DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Archive for the ‘Daily Notes’ Category

Merdeka*

Posted by I Wayan Agus Eka on August 17, 2011

*syarat dan ketentuan berlaku

 

Kalau kita menanyakan kepada masyarakat apakah kita sudah merdeka saya meyakini jawabannya adalah belum. Tokoh-tokoh masyarakat, politisi, pengusaha, kaum terpelajar sepertinya sepakat bahwa bangsa ini belum merdeka sama sekali. Alasan yang dikemukakan sederhana, kita belum berhasil mencapai cita-cita bangsa sebagaimana diamanatkan dalam paragraf terakhir pembukaan UUD 1945. Bangsa ini belum mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya, belum mampu mencerdaskan seluruh lapisan masyarakatnya dan belum mampu melindungi seluruh warga negaranya. Sederet kalimat terakhir inilah yang menyimpulkan bahwa merdeka hanya dicapai jika syarat dan ketentuan tersebut terpenuhi.

Ijinkan saya untuk berbeda pandangan dengan pemikiran mainstream tersebut. Saya, dalam berbagai kesempatan terutama ketika bulan kemerdekaan tiba seringkali merenung, kapan sebuah bangsa dikatakan makmur? kapan sebuah bangsa disebut cerdas? kapan sebuah bangsa dianggap melindungi seluruh rakyatnya. Apakah ketika tidak ada kemiskinan atau kebodohan kita dapat dikatakan mencapai cita-cita kita? lalu kapan kemiskinan dan kebodohan itu benar-benar lenyap? apakah ketika seluruh rakyat memiliki penghasilan di atas 5 juta sebulan atau ketika seluruh rakyat minimal berpendidikan SMA? dan kalimat-kalimat menyangkut definisi makmur, cerdas, miskin, dll terus-menerus berlari dalam pikiran ini.

Saya lalu mengambil contoh negara lain, coba tunjuk satu negara di dunia ini yang menurut anda sudah sejahtera, cerdas dan melindungi warganya. Kita ambil saja Amerika Serikat, benarkah rakyat Amerika sudah sejahtera, cerdas dan melindungi semua bangsanya? pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa ada sebuah sekolah disana yang rusak dan hanya berjarak beberapa blok dari White House? Atau mengenai kemiskinan yang dialami kaum Africa-America disana?

Pikiran saya terus berputar untuk menemukan kondisi yang dicapai suatu negara sehingga kita pantas untuk mengatakannya sejahtera, cerdas dan melindungi rakyatnya. Namun semakin keras otak ini berputar, semakin sulit untuk menemukannya, bahkan untuk mengimajinasikannya pun saya tidak sanggup.

Bertolak dari kemustahilan untuk mendefinisikannya itu, saya tidak akan menyimpulkan bahwa cita-cita kita adalah mustahil namun saya justru akan mengubah cara pandang saya mengenai arti dari kemerdekaan itu sendiri. Saya tidak lagi mendefinisikan kemerdekaan sebagai sebuah hasil yang ingin kita capai, tidak lagi mendefinisikan kemerdekaan sebagai sejahtera atau cerdas, namun saya mendefinisikan kemerdekaan sebagai sebuah proses. Kita semua “merdeka” untuk melakukan segala upaya yang terbaik di bidang kita masing-masing untuk mencapai apa yang disebut dalam alinea ke-4 pembukaan UUD 45, kita semua “merdeka” untuk berusaha sekuat tenaga mencapai kesejahteraan dan kemandirian bangsa.

Inilah arti merdeka bagi saya, dan ketika saya mendefinisikan merdeka dengan seperti ini maka saat ini juga saya mengatakan bahwa kita semua sudah merdeka. Dan ijinkan saya kemudian untuk menghapus tanda (*) pada judul artikel ini karena saya dan anda semua telah merdeka, ya telah merdeka tanpa syarat apapun. Merdeka

I Wayan Agus Eka

 

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Jangan Hapuskan Soal Ujian Itu

Posted by I Wayan Agus Eka on July 31, 2011

Tersebutlah dua keluarga yang memiliki anak masing-masing Angga dan Bayu. Keduanya tahun ini genap berusia 18 tahun dan akan melalui tahun pertamanya di perguruan tinggi.

Orang tua mereka sangat bangga dengan anak-anaknya, semua perlengkapan kuliah dibelikannya, bahkan sampai mainan PS3, gadget ipad, smarthphone, mobil dan lain sebagainya.

Perlakuan kedua orang tua mereka pada anaknya sebenarnya sama kecuali satu hal ketika anak-anaknya akan menghadapi ujian di kampusnya. “Selama kamu UTS dua minggu mendatang, handphone, PS, Ipad, televisi di kamarmu, mobil dan barang-barang lainnya bapak sita supaya kamu fokus. Bapak tidak mau kamu menghabiskan waktumu dengan semua barang-barang tadi dan mengganggu waktu kamu belajar.” begitulah bapak si angga berkata pada anaknya.

