DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Archive for the ‘Daily Notes’ Category

Cinta, Cita dan Harapan

Posted by I Wayan Agus Eka on July 1, 2010

Cinta, kata ini mungkin adalah kata paling populer di dunia ini. Bahkan, sebelum kita dilahirkan di dunia inipun kita sudah mengenal kata ini, mengenal bukan dengan cara mendengar dari lingkungan namun dari apa yang orang tua kita lakukan ketika menyatukan hatinya dalam sebuah cinta sebagai suami istri. Mengenalnya tidak membutuhkan telinga, karena orang tulipun dapat merasakan, tidak membutuhkan mata karena orang butapun dapat merasakan, tidak membutuhkan kesempurnaan fisik karena orang lumpuhpun dapat merasakan, hanya dibutuhkan keterbukaan hati untuk dapat merasakan kehadirannya.

Cita adalah keinginan seseorang akan sesuatu. Dia yang menjadi adrenalin dalam setiap langkah manusia mewujudkan impiannya di dunia ini. Cita muncul dari sebuah proses pembekuan keinginan dalam alam bawah sadar seorang manusia yang selanjutnya menjadi semacam jet pendorong seseorang untuk dapat mewujudkan keinginannya itu.

Antara kata cinta dan cita hanya dibedakan oleh satu huruf  “n” saja, namun bukan berarti kedua kata tersebut tidak menyiratkan hal yang sama. Cinta dan cita merujuk ke satu kata yang sama yaitu “harapan”. Ya, harapan akan sesuatu yang pasti diinginkan setiap manusia, harapan akan adanya sesuatu yang akan diterima ketika cinta dan cita itu telah mewujud dalam kenyataan. Terus, apa yang diharapkan oleh cinta dan cita itu????tidak lain dan tidak bukan adalah kebahagiaan. Seseorang yang merasakan cinta baik dari pasangannya, keluarganya maupu temannya pasti akan merasakan kebahagiaan, begitu pula ketika cita dari seseorang tercapai maka hanya rasa bahagia yang akan dia rasakan. Berbahagialah mereka yang dapat merasakan cinta dan mencapai citanya.

Ubud, pk 16.10, 1 Juli 2010

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 2 Comments »

Kepastian yang Tetap Menyedihkan

Posted by I Wayan Agus Eka on June 29, 2010

Senin malam 28 Juni 2010, entah kenapa aku menulis status FB yang menyiratkan rasa kangenku dengan keluarga di Bali. Aku merindukan orang tuaku, adikku, kakekku dan saudara-saudara lainnya. Merekalah pahlawan-pahlawanku sehingga aku bisa mencapai seperti sekarang ini.

Keesokan harinya, saat mata ini baru terbuka sempurna, tanganku langsung membuka laptop kesayangan. Membuat susu dan memberi tubuh ini 4 keping regal yang aku campur dengan selai coklat sambil tanganku membuka-buka situs berita yang setiap pagi rutin aku lakukan. Sampai suatu ketika aku membuka salah satu tulisan di kompasiana, aku lupa judul dan pengarangnya siapa, namun satu makna penting yang aku tangkap dari tulisan itu ketika pada baris terakhirnya sang penulis mengatakan bahwa ketika kita kehilangan salah satu anggota keluarga maka Tuhan telah menutup salah satu pintu untuk berbuat baik.

Aku menganggap apa yang aku baca di pagi itu adalah sesuatu yang biasa saja, tidak ada istimewa karena saat itu aku menganggap tulisan itu sama saja dengan tulisan-tulisan inspiratif yang sering aku baca. Sampai siang aku melewatkannya dengan aktivitasku di kost dan mengunjungi kampus sebentar, sesuatu yang rutin aku lakukan beberapa hari belakangan setelah aku yudisium.

Sampai akhirnya sore hari sekitar jam 3, ketika aku di depan laptop browsing, tiba-tiba HP berbunyi. “Nyokap”, begitulah nama yang keluar dari HP ku yang menandakan bahwa yang menelpon adalah ibu. “Ah, paling ibu cuman nanyain apa aku sehat, apa sudah makan, lagi dimana” begitu gumamku sebelum mengangkat telponnya. Begitu aku angkat, tanpa memakai kata “halo” ibu langsung ngomong “gus, pekak sube mejalan” (nak, kakek sudah dipanggil), kata-kata yang begitu singkat namun langsung menohok dada ini. Aku berusaha tegar, menahan diri, namun suara ibuku yang sesenggukan akhirnya membuat aku juga tidak kuasa menahan air mata ini, sambil terbata aku hanya berujar “antosin bu, tyang lakar mulih” (tungguin saya bu, saya akan segera pulang).

Ya, kakekku memang akhirnya berpulang. Beliau memang sudah sangat lemah, sebulan terakhir bahkan praktis beliau tidak makan, hanya mengandalkan teh manis dan sesendok bubur tiap hari. Hampir 2-3 hari sekali aku nelpon pulang, ngobrol sama ibu/bapak dan selalu menanyakan bagaimana keadaan kakek, jawaban yang aku terima sama saja, beliau hanya minum teh manis dan sesendok atau dua sendok bubur. Terakhir, hari sabtu lalu aku menelpon sambil menunggu keberangkatan rombongan KMHB ke pura cinere, cukup lama waktu itu aku ngobrol ama bapak terutama ngobrolin kesehatan kakek, aku masih ingat saat itu aku meminta bapak untuk mencampurkan madu di teh yang biasa dia minum supaya ada energi yang masuk ke tubuhnya.

Baru aku menyadari, bahwa statusku di FB dan artikel kompasiana yang aku baca itu mungkin adalah firasat kalau aku harus pulang dan akan kehilangan salah satu anggota keluargaku. Tapi semuanya sudah terjadi, Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah dari yang kita duga dan akhirnyapun kakekku bisa ketemu dengan nenekku yang sudah terlebih dahulu menghadapnya.

Bahwa semua yang hidup di dunia ini akhirnya akan mati adalah sebuah kepastian yang tidak akan dapat dihindari, namun meskipun merupakan sebuah kepastian tetap saja aku (mungkin juga Anda) merasakan kesedihan yang sangat ketika hal itu benar-benar terjadi. “Nah, mejalan sube pekak, cucun pekak niki tuah ngidang nunas ice mangde pekak nepukang marge ane rahayu, marge ane galang antuk sundih. Cingak-cingakin cucun-cucun pekake dini, yasang di kedituane apang makejang ngemolihang pasuecan widhi

kamar kos,  pk. 23.50, 29 Juni 2010

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Ketika Menerima pun Membutuhkan Keikhlasan

Posted by I Wayan Agus Eka on June 4, 2010

“Ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain, memberilah dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan”, saya rasa kata-kata inilah yang sering diajarkan oleh orang tua kita masing-masing ketika masih kecil dahulu. Sebuah kata-kata bijak yang menjadi pondasi perilaku baik seorang anak manusia. Namun sadarkah kita bahwa keikhlasan tidak hanya dibutuhkan ketika memberi namun juga keikhlasan juga harus menjadi pondasi hati ketika menerima sesuatu dari orang lain.

Ketika menerima pun kita membutuhkan keikhlasan, keikhlasan apakah yang kita bangun? tidak lain adalah keikhlasan hati, sebuah bentuk penyadaran diri untuk secara sadar menerima pemberian orang lain sebagai sebuah ungkapan kasih sayang dan perhatian. Keikhlasan hati juga berarti sebuah sikap mewarnai hati ini dengan bangunan-bangunan prasangka yang positif dengan menghindari prasangka bahwa ada pamrih yang diharapkan oleh orang yang memberi.

Menyadari hal itu maka sikap menolak merupakan cerminan dari ketidakikhlasan. Menolak muncul dari sikap tidak enak, takut merepotkan, takut tidak bisa membalas, dan yang lebih ekstrem adalah takut karena ada sesuatu yang diharapkan sang pemberi. Semua respon tadi adalah respon negatif yang menjadikan diri ini menjadi pribadi yang negatif pula.

Memang ketika menerima kita juga harus melihat pribadi si pemberi, kita harus mampu memberikan penilaian secara tepat mengenai tindakan yang dia lakukan. Namun proteksi yang berlebihan terhadap diri pribadi justru akan membangun jembatan negatif di dalam diri. Sadar atau tidak ketika hati ini sudah diliputi ketakutan yang berlebihan untuk menerima sesuatu karena takut tidak bisa membalas atau dimintai imbalan, maka seketika itu juga kita sudah mengotori kesucian hati ini dengan prasangka-prasangka.

Bahwa yang memberi telah berbuat baik dan patut mendapatkan pahala adalah sesuatu yang tidak kita nafikan, namun bukan berarti perbuatan memberi itu menimbulkan kewajiban bagi yang menerima untuk membalasnya. Alam semesta (baca: Tuhan) sudah memiliki mekanisme hukum yang sangat sempurna untuk menangani hal ini. Alamlah yang akan mencatatnya dalam buku pahala dan suatu saat alam juga yang akan memberikan balasan yang setimpal atas perbuatan baik si pemberi. Alam akan melakukannya melalui tangan-tanganNya yang ada di dunia ini dan tidak harus melalui tangan sang penerima.

Sikap menerima dengan ikhlas juga merupakan sikap menerima dengan tulus jawaban dari doa-doa yang kita panjatkan sehari-hari kepadaNya. Pernahkah kita mendengar cerita seorang pendeta yang kuilnya dilanda banjir namun tetap bersikukuh menolak bantuan dari sesamanya dengan alasan bahwa Tuhan sendiri yang akan datang menolongnya. Ketika kematian akhirnya menjemput, di Surga pendeta itu mempertanyakan sikap Tuhan yang tidak menolongnya. Namun tahukah anda apa jawaban Tuhan? “Saya sudah datang menyelamatkan anda dengan menawarkan truk, mengajak naik perahu karet dan helikopter, namun Anda tetap menolaknya”. Kita tidak akan pernah tahu bahwa tangan yang memberikan kita sesuatu adalah tangan Tuhan yang berusaha menjawab doa-doa kita, karena Tuhan akan menolong kita dalam bentuk yang paling gampang diterima manusia. Jadi, disamping tetaplah memberi sesama dengan ikhlas maka tetaplah juga membangun keikhlasan ketika menerima.

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Menyoal Tajuk Rencana Harian Balipost 18 Mei 2010 tentang Pajak Makanan dan Minuman

Posted by I Wayan Agus Eka on May 20, 2010

Tulisan ini merupakan tanggapan atas Tajuk Rencana Harian Balipost edisi 18 Mei 2010 dengan judul “Pajak Makanan dan Minuman” (untuk selanjutnya penulis sebut sebagai tajuk) serta sekaligus menanggapi opini Saudara Wayan Suyadnya  pada harian dan tanggal yang sama dengan judul  “Tax Makanan dan Minuman Setelah UU 42/2009 Berlaku” (untuk selanjutnya penulis sebut sebagai opini). Segala substansi dalam tulisan ini merupakan opini penulis pribadi dan tidak mewakili instansi manapun. Read the rest of this entry »

Posted in Daily Notes | Tagged: , , | 4 Comments »

Hotel Plat Merah dan Teori Keuangan Publik

Posted by I Wayan Agus Eka on May 18, 2010

Sangat menarik untuk disimak dan dikaji gagasan dari Gubernur Made Mangku Pastika agar Pemerintah Provinsi Bali memiliki hotel di kawasan elite. Meskipun hal tersebut sangat dimungkinkan oleh undang-undang namun beberapa faktor lain harus dimasukkan menjadi bahan pertimbangan. Faktor-faktor seperti sumber pendanaan, strategi investasi, sosiologis masyarakat sampai pada faktor iklim usaha perhotelan perlu dipikirkan masak-masak dan diberikan bobot sesuai dengan derajat kepentingannya. Tulisan ini berusaha melakukan kajian singkat gagasan ini dari segi teori keuangan public (public finance).

Public finance pada hakikatnya mempelajari aktivitas pemerintah dan alat-alat yang digunakan dalam membiayai pengeluaran pemerintah (Hyman 2008, 4). Mengapa kita memerlukan pemerintah? Teori public finance menyediakan beberapa jawaban atas pertanyaan ini antara lain karena pemerintah dapat menyediakan barang/jasa yang tidak mudah disediakan pasar, pemerintah juga memiliki fungsi dalam redistribusi pendapatan, stabilisasi dan regulasi.

Kapan pemerintah harus memutuskan untuk mengintervensi kegiatan perekonomian? Hyman (2008, 67) menyatakan bahwa dalam hal pasar gagal dalam menyediakan barang atau jasa dalam jumlah yang efisien (kondisi ini sering disebut kegagalan pasar) maka kondisi ini membutuhkan government action. Kegagalan pasar pada prinsipnya disebabkan karena dua hal. Pertama karena persaingan yang tidak sempurna (monopoli) dan kedua karena ketidakmampuan pasar untuk memproduksi barang/jasa tertentu yang termasuk dalam public goods. Dua kondisi inilah yang mendorong pemerintah untuk masuk ke pasar. Dalam kondisi monopoli maka pemerintah akan melakukan intervensi dengan menggunakan fungsi regulasinya. Namun dalam kondisi public goods maka pemerintah akan masuk ke pasar dan memproduksi public goods tersebut.

Kondisi public goods inilah yang memiliki keterkaitan dengan gagasan hotel plat merah tersebut, karena pemerintah  terjun langsung ke pasar dan memproduksi jasa perhotelan tersebut. Sehingga, untuk menjustifikasi kebijakan pemerintah tersebut perlu dikaji apakah jasa perhotelan merupakan public goods atau bukan. Apabila jasa perhotelan bukan merupakan public goods maka secara teori public finance pemerintah seharusnya tidak melakukan intervensi dan sebaliknya.

Public goods memiliki dua karakteristik pokok yaitu nonrival in consumption dan nonexclusion (Hyman 2008, 143). Nonrival in consumption mengandung arti bahwa public goods dapat dinikmati oleh lebih dari satu konsumen tanpa mengurangi jumlah yang dikonsumsi konsumen lainnya sementara non exclusion berarti bahwa sangat mahal apabila ingin membuat seseorang menjadi objek pengecualian untuk mengkonsumsi public goods tersebut. Sementara itu, private goods merupakan antitesa dari public goods.

Jasa perhotelan tidak memenuhi dua kriteria tersebut untuk masuk ke dalam definisi public goods. Konsumsi seseorang terhadap jasa perhotelan tentunya akan mengurangi konsumsi orang lain terhadap jasa yang sama.  Sudah sering kita mendengar bagaimana turis kesulitan mendapatkan penginapan ketika musim libur telah tiba. Pengenaan tarif kamar juga merupakan alat termudah dalam mengecualikan seseorang menikmati jasa perhotelan.

Dengan tidak terpenuhinya jasa perhotelan sebagai public goods maka dapat dikatakan bahwa jasa perhotelan pada hakikatnya merupakan private goods. Sehingga dari sudut pandang ini tidaklah tepat apabila pemerintah akan masuk ke dalam produksi jasa yang sebenarnya dapat diproduksi oleh swasta.

Gagasan ini juga bertentangan dengan trend yang terjadi di seluruh dunia. Hampir di seluruh belahan negara pada masa sekarang menganut paham untuk mengurangi keterlibatan pemerintah terutama di sektor-sektor yang sebenarnya dapat dikelola oleh swasta karena swasta dianggap lebih efisien dalam melakukan produksi barang/jasa. Justru ketika pemerintah terlibat maka dapat menimbulkan apa yang disebut dengan government failure.

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | Tagged: , | 1 Comment »

Galungan dan Pemilu Kepala Daerah

Posted by I Wayan Agus Eka on May 18, 2010

Bulan Mei ini masyarakat Bali merayakan dua momen yang sangat penting. Momen pertama merupakan sebuah perhelatan demokrasi bertajuk pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) yang berlangsung serentak pada tanggal 4 Mei 2010 di lima kabupaten/kotamadya di Bali yaitu Karangasem, Denpasar, Badung, Tabanan dan Bangli. Sementara momen kedua adalah perayaan salah satu hari besar keagamaan yaitu hari raya Galungan dan Kuningan yang jatuh pada 12 dan 22 Mei 2010. Read the rest of this entry »

Posted in Daily Notes | Tagged: , | Leave a Comment »

Demokrasi Itu Mahal

Posted by I Wayan Agus Eka on May 18, 2010

Bulan Mei ini beberapa daerah tingkat II di Bali mengadakan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) secara serentak untuk pertama kalinya. Otonomi daerah yang kemudian diterjemahkan juga sebagai otonomi demokrasi atau desentralisasi demokrasi memang telah membawa perubahan yang cukup besar dalam proses demokratisasi di Negara demokrasi terbesar ke-4 di dunia ini. Arus reformasi telah membuka keran kebebasan yang selama 32 tahun tersumbat oleh kekuasaan absolut yang bernama orde baru. Rakyat Indonesia dilanda euphoria yang luar biasa karena mendadak mengalami kebebasan di segala bidang. Mereka tidak takut lagi untuk bersuara dan mengemukakan pendapat, mereka tidak khawatir dengan yang namanya pencekalan maupun pembredelan oleh pemerintah, ibarat orang buta yang tiba-tiba mendapat keajaiban untuk bisa melihat, begitulah kira-kira yang dapat menggambarkan proses tumbuhnya demokrasi di Negara ini. Read the rest of this entry »

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Merasakan Menjadi Hindu yang Sesungguhnya (sebuah catatan perjalanan)

Posted by I Wayan Agus Eka on May 9, 2010

Hari itu masih sore, matahari masih setia dengan tugasnya menyinari bumi ini dengan panasnya. Dua buah bus sudah terparkir di sisi jalan yang akan mengantarkan kami ke beberapa tempat suci di pedalaman Jawa Tengah. Ketika waktu menunjukkan sandikala, dua bus tadi memulai tugasnya membawa kami ke tempat tujuan. Ya, hari itu, Jumat 7 Mei 2010, saya dan puluhan rekan-rekan KMHB memulai sebuah perjalanan rohani menuju 3 buah pura di kota Klaten Jawa Tengah, sebuah perjalanan yang disebut dengan Dharma Yatra dan diamanatkan dalam kitab suci Weda.

Pura Pucang Sari, begitulah nama pura pertama yang kami kunjungi. Terletak di desa pucang dan berada di antara perkampungan penduduk dan sawah hijau di belakangnya. Kami disambut dengan senyum merekah dan wajah-wajah bahagia berjejer di sisi jalan sembari mengatupkan kedua telapak tangan di dada. Om swastiastu, begitulah salam yang keluar dari mulut saya dan sesekali menjabat tangan hangat mereka yang sebagian besar sudah mulai keriput dimakan usia, hanya sesekali saya melihat kumpulan pemuda belia berusia belasan tahun. Saya merasa sangat bersyukur dan tersanjung mendapat sambutan yang menurut saya luar biasa dari umat setempat. Di tengah kehidupan mereka yang sederhana dan sebagian besar berprofesi sebagai petani, mereka menunjukkan penghargaan mereka kepada tamu yang mengunjungi tempat mereka. Dari makanan yang tersaji, pakaian yang mereka kenakan, pura yang dihias sedemikian rupa, acara yang sudah tersusun rapi tampak bahwa mereka sudah mempersiapkan semua ini dengan matang dan seksama. Bahkan di antara umat yang menyambut kami, ada seorang nenek yang mungkin sudah berumur 90 tahunan dan hanya bisa berjalan dengan posisi punggung yang bungkuk, namun masih tetap menyambut kami di tengah keterbatasan kondisi fisiknya, sungguh merupakan sebuah penghargaan bagi kami semua.

Dari dialog dengan umat setempat, saya mengetahui bagaimana sejarah berdirinya pura ini, bagaimana umat setempat bertahan dalam Dharma di tengah berbagai macam tantangan yang harus dihadapi. Umat di pura ini tercatat sekitar 92 kk dengan kurang lebih 400 jiwa penduduk. Meskipun seringkali saya harus mengkerutkan dahi karena bahasa Indonesia yang mereka gunakan seringkali dicampur dengan bahasa Jawa yang saya tidak mengerti, namun inti pesan mereka dapat saya tangkap dengan baik. Dalam satu kesempatan, seorang tokoh pura pucang sari berpesan kepada kami sebagai calon pegawai di bidang keuangan agar selalu menjaga pikiran, perkataan dan perbuatan sehingga dapat mengabdi bangsa dan negara dengan baik, sebuah pesan yang merupakan intisari ajaran Tri Kaya Parisudha.

Perjalanan kami dilanjutkan di pura buwana pertiwi, sebuah pura yang letaknya sangat terpencil di bawah kaki sebuah bukit dan agak jauh dari pemukiman penduduk. Kami harus berjalan kaki sekitar 500 meter dari tepian jalan raya untuk mencapai lokasi pura ini. Sebuah candi gelung berwarna hitam dan menjulang tinggi menyambut kami sore itu di tengah cuaca yang cukup mendung, candi ini bermakna bahwa hendaknya setiap orang yang memasuki tempat suci memiliki pikiran yang terpusat ke Hyang Widhi. Meskipun tidak sebanyak pura sebelumnya, namun keramahtamahan umat setempat tetap menyambut kami dengan hangat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama dan penyerahan bantuan dari kami kepada pengemong pura. Namun ternyata di tengah-tengah kami juga kebetulan hadir seorang tokoh hindu dari Cirebon yang akrab disapa Romo Maming (maaf saya lupa nama diksa beliau). Romo Maming dikenal di kalangan Hindu sebagai tokoh pekerja yang membangun kembali Hindu di nusantara ini  melalui pengabdian beliau membangun tempat-tempat suci di pedalaman bagi pemeluk Dharma, sungguh merupakan anugrah yang tidak terkira dapat berjumpa dengan beliau, dan kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mendengarkan wejangan dari beliau.

Ditemani sepiring kacang rebus, setoples keripik singkong, dan beberapa buah pisang rebus yang disajikan saudara-saudara kami disana (ternyata setelah dihitung, saya menghabiskan satu buah pisang, keripik setengah toples dan segenggam kacang rebus, heheh, ternyata saya rakus), saya dan rekan-rekan dengan seksama menikmati wejangan dari Romo Maming di tengah mendung yang menggelayut dan suara binatang aneh yang kami perdebatkan setelah acara selesai (tenang kawan, rasanya itu bukan suara naga kok, hehe..). Romo Maming menceritakan bagaimana awalnya proses pembangunan pura ini yang ternyata baru berusia setahun dan bulan depan adalah piodalan perdananya. Dari wawancara dengan umat, saya mengetahui bahwa sebelum pura ini dibangun, para umat mengadakan persembahyangan secara bergilir dari satu rumah ke rumah lainnya atau dalam istilah mereka beranjangsana. Keberadaan pura ini bagi mereka adalah sebuah anugrah dari penantian mereka yang merindukan sebuah bangunan tempat suci dimana mereka dapat beribadah memuja Hyang Widhi Sesuhunan kita.

Romo Maming mengingatkan bahwa pertemuan ini merupakan salah satu sarana untuk menyatukan kembali umat Sedharma sebagaimana persatuan yang telah dicapai leluhur kita di masa lampau karena pada hakikatnya kita semua memiliki satu leluhur meskipun ada yang lahir di Bali, Jawa, Lampung dll. Romo maming juga menjelaskan tentang ajaran Tri Hita Karana sebagai ajaran yang diajarkan Sang Hyang Iswara kepada Sang Hyang Manu. Penerapan ajaran Tri Hita Karana ini, disadari atau tidak, telah kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, yadnya sesa adalah wujud dari penghormatan kita dalam hubungan manusia dengan alam tak kasat mata, nyepi dalam hubungan kepada Tuhan dan lingkungan, Tawur dalam hubungan ke alam bhuta dan ramah tamah seperti yang kita lakukan ini adalah wujud dari pelaksanaan ajaran tersebut dalam kaitannya dengan hubungan antar sesama manusia.Menjadi seorang Dharmaduta, begitulah kira-kira pesan Romo Maming kepada kita semua. Bahwa sebagai calon abdi negara tentunya menjalankan kewajiban kepada negara adalah tugas utama kita namun janganlah lupa tugas Dharma sebagai umat Hindu.

Matahari sudah terbenam dan kami harus melanjutkan perjalanan kami ke pura terakhir, Pura Satya Dharma Putra. Sampai di lokasi pura, kami disambut dengan masalah klasik negeri ini, ya, ada pemadaman oleh PLN, ternyata bukan hanya jakarta yang mengalami masalah serupa, ckckck..Meskipun di tengah kegelapan malam dan hanya diterangi sinar lilin dan handphone, saya dan kawan-kawan berusaha melangkahkan kaki menuju pura sambil berdoa supaya listrik kembali menyala. Ternyata doa kami terkabul, listrik kembali menyala dan kemi dapat melanjutkan acara kami meskipun sebagian besar belum mandi (gpp lah kawan-kawan, ga mandi sehari ga bakalan berubah jelek kok, heheh…)

Pinandita memulai acara dengan mengucapkan mantram-mantram suci diiringi kidung-kidung Jawa dari umat setempat. Dari pendengaran saya sepertinya mantram yang diucapkan sang pinandita berbeda dengan mantram yang sering saya dengar karena didominasi bahasa jawa. Namun di tengah-tengah mantram tersebut, sang pinandita seringkali mengulang-ulang nama STAN Jakarta dan saya meyakini bahwa beliau mendoakan kami yang dari STAN Jakarta supaya selalu dalam lindungan-Nya dalam menjalankan kewajiban kami, atur nuhun pisan. Selain itu ada beberapa teknis sembahyang yang sedikit berbeda dari yang biasa kami lakukan, namun tidak menghalangi kami untuk mengikuti prosesi upacara tersebut. Dari ketiga pura yang kami kunjungi hari itu, pura terakhir ini terkesan “Jawa Bangetttt”, betapa tidak sampai pada acara sambutan dari pihak pura pun, jujur saja saya tidak dapat terlalu menangkap bahasa yang disampaikan oleh seorang sesepuh pura. Tapi ada satu hal yang saya tangkap dari beliau ketika beliau memaparkan tentang Hinduisme dan pemeluk Hindu. Hinduisme menurut beliau adalah sebuah ajaran yang tidak hanya dianut oleh pemeluk Hindu itu sendiri namun sudah menjadi sebuah pegangan hidup bagi seluruh manusia di dunia ini tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Acara di pura terakhir ditutup dengan makan bersama. Oh ya, satu catatan tentang makanan daerah klaten, dari dua pura tempat kami makan, umat setempat menyajikan jenis sayur yang sama yaitu sayur daun pepaya (bahasa daerahnya katanya sayur kates). Namun bedanya, sayur kates di pura pertama agak manis jadi masih nyambung dengan lidah saya, namun di pura terakhir sayurnya super pahit jadi ga nyambung dengan lidah ini, untung aja ngambilnya dikit, maaf ya pak bu, bukan maksud saya tidak menghargai tapi seperti kata iklan, lidah memang tidak pernah bohong, hehehehe…

Makan malam di Pura Satya Dharma Putra mengakhiri perjalanan kami berDharma Yatra dan memulai perjalanan kami kembali ke kampus tercinta. Sebuah perjalanan yang sangat mengesankan dan memberikan makna dalam kehidupan saya. Perut ini mungkin dapat kenyang dengan makanan namun perjalanan ini merupakan makanan yang sangat sehat bagi jiwa ini yang senantiasa masih mencari dan mencari. Umat setempat mengajarkan kepada kami bahwa dalam kesederhanaan kita masih dapat memetik rasa persaudaraan dan kebersamaan dalam melaksanakan kehidupan beragama, bahwa dalam kesederhanaan mereka juga tumbuh rasa keikhlasan yang luar biasa untuk beryadnya meskipun ketiadaan harta benda dan sarana prasarana. Bagi saya, mereka mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan dengan hanya duduk di dalam kelas melihat white board yang dipenuhi dengan tulisan dari sang dosen, mereka mendidik saya tentang pelajaran hidup melalui indahnya persatuan dan semangat yang luar biasa untuk mempertahankan diri dari segala macam tantangan yang saya yakin sangat hebat yang harus mereka hadapi selama ini. Mereka adalah kumpulan penganut Dharma yang sudah mengalami ujian dan akan terus mengalami ujian, dan merekalah yang oleh Gede Prama disebut sebagai manusia yang selalu bertumbuh.

Terima kasih telah mengajarkan saya menjadi Hindu yang sesungguhnya.

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Negeri Para Penyampah (sebuah reotokritik dari “Negeri Para Bedebah”)

Posted by I Wayan Agus Eka on April 22, 2010

Tersebutlah negeri yang didalamnya hidup kaum penyampah

Negeri yang pernah bersatu dalam sumpah palapa

Yang lautnya ibarat jembatan ideologi dan bukan pemisah

Tahukah kamu apa ciri-ciri negeri penyampah???

Negeri yang kebenaran seolah-olah hanya datang dari pihak yang kalah

Negeri dimana mulut berkoar-koar seolah-olah tidak bersalah

Negeri dimana parlemen jalanan hanya bisa berserapah

Dan pilar demokrasipun hanya membela kepentingan yang memberi upah

Negeri yang elitenya hanya bisa menyumpah

Tanpa solusi namun selalu memberi masalah

Berusaha berkuasa namun tidak pernah mengalah

Maka bila negerimu dikuasai kaum penyampah

Kuatkan dirimu untuk tidak ikut basah

Gunakan pengetahuanmu untuk tidak menambah masalah

Berkepala dingin tanpa amarah

Dan berikan solusi bukan sekadar daging mentah

Karena kehancuran hanya datang dari sikap pasrah

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Ketika Politik Memperkosa Adat

Posted by I Wayan Agus Eka on April 7, 2010

Masuklah ke link ini dan Anda akan membaca berita perebutan kursi bupati di salah satu kabupaten di kampung saya. Hanya satu kata yang keluar dari mulut saya setelah membaca berita ini “GILA”, iya gila, tidak ada kata-kata lain yang pas untuk menggambarkan “kebiadaban” beberapa oknum yang memaksakan kehendaknya dengan menggunakan kedok adat dan awig-awig.

GILA karena keputusan yang dibuat benar-benar di luar nalar saya sebagai seorang manusia. Sebagai manusia memang kita ditakdirkan terikat dengan namanya aturan yang membelenggu perilaku kita sehingga muncullah lembaga pembelenggu yang membuat aturan tersebut yang dikenal dengan nama negara. Namun jangan pernah melupakan hakikat setiap manusia sebagai makhluk bebas, makhluk yang memiliki kebebasan untuk menentukan sikap dan pilihan tanpa harus dicampuri bahkan dipaksakan oleh orang atau lembaga tertentu termasuk di dalamnya kebebasan dalam menentukan pilihan dalam pemilukada.

Bertambah GILA ketika pemaksaan ini menggunakan sarana yang bernama adat lengkap dengan instrumen-instrumennya berupa pesangkepan, kelian adat, bendesa adat bahkan menggunakan awig-awig sebagai pecut yang akan mencambuk bagi yang melanggar keputusan. Denda 4 juta pun digunakan untuk menakut-nakuti seperti lelakut di tengah sawah.

Adat dan perangkatnya adalah komponen sakral pada tatanan sosiologis masyarakat di Bali, tidak bisa kita pungkiri bahwa adat beserta sanksinya mungkin lebih ditakuti oleh masyarakat Bali dibandingkan dengan hukum positif di negara ini. Kenyataan inilah yang dimanfaatkan oknum-oknum partai tertentu untuk memuluskan tujuannya karena keyakinan bahwa masyarakat pasti akan menurut daripada harus dikenakan sanksi kesepekang atau tidak diijinkan sembahyang di kahyangan setempat.

Adat haruslah steril dari kepentingan politik, adat harus tetap perawan dari kepentingan-kepentingan perebutan kekuasaan. Adat hendaknya tetap ditempatkan sebagai benteng kebudayaan dalam menjaga Bali sekarang dan di masa datang bukan sebagai sarana pemaksaan kehendak bahkan pemerkosaan pilihan politik. Saya hanya bisa menulis, saya hanya bisa mengeluh di blog ini, namun saya tidak diam.

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 4 Comments »