, namun Depkeu hanya pilot project untuk kebijakan ini mengingat keterbatasan keuangan negara. Logikanya, ketika pegawai depkeu sudah bekerja dengan baik dan jujur karena remunerasi, maka penerimaan dan pengelolaan keuangan negara juga akan naik dan semakin baik sehingga remunerasi untuk departemen lainnya akan segera menyusul di kemudian hari (bahasa lainnya : skala prioritas).

Salah satu prinsip media adalah cover both side, prinsip inilah yang diabaikan oleh media tersebut, mengapa???Remunerasi hanyalah satu sisi saja sementara di sisi lainnya ada yang namanya punishment, namun herannya pemberitaan media hanya menyoroti sisi remunerasinya saja tanpa membahas sisi punishmentnya padahal dua hal ini ibarat dua sisi mata uang logam yang tidak akan pernah terpisah. Teori stick and carrot adalah teori yang mendasari remunerasi dan punishment. Orang yang sudah diberikan carrot yang cukup namun tetap membandel sudah selayaknya diberikan stick yang lebih keras dari sebelumnya dan hal inilah yang tidak pernah muncul dalam pemberitaan. Pernahkah media memberitakan bahwa remunerasi memberikan ancaman kartu kuning bagi pegawai yang telat maupun pulang cepat walaupun hanya sedetik dari jadwal seharusnya?pernahkah pula diberitakan berapa besar gaji kita yang harus dipotong jika tidak bekerja?pernahkah disadari bahwa setiap pegawai tanpa kecuali harus menandatangani kode etik? Karena media tidak menyadari hal ini lalu APA KATA DUNIA!!!!!

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | Tagged: , | 17 Comments »

Gayus dan “knowledge blindness”

Posted by I Wayan Agus Eka on March 27, 2010

Satu lagi isu heboh muncul di tengah-tengah kita. Setelah gegap gempita century, kemudian aksi teroris, maka muncul fenomena markus pajak yang dihembuskan oleh mantan petinggi Polri. Gayus Tambunan menjadi “artis baru” yang namanya begitu akrab beberapa hari terakhir. Dia adalah seorang pegawai Ditjen Pajak yang memiliki harta kekayaan yang tidak sesuai dengan jabatan yang saat ini dia sandang dan diduga harta itu adalah hasil dari tindak kejahatan.

Isu kemudian meluas, dari hanya sekedar melibatkan kepolisian dan GT sebagai individu, kemudian berkembang melibatkan Ditjen Pajak sebagai sebuah institusi. Dari segi substansi isu kemudian beralih menjadi beberapa hal yang menurut saya di luar konteks substansi semula yang hendak diselidiki. Dari mahasiswa, tukang ojek, PRT, kaum intelektual berlomba-lomba memberikan pendapatnya, namun seringkali pendapat mereka hanya keluar dari mulut saja tanpa didasari oleh dasar intelektual yang memadai (baca:asbun). Setidaknya ada dua wacana dari orang-orang asbun ini yang coba saya sarikan. Pertama, mereka berargumen buat apa membayar pajak kalau nantinya dinikmati oleh Gayus dan pejabat-pejabat lainnya. Dan yang kedua, buat apa bayar pajak kalau jalan-jalan masih ada yang rusak, kalau pemerintah selalu jauh ketika ada bencana dll.

Saya bisa mengatakan bahwa, orang-orang yang melontarkan wacana pertama adalah orang-orang yang pikirannya sempit dan mungkin tidak pernah sekolah (kalaupun sekolah paling lulus dengan nyogok). Perlu diingat, WP membayar pajak bukan kepada petugas pajak, WP membayar pajak langsung ke kas negara. Yang diserahkan ke petugas pajak hanya bukti pembayarannya saja, jadi tidak akan pernah bisa seorang petugas pajak akan menilep duit WP yang nyata-nyata sudah masuk ke kas negara.

Korupsi di otoritas pajak manapun di belahan bumi ini umumnya hanya terjadi karena dua hal. Pertama karena adanya mekanisme supply and demand dan kedua karena adanya penyalahgunaan wewenang oleh pihak yang memiliki kuasa dalam bentuk pemerasan dll. Dalam kasus gayus, dugaan saya (sekali lagi saya hanya menduga saja) yang terjadi adalah kasus supply and demand, bukan kasus pemerasan karena kalau ini kasus pemerasan maka tentunya pihak yang diperas pasti sudah muncul di media saat ini, namun sampai sejauh ini tidak ada pihak yang mengaku diperas oleh pelaku. Mekanisme supply dan demand hanya akan terjadi apabila ada kesepakatan antara pihak yang menawarkan bantuan dengan pihak yang membutuhkan bantuan. Pihak yang membutuhkan bantuan tentunya berharap dapat membayar pajak lebih sedikit dari yang seharusnya sementara pihak yang menawarkan bantuan berharap ada balas jasa atas bantuannya. Kalau hal seperti ini yang dimaksud oleh orang yang melontarkan wacana pertama, maka tidak hanya pihak yang menawarkan bantuan saja yang harus dipersalahkan namun juga pihak yang membutuhkan bantuan juga harus disalahkan karena memberi dan menerima suap sama-sama haram hukumnya.

Artinya, bagi WP yang memang tidak ada niat untuk menciptakan demand atau memang sejak semula beritikad baik untuk membayar pajak maka wacana pertama hanya omong kosong saja, karena uang yang mereka setor ke kas negara tidak akan mungkin dapat dikorupsi oleh petugas pajak. Sehingga, saya justru berkesimpulan sebaliknya bahwa orang yang melontarkan wacana pertama atau orang-orang yang setuju atas wacana ini sejatinya merupakan orang-orang yang memiliki niat untuk mengemplang pajak dengan menggunakan isu gayus sebagai justifikasi tindakannya, karena argumentasi wacana tersebut sangat lemah dan tidak mendasar.

Nah, bagaimana dengan wacana kedua???meskipun wacana ini memiliki keterkaitan dengan pajak namun sebenarnya wacana ini lebih terkait dengan mekanisme anggaran yang dilakukan oleh eksekutif dan legislatif. Setelah masuk ke kas negara maka pajak masuk ke dalam mekanisme APBN dan Ditjen Pajak sebenarnya tidak memiliki kewenangan langsung dalam mengalokasikan anggaran ini karena alokasi anggaran adalah kewenangan Pemerintah dan DPR. Jadi, bagi yang melontarkan wacana kedua ini sangat tidak tepat kalau mengalamatkan tuduhan kepada Ditjen Pajak atau Pemerintah saja, namun seharusnya juga mengalamatkan tuduhan kepada DPR. Sehingga, saya menjadi sangat terheran-heran ketika ada salah seorang anggota DPR (anggota Pansus pula) yang hanya diam saja dalam sebuah dialog di TV ketika seorang narasumber lainnya berteriak dengan semangat membara (tentu berotak kosong) bahwa dia menolak pajak karena masih ada jalanan rusak dan bla bla bla.

Tentunya kita semua harus menyadari, bahwa kebutuhan negara ini tidak hanya untuk memperbaiki jalanan dan dana bencana saja. Saya yakin orang-orang yang bersemangat memboikot pajak tentu menikmati listrik di rumahnya, tentu menggunakan bensin di kendaraannya, tentu menggunakan gas di dapurnya, tentu memiliki anak yang bersekolah dll. Namun apakah mereka menyadari darimana PLN mendapatkan uang untuk memproduksi listrik, darimana Pertamina mendapatkan uang untuk memproduksi bensin dan gas, dan darimana uang untuk mensubsidi pendidikan dalam bentuk BOS. Memang, kita harus mengakui bahwa tidak semua kebutuhan rakyat akan bisa terpenuhi oleh negara melalui mekanisme APBN  saja karena memang yang namanya kebutuhan, apalagi menyangkut kebutuhan seluruh rakyat, pasti akan sulit (kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin) terpenuhi semuanya. Lupakah kita dengan kalimat awal saat kita belajar ekonomi bahwa ekonomi pada hakikatnya adalah ilmu yang mempelajari bagaimana memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas dengan alat-alat pemenuhan yang bersifat terbatas. Dari kalimat itu saja kita sudah harus menyadari bahwa kebutuhan itu sifatnya tidak terbatas sementara APBN sebagai salah satu alat pemenuhannya pasti sifatnya terbatas, dengan menyadari ini apakah masih mungkin negara akan memenuhi kebutuhan seluruh rakyatnya??

Reaksi negatif sebagian masyarakat dari kasus gayus ini saya sebut sebagai knowledge blindness. Orang-orang yang bereaksi seperti ini sebenarnya orang yang buta pengetahuan. Kalau buta ini memang karena tidak pernah bersekolah mungkin kita bisa memakluminya, namun yang membuat prihatin adalah orang-orang ini buta karena memang tidak mau membuka matanya padahal matanya memiliki kemampuan untuk melihat yang sebenarnya. Termasuk dalam kategori ini adalah orang-orang (termasuk di dalamnya oknum media) yang sebenarnya memiliki kemampuan akademis namun karena hatinya sudah diselimuti kebencian yang teramat sangat kepada pemerintah maka mereka memilih untuk menutup matanya dan berpura-pura buta namun dengan mulut yang tetap berkoar-koar seolah-olah tangannya memegang barang yang bernama kebenaran.

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 27 Comments »

“terima kasih” Ibnu

Posted by I Wayan Agus Eka on March 22, 2010

Mohon jangan salah paham atas judul tulisan ini. Saya hanya berusaha memandang kasus ini dari sisi lain. Sebagai pemeluk Dharma, saya sangat sedih, marah, kesal atas tulisan Ibnu ini. Ingin rasanya bertemu orang ini secara langsung dan menghadiahinya kata-kata yang setara dengan apa yang diucapkannya.

Namun pernahkah kita memandang kasus ini sebagai sebuah “soal ujian”???soal ujian yang tentunya harus dijawab segera karena akan menentukan kelulusan kita nantinya, ibarat seorang anak  SMA yang sedang mengikuti Ujian Nasional. Ibnu datang pada saat yang sangat “tepat”, dia dan komentarnya muncul saat saya dan saudara sedharma melaksanakan hari suci kami. Saya berusaha berpikir positif bahwa dia adalah ujian bagi saya dalam melaksanakan brata penyepian.

Inti brata penyepian adalah pengendalian dan penguasaan diri, secara fisik kita terkekang oleh aturan-aturan yang dibuat agama namun sadarkah kita kalau yang sebenarnya harus dikekang adalah pikiran kita, karena dari pikiranlah akan muncul perkataan dan selanjutnya perbuatan. Mengutip Gede Prama, seandainya manusia dipenjara di gua terdalam pun, pikirannya masih bisa lari kemana-mana.

Setelah kita melaksanakan brata penyepian maka kita diharapkan memiliki pikiran yang bersih untuk menapaki tahun yang baru. Umumnya kita beranggapan bahwa dengan tidak makan, tidak minum, tidak bepergian, tidak menyalakan lampu (api) dll kita sudah melewati ujian perayaan Nyepi. Namun semuanya itu bukanlah ujian yang sesungguhnya, karena ujian yang sebenarnya baru dimulai setelah perayaan Nyepi itu sendiri dan Ibnu datang tepat setelah saya dan umat sedharma melaksanakan Nyepi.

Ibnu membawa “selembar soal ujian” yang harus saya jawab dengan pengetahuan dan bekal yang saya peroleh dari “diklat sehari” selama Nyepi. Pengetahuan itu saya gunakan untuk menjawab pertanyaan Ibnu. Ibarat pelajar, kalau mau naik kelas tentunya harus melewati ujian, bedanya kelas dan ujian dari si Ibnu ini bernama kelas dan ujian kehidupan. Ada yang menjawab soal ujian itu dengan bahasa yang serupa dengan bahasa si Ibnu (baca: menghujat, memaki, menghina dll) namun tidak sedikit juga yang berusaha memandangnya dengan bijak dan tetap santun.

Apakah yang menghujat itu salah??dan apakah yang santun itu benar??saya tidak berani memutuskan, karena bahasa kebenaran bukan monopoli saya. Namun di mata saya (sekali lagi ini adalah kebenaran versi saya), jawaban saudara-saudara saya mencerminkan tingkat penguasaan diri yang menjadi inti dari Nyepi itu sendiri.

Saya berterima kasih ke Ibnu bukan karena setuju dia menghina hari suci saya, tapi saya berterima kasih karena dia mengantarkan “soal ujian” sehingga saya bisa ikut ujian dan mudah-mudahan diluluskan oleh-Nya sehingga saya bisa naik kelas. Seketika saya mengetahui kasus ini saya langsung bergabung dengan grup yang menuntut Ibnu diusir, namun seketika itu juga saya memutuskan keluar dari grup ini dan lebih memilih untuk bergabung ke grup yang memaafkan tindakannya, mudah-mudahan jawaban “soal ujian” ini benar di mataNya, Awighnam Astu….

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 4 Comments »

Renungan Nyepi: Matikan Jasadmu Maka Terhidupkanlah Jiwamu

Posted by I Wayan Agus Eka on March 12, 2010

Apa yang terlintas ketika kita mendengar kalimat di atas. Mungkin setiap orang akan memiliki persepsi yang berbeda-beda akan kalimat itu.

Sebelum kita melangkah ke pengertian sesungguhnya, mungkin lebih baik kita mencermati satu persatu bagian dari kalimat itu. Jasad yang dimaksud disini memiliki arti yang luas, jasad ini tidak hanya berarti badan kita tetapi juga segala sesuatu yang terikat dengan badan kita, apakah itu???tidak lain adalah sifat-sifat sebagai seorang manusia. Manusia memiliki sifat baik, buruk, nafsu, amarah, cinta, dengki, iri dll. Kemudian jiwa yang dimaksud di sini adalah Tuhan yang berada dalam setiap umat manusia. Meminjam istilah Gede Prama, di dalam diri manusia terdapat pura-pura yang di dalamnya bersemayam Tuhan itu sendiri.

Jadi arti dari istilah matikan jasadmu maka terhidupkanlah jiwamu itu adalah matikanlah semua sifatmu yang terikat dengan badan jasmanimu karena pada saat kondisi itulah engkau akan menemukan diri yang sejati yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Badan jasmani beserta sifat-sifat yang terikat ini bagaikan lumpur yang menghalangi seorang nelayan ketika mencari ikan, bagaikan awan hitam yang menghalangi terangnya sinar matahari, maka singkirkanlah lumpur dan awan itu dan engkaupun akan melihat ikan dan matahari dalam kejernihan hati.

Ketika kita mampu mematikan jasad ini maka bagaikan seseorang yang sedang berada dalam suatu lorong yang sangat gelap yang dengan ketekunan dan tekadnya mampu melihat setitik cahaya di ujung jalan, cahaya inilah yang disebut dengan Dharma, cahaya inilah yang merupakan tujuan dari kehidupan ini.

Lalu bagaimanakah caranya mematikan jasad ini. Agama mengajarkan kita untuk melakukan tapa, brata, yoga, semadi. Cara-cara inilah yang harus dilakukan manusia agar mampu mematikan nafsu dalam dirinya sendiri. Lalu sebatas mana kita harus melakukan cara-cara ini??kembali lagi ke sifat ajaran agama Hindu yang tidak mengenal pemaksaan, ibarat seorang anak SD janganlah dijejali dengan pelajaran SMA begitu pula sebaliknya, seseorang yang sudah SMA janganlah mengambil pelajaran untuk anak SD kembali. Tujuannya apa???untuk mencapai apa yang disebut dengan kondisi NOL, lepas dari pengaruh dualisme, rwa bhinneda, selalu netral dalam menghadapi sesuatu. Lepas dari ikatan duniawi yang disebut istri, harta, anak, kedudukan, jabatan dan lain-lain.

Sebagai contoh saya akan mengambil kisah dari cerita Mahabarata

Panca Pandawa merupakan symbol dari lima sifat manusia. Yudistira disimbolkan sebagai sifat satwam (ibu jari), Bima dengan sifat Krodha (Telunjuk), Arjuna dengan sifat Kama/birahi (jari tengah), Nakula dengan sifat Tamak/loba (jari manis) dan Sadewa dengan sifat irihati/matsarya (kelingking).

Kisah mahabarata mengajarkan kepada kita bagaimana cara mengendalikan nafsu manusia kemudian dilahirkan kembali sebagai pribadi yang suci dan bersih.

Semuanya berawal dari perjudian yang sudah diskenariokan sedemikian rupa. Akhirnya Pandawa beserta drupadi harus kehilangan kerajaannya dan dibuang ke hutan selama 12 tahun dan pada tahun ke 13 harus menyamar, dan seandainya pada tahun ke 13 samarannya terbongkar maka harus kembali lagi menjalani 12 tahun di hutan.

Nah, waktu 12 tahun inilah merupakan proses mematikan jasad dari Pandawa tersebut. Mulai dari Arjuna yang harus bertapa ke gunung Indrakila untuk memperoleh senjata dimana kemudian dia bertempur dengan Dewa Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Kemudian ketika Yudistira harus melupakan dendamnya untuk sesaat ketika rombongan Duryodana diserang oleh sekawanan raksasa yang ingin membunuhnya ketika Duryodana menginap di peternakan yang dekat dengan perkemahan pandawa.

Puncak dari ujian itu adalah pada akhir masa pengasingan yaitu pada tahun ke-12. Berawal ketika pedupaan seorang brahmana tersangkut pada tanduk seekor menjangan dan kemudian Pandawa mengejar menjangan tersebut beramai-ramai. Dan kemudian sampailah mereka di hutan. Karena kehausan Nakula kemudian memanjat pohon yang tinggi dan kemudian melihat ada tanaman air yang artinya di dekat sana terdapat telaga. Bergegaslah kemudian Nakula menuju kolam itu. Ketika dia sampai di sana terdengarlah suara gaib “wahai putra madri, jawab dulu pertanyaanku baru kamu boleh minum”, namun nakula tidak menghiraukannya , dia langsung meminumnya, seketika itu pula dia jatuh tidak sadarkan diri.

Melihat saudaranya sudah lama mencari air, maka yudistira mengutus sadewa untuk mencari. Ketika sadewa sampai, suara itu terdengar lagi “sadewa, telaga ini milikku, jawab dulu pertanyaanku, baru engkau boleh meminumnya”. Namun sadewa tetap tidak bergeming, dan seketika itu pula dia tidak sadarkan diri.

Kamudian diutuslah arjuna untuk menyusul mereka, namun ketika sampai suara itu terdengar lagi, “jawab dulu pertanyaanku, jika engkau tidak menurutiku maka kau akan menemui nasib yang sama dengan saudaramu”. Arjuna marah mendengarnya dan berkata “siapa dirimu, akan kubunuh kamu” sambil membidikkan panahnya kearah suara itu, namun tidak mengenai apa-apa. Arjuna kemudian minum, dan seketika itu pula dia tidak sadarkan diri.

Kemudian bima menyusul adik-adiknya, dan dia pula mengalami nasib yang sama. Melihat saudaranya tidak kembali, yudistira menyusul mereka, dan alangkah kagetnya ketika dia melihat saudaranya terbaring kaku dalam kematian. Lalu tiba-tiba terdengar suara gaib “saudaramu mati karena tidak mengindahkan kata-kataku, jawab dulu pertanyaanku baru kemudian engkau dapat meminum air di telaga ini”. Yudistira menyanggupi dan kemudian dia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan suara itu.

Jawaban yudistira memuaskan suara itu, kemudian dia berkata “dari saudara-saudaramu ini, siapa yang kau pilih untuk hidup kembali??” kemudian yudistira menjawab “nakula, karena aku adalah putra dewi kunti maka biarlah salah satu putra dewi madri hidup dan meneruskan keturunannya”. Mendengar jawaban Yudistira suara tersebut bergembira, jawaban yudistira mencerminkan keadilan dan juga mencerminkan Dharma karena keadilan pada prinsipnya adalah Dharma itu sendiri. Suara tersebut akhirnya menghidupkan kembali semua saudaranya.

Apa makna dari cerita ini:

Kejadian ini memberikan makna kepada kita bahwa manusia (yang disimbolkan dengan panca pandawa) harus berusaha mematikan sifat marah (bima), birahi (arjuna), loba (nakula), dan iri hati (sadewa) melalui cara-cara yang disimbolkan dengan kehidupan di hutan selama 12 tahun. Kemudian baru setelah itu diri sejati ini terlahirkan kembali (ditandai dengan hidupnya kembali panca pandawa).

Hari raya Nyepi merupakan salah satu upaya untuk mematikan badan jasad ini, Nyepi ibarat masa pembuangan Panca Pandawa di tengah hutan dengan segala macam cobaan dan pantangannya (baca: amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan). Nyepi mengembalikan kita semua ke titik NOL, titik dimana kita akan mampu untuk melihat kebenaran sejati.

Yudistira adalah simbol manusia yang mampu menguasai dirinya sendiri, simbol dari NOL yang mampu mengalahkan musuh sejati yang berasal dari diri sendiri dan mencapai tingkat kesucian yang dimuliakan Tuhan. Hendaknya kita semua berusaha untuk menjadi seperti ini. Awighnam Astu..

Rahajeng Rahina Nyepi

I Wayan Agus Eka sekeluarga….

Posted in Daily Notes | Tagged: | 4 Comments »

Bali for Sale

Posted by I Wayan Agus Eka on March 1, 2010

Masuklah ke link ini, maka anda akan menemui sebuah iklan tanah dijual di Bali. Mungkin terdengar sudah umum dan biasa, namun bagi saya cukup luar biasa tatkala mengetahui bahwa tanah yang diiklankan tadi terletak di salah satu sudut desa tanah kelahiran saya. Ketika saya masih SD boleh dibilang seluruh tanah di kampung saya masih dimiliki penduduk pribumi, namun lambat laun satu persatu lahan di sana dibeli oleh orang asing dengan perantara orang lokal.

Tanah yang sangat laku adalah tanah di tepian timur sungai Petanu yang topografinya berupa tebing dengan keterjalan bervariasi. Pembeli sangat meminati karena menyajikan pemandangan yang cukup indah dengan aliran sungai di bawahnya dan hamparan ilalang di tebing seberang sungai. Penduduk desa yang memiliki tanah ini sangat tergiur dengan uang ratusan juta yang bisa didapatkannya dalam waktu singkat tanpa harus bekerja keras.

Cerita di kampung saya sangat mungkin terjadi (bahkan sudah terjadi) di belahan desa lainnya di Bali. Perkembangan dan pertumbuhan pariwisata membutuhkan lahan ekspansi yang semakin meningkat. Pertumbuhan pariwisata yang digadang-gadang menjadi obat kemakmuran masyarakat Bali harus mengorbankan lahan-lahan pertanian yang selama ini menjadi mata pencaharian masyarakat Bali. Celakanya lagi, pembeli lahan tadi sebagian besar adalah masyarakat luar daerah bahkan turis asing dengan memanfaatkan calo-calo lokal.

Apakah kepemilikan “asing” ini salah??mungkin kalau menggunakan parameter di luar daerah selain Bali hal ini tidaklah salah, namun untuk di Bali kepemilikan “asing” ini menjadi salah satu penyebab pergeseran budaya Bali. Saya meyakini bahwa generasi kakek/nenek kita sebagian besar pasti mayoritas petani/penggarap lahan, namun lihatlah generasi orang tua kita dan generasi kita sendiri, berapa banyak dari mereka yang meneruskan profesi orang tuanya dan mungkin di dalamnya termasuk saya sendiri. Lahan yang dimiliki “asing” ini pada umumnya dijadikan sarana pariwisata, entah itu hotel, restoran, villa dll, yang tentunya akan membuka jenis lapangan pekerjaan baru yang lebih menarik dari sekadar berkubang dengan lumpur persawahan.

Pengalihan kepemilikan lahan ini juga menjadi salah satu sumber konflik horizontal di Bali. Saya menyaksikan sendiri bagaimana sebuah keluarga terpecah gara-gara pembagian hasil penjualan lahan yang tidak adil, bagaimana sebuah keluarga yang masih satu “natah” tidak pernah bertegur sapa bahkan ironis ketika ada yang menempuh jalan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Saya sangat percaya bahwa tanah adalah benteng terakhir sebuah kebudayaan, sebuah benteng yang lahan di dalamnya berfungsi sebagai ruang-ruang bagi kebudayaan  untuk sekedar bertahan apabila hanya tumbuh saja sangat susah. Tanah memungkinkan insan-insan di dalamnya untuk mengekspresikan dirinya sebebas-bebasnya tanpa harus memikirkan orang-orang di luar. Namun ketika tanah ini dimiliki pihak luar maka seketika itu juga robohlah benteng tersebut, ruang ekspresipun akan menjadi lebih terbatas dan lebih sempit. Dan ketika itu terjadi apakah kita masih akan membanggakan diri sebagai suku yang berbudaya.

Pertumbuhan pariwisata hendaknya tidak menjadi dalih untuk membenarkan aksi alih lahan ini, karena bagaimanapun juga Bali memiliki batas kemampuan untuk menampung pertumbuhan tersebut. Mungkin saatnya kita sejenak mengatakan “cukup” terhadap hegemoni pariwisata ini karena kata cukup akan memberikan waktu untuk menjernihkan pandangan kita mengenai kondisi Bali sekarang dan bagaimana kita mengelolanya di masa datang. Selayaknya manusia yang mempunyai batas kemampuan maka begitu pulalah pulau tercinta ini, sehingga pemaksaan yang bernama “pertumbuhan ekonomi/pertumbuhan pariwisata dll” hanya akan memeras keringat Bali saja sehingga suatu saat bukan lagi keringat yang akan keluar tapi darah. Semoga ini tidak terjadi, Awighnam Astu.

Posted in Daily Notes | Tagged: | 1 Comment »

Saraswati dan Kenangan Masa Kecil

Posted by I Wayan Agus Eka on February 26, 2010

Setiap kali menjelang hari raya Saraswati saya selalu seperti kembali ke masa kecil ketika masih sekolah dasar di kampung halaman. Bangun pagi terus mandi dan berpakaian sembahyang, kemudian dengan membawa sesajen berjalan kaki bersama teman-teman ke sekolah untuk sembahyang. Sepulang sekolah, ibu pasti nyuruh supaya buku-buku dikumpulkan di sanggah untuk dibanteni. Ya, begitulah rutinitas ketika hari itu tiba.

Kala itu terasa sangat menyenangkan mungkin karena Saraswati masih bermakna hari libur bagi saya, saya tidak harus belajar (kan ada mitos pas Saraswati tidak boleh baca), tidak harus buat PR ditambah ke sekolah dengan berpakaian yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Masih belum terasa aura hari raya yang suci dan penuh makna. Namun sekarang, tatkala saya sudah mulai belajar dan sedikit memahami makna Saraswati saya sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana saya bisa berhari raya bersama keluarga dan teman-teman sekolah yang mungkin sangat sulit bisa diulangi pada masa saya sekarang.

Meskipun ketika kecil, dengan vidya (pengetahuan) yang masih terbatas, dimana saya hanya memahami hari raya sebagai hari libur namun ada satu makna kecil yang sebenarnya menurut saya menjadi salah satu esensi dari sebuah hari raya yaitu kebersamaan. Kebersamaan karena hari raya adalah saat kita berkumpul dengan teman-teman, ayah, ibu, saudara dan keluarga lainnya.Saat kita bisa bercengkrama melepas rutinitas sehari-hari, saat kita bisa menanyakan kabar saudara kita, saat kita bisa mengambilkan makanan untuk pekak (kakek) dan dadong (nenek) yang kalau hari biasa saya bisanya hanya minta uang jajan ke beliau.

Hal ini justru menjadi sebuah antitesis pada saat sekarang ketika saya sudah besar dan mulai memahami apa makna dari sebuah hari raya. Kehidupan modern dimana di setiap rumah sudah ada kitab suci dan orang-orang mulai hafal dengan mantram Kramaning Sembah serta avidya (kebodohan) yang katanya sudah mulai terhapuskan malah justru meninggalkan semangat kebersamaan ketika berhari raya. Kini, ketika Saraswati, kita hanya datang (mungkin ke pura Aditya Jaya Rawamangun), sembahyang trus pulang. Ketika sembahyangpun mungkin kita tidak mengenal siapa yang duduk di sebelah kita ataupun berusaha untuk mengenalkan diri dan sekadar mengucapkan selamat Saraswati. Ya, rasa kebersamaan itu mungkin sudah mulai terkikis sedikit demi sedikit.

Memaknai hari raya sangat penting karena dengan memaknainya kita memelihara hubungan vertikal kita dengan Sang Pencipta, namun hendaknya kita tidak melupakan hubungan horizontal kita sebagai sesama manusia. Saya sangat rindu dengan masa kecil saya yang meskipun dengan pengetahuan agama yang terbatas namun sangat menikmati arti dari sebuah kebersamaan.

Selamat Hari Raya Saraswati…

Posted in Daily Notes | Tagged: | 3 Comments »

Konsistensi…Pentingkah????

Posted by I Wayan Agus Eka on February 24, 2010

Dalam sebuah drama politik terbesar (mungkin dalam 10 tahun terakhir) salah seorang anggota oposisi menyatakan bahwa kita akan tetap konsisten sesuai dengan pandangan awal fraksi. Dalam kesempatan lainnya juga sering keluar pernyataan bahwa konsistensi sangat diperlukan dalam membangun negara yang bebas dari korupsi.

Apakah pernyataan mengenai konsistensi itu salah???tidak, sama sekali tidak. Namun, perlu dilihat bagaimana dan kapan kita harus bersikap konsisten. Apabila dalam indikasi awal kita bersikap bahwa telah terjadi pelanggaran namun kemudian setelah dilakukan pemeriksaan tidak ditemukan pelanggaran apakah sikap konsistensi masih diperlukan. Kalau dalam konteks ini masih bersikap konsisten maka sikap ini adalah sikap konsisten menyalahkan yang benar atau hanya mencari-cari kesalahan.

Akan sangat lebih bijak apabila sikap konsistensi memiliki dasar yang kuat yang memiliki rasional-rasional yang mendasarinya, tidak hanya didasarkan pada emosi dan membangun opini publik supaya kata-kata “konsisten” terdengar seperti sikap yang 100% benar tanpa cela. Opini publik seolah-olah digiring dengan membangun image bahwa yang konsistenlah yang selalu benar, padahal yang konsisten belum tentu benar dan yang “plin plan” belum tentu salah.

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Generasi Masa Depan bukan Generasi Masa Kini

Posted by I Wayan Agus Eka on February 20, 2010

“Demi masa depan” begitulah ungkapan yang sering kita dengar dari orang yang bekerja keras setiap hari. Aktivitas sehari-harinya bangun pagi-pagi sekali, sarapan buru-buru langsung berangkat kerja, kemudian pulang larut malam. Setiap kali anaknya bertanya kenapa ayahnya seperti ini, jawaban sang ayah singkat “demi masa depan kamu nak”.

Apa sih masa depan itu???seolah-olah masa depan berupa makhluk menyeramkan yang memaksa kita untuk memeras darah (bukan keringat lagi) kita hari ini untuk membebaskan kita dari makhluk tersebut. Masa depan seolah-olah menjadi momok menakutkan bagi orang-orang yang hidup di kekiniannya.

Tidakkah orang-orang seperti itu menyadari bahwa kelak suatu saat, masa depan akan menjadi masa kini. Dan jangkauan masa depanpun bukannya tidak terbatas karena setiap manusia pasti memiliki batas umurnya masing-masing. Sehingga, ujung dari masa depan itu adalah apa yang disebut dengan maut atau kematian. Menyadari hal ini apakah masih kita masih perlu menggebu-gebu beralasan “demi masa depan”???Apakah masih perlu kita mengorbankan masa kini kita demi masa depan kita itu???apakah masih perlu seorang ayah tidak pernah melihat anaknya sarapan dan mengantarkan cerita dikala anaknya mau tidur????Apakah masih perlu seorang anak manusia mengabaikan cintanya dan baru menuainya dikala sang fajar sudah tenggelam???

Mudah-mudahan saya tidak termasuk dalam generasi masa depan itu, mudah-mudahan saya termasuk dalam generasi masa kini yang peduli dengan masa depan. Awighnam astu…

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Balinese Instant Generation

Posted by I Wayan Agus Eka on February 16, 2010

I Kocong sudah tamat SMA sekarang, namun bagi pemuda sekelas I Kocong sekolah hanyalah sambilan dari profesi utamanya sebagai brandes (brandalan desa), sebutan khas masyarakat bali untuk orang yang sering buat onar, mabuk-mabukan dll di lingkungan masyarakat. Jangankan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, untuk bangun pagi berdandan rapi menenteng map saja dia ogah. Sube keles asane bungut meme bapane ngorahin I Kocong (ungkapan yang kurang lebih berarti bahwa ortunya I Kocong sudah sampai bosan menasehatinya).

Setiap hari kerjaannya hanya nongkrong di warung pinggir jalan, menghisap rokok dan berharap temen2nya sesama brandes datang sambil membawa red label (kalo lagi ada duit) atau kalau lagi cekak arak bali pun gpp. Duduk melingkar di sisi jalan, ditengahnya ada botol besar dan gelas kecil kemudian digilir ke setiap anggota komunitasnya, begitulah sampai badannya terasa ringan dan semua masalah hidupnya seakan-akan hilang lalu pulang terhuyung-huyung kemudian menjatuhkan badan di kamarnya yang sumpek dan baru bangun jam 2 siang keesokan harinya. Begitulah hari-hari I Kocong, sang jagoan desa.

Suatu hari datanglah salah seorang temannya. Dandanannya ga jauh beda ama personil grup punk. Rambut kaku berdiri, semir merah, baju dan celana ketat compang camping, sepatu ga jelas sambil menenteng blackberry onyx di tangan. Gacoannya pun ga kalah, mobil honda jazz hitam full modifikasi plus ditambah seorang cewek cantik di dalamnya dengan dandanan serupa. Melihat temannya itu, I Kocong hanya bisa menelan air ludahnya sendiri, bibirnya mangap terus sembari kupingnya serius mendengar cerita-cerita seru temannya tentang kehidupan “modernnya” di kota seberang. Kupingnya tetap terpasang ketika sang teman menceritakan keberhasilannya menggaet cewek-cewek cantik dan mengajaknya kencan ke hotel, makin keluarlah air liur I Kocong.

Cerita sang teman masih terngiang-ngiang di telinga I Kocong sesampainya di rumah, kalau biasanya sehabis mabuk dia langsung tidur namun kali ini matanya masih terbelalak seperti burung hantu yang suaranya sering terdengar di belakang rumahnya. Pikirannya menerawang jauh ga tentu arah membayangkan seandainya dia bisa seperti itu, namun I Kocong selalu menghela nafas ketika dia menyadari bahwa dia hanya seorang pemuda desa pengangguran yang ortunya hanya petani yang menggarap tanah warisan leluhurnya.

Namun tiba-tiba matanya berubah semakin terang, raut mukanya menjadi lebih jelas, bibirnya terseyum-senyum simpul karena di pikirannya melintas “ide cemerlang” yang bisa mengatasi kegundahannya. Ya, dia yakin ide ini akan merubah I Kocong dari pemuda culun, kampungan, dekil menjadi pemuda modern, wangi, disenangi cewek-cewek, dll. Dia akan membujuk ayahnya untuk menjual tetandingan (sebutan untuk tanah warisan), ya, dia yakin akan menjual harta satu-satunya peninggalan leluhurnya itu.

Awalnya sang ayah menolak, namun namanya juga orang tua yang hanya memiliki satu anak laki-laki sang ayah tidak bisa berbuat banyak. Tanpa waktu yang lama, tanahnya dibuatkan sertifikat (karena pada umumnya tanah warisan di bali belum disertifikat) kemudian dengan bantuan seorang makelar yang juga penduduk desa seberang maka tanpa kesulitan dia menemukan calon pembeli dari luar negeri. Transaksi pun terjadi dan sekarang I Kocong sudah menjadi orang kaya baru di desanya.

Terkejut dengan jumlah uang yang begitu banyak, satu persatu barang mewah pun dibelinya. Mulai dari mobil keluaran terbaru, HP terkini, rumahpun diperbaiki seperti amah tetani (ungkapan yang berarti bahwa rumahnya dipenuhi ukiran-ukiran). Biar balance, tampang I Kocong pun dipermak abis, dia pun mulai mengenal yang namanya body lotion, deodoran, minyak wangi dll.

Kebiasaannya pun berubah, dari sekadar hanya nongkrong di pinggir jalan menunggu teman-temannya datang membawa arak sekarang tongkrongannya menjadi sekelas “Kamasutra” yang mungkin tiket masuknya cukup buat beli beras sebulan. Mentraktir temanpun menjadi menu keseharian I Kocong sekedar untuk berebut pengaruh dan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Gonta ganti cewek menjadi hal yang biasa baginya. Tetanggapun sering membicarakannya namun baginya itu justru hal yang membuatnya menjadi semakin bangga dengan statusnya sekarang.

Cerita I Kocong mungkin hanya fiktif belaka, namun bukan hal yang mustahil hal ini terjadi pada kehidupan nyata khususnya di Bali yang generasi mudanya begitu terpengaruh dengan dunia luar hasil dari industri pariwisata dan kemudian mencoba mengadaptasinya di kehidupan sehari-hari tentunya dengan modal bernama tanah warisan dari leluhurnya. I Kocong merupakan cerminan pemuda bali masa kini yang menginginkan segala sesuatu yang serba cepat tanpa mengalami proses, bukan bermaksud untuk mengeneralisasi karena saya yakin masih banyak pemuda Bali yang berjuang keras dan memperoleh hasil sebagai kristalisasi keringat (meminjam istilah dari tukul). Hasil yang diperoleh I Kocong seperti buah pisang karbitan yang nampak bagus dari luar namun di dalamnya masih mentah.

Apakah Anda salah satu dari I Kocong?????

Posted in Daily Notes | 2 Comments »