Namun lain halnya dengan ortu angga, bapak si bayu berujar “Nak, kamu sudah dewasa, sudah mengerti mana yang baik mana yang buruk, sudah bukan saatnya lagi Bapak menyita barang-barangmu seperti dulu ketika kamu hendak ujian. Semua Bapak serahkan padamu, kamulah yang memutuskan. 2 minggu ke depan kamu tidak hanya akan menghadapi ujian di kampusmu, tapi kamu juga akan diuji tingkat kesabaran dan kedewasaanmu. Kalau bapak menyita barang-barangmu seperti dahulu kamu tidak akan pernah mengalami ujian melawan hawa nafsumu karena bapak sudah menyingkirkan sang soal terlebih dahulu sebelum lonceng pertanda ujian dimulai berdentang dan alhasil bapak tidak akan pernah melihat anak kebanggaan bapak naik kelas dan lulus.”

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Saraswati: Saatnya Mengenal Diri

Posted by I Wayan Agus Eka on April 23, 2011

Momen hari raya Saraswati selalu membawa saya kembali ke masa kecil ketika memaknai hari ini sebagai hari ke sekolah dengan memakai pakaian sembahyang, membawa banten dan tidak boleh membaca buku seharian. Bagi yang bekerja, hari ini pula dimaknai sebagai hari untuk menghaturkan bakti di tempat mereka bekerja masing-masing, apalagi bagi pegawai negeri yang umumnya mengadakan persembahyangan bersama di padmasana tempat mereka bekerja.

Ritual di atas menandakan bahwa saraswati identik dengan tempat di mana sumber-sumber pengetahuan itu didapatkan. Sekolah adalah simbol sumber pengetahuan bagi anak-anak SD, SMP, SMA, sementara perguruan tinggi adalah bagi mereka yang mahasiswa serta kantor adalah bagi mereka yang sudah bekerja. Di tempat-tempat inilah kita semua mendapatkan ilmu yang memberikan kita pengetahuan dari seseorang yang “kosong” menjadi “berisi”.

Kita mengidentikkan tempat-tempat ini sebagai sumber ilmu karena umumnya kita mendefinisikan ilmu sebagai sesuatu yang harfiah. Matematika yang kita dapatkan di sekolah bagi kita adalah ilmu karena membuat kita mengetahui bagaimana cara menghitung luas, perkalian, pembagian dll. Bahasa Indonesia kita pandang sebagai ilmu karena membuat kita mampu menguasai sarana komunikasi selain bahasa ibu kita dan seterusnya.

Singkat kata definisi ilmu itu umumnya bermakna ke luar, bermakna bahwa kita mencari sesuatu di luar diri kita yang tidak kita ketahui sehingga dengan mendatangi sekolah maupun perguruan tinggi maka tempat itu akan membuat kita menguasai ilmu tersebut. Tanpa kita sadari, sedari kecil kita terlalu disibukkan dengan kegiatan mencari ilmu “luar” ini sehingga sadar ataupun tidak kita lupa untuk mempelajari diri kita sendiri.

Ya, diri ini juga merupakan sumber ilmu yang harus dipelajari. Tempatnya bukan di sekolah maupun di perguruan tinggi namun di setiap jengkal bumi ini adalah “sekolah” untuk mempelajari ilmu ini. Gurunya bukan guru waktu kita SD maupun dosen, namun gurunya adalah setiap umat manusia yang ada di dunia ini. Setiap manusia baik yang berinteraksi langsung dengan kita maupun tidak bagai sebuah cermin yang membantu untuk melihat diri ini sebenarnya, membantu kita mengenali sifat kita sebenarnya dan memperbaiki kekurangan dalam diri ini, membantu mengenali kelebihan diri ini untuk kemudian menularkan ilmu kelebihan ini kepada sesama.

6 tahun di sekolah dasar, 6 tahun di smp dan sma, 5 tahun di perguruan tinggi, jadi sudah total sekitar17 tahun saya habiskan untuk mencari ilmu di luar diri ini, mungkin hanya secuil di antara periode waktu tersebut yang saya gunakan untuk mencari ilmu di dalam diri ini. Semoga sisa waktu yang ada masih cukup bagi saya dan kita semua untuk mengenal diri ini sehingga ketika suatu saat kita lulus, kita semua mampu menularkannya kepada seluruh umat manusia sama halnya ketika Saraswati menurunkan ilmu kepada umat manusia, dan ketika masa itu tiba maka setiap detik adalah perayaan turunnya ilmu pengetahuan.

Rahajeng rahina Saraswati, dumogi rahayu kepanggih sareng sinamian

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 2 Comments »

Ujian Ikhlas-Sebuah Remidi

Posted by I Wayan Agus Eka on February 20, 2011

Hari ini kembali aku diuji akan suatu hal yang sama. Iya, aku memakai bahasa “kembali” karena ini sudah berulang-ulang terjadi di periode nafas ini. Meskipun sudah berulang namun masih saja soal ujian kali ini terasa sangat susah, bahkan mungkin paling susah. Ga cukup sebuah persiapan matang untuk menyambutnya apalagi hanya sekedar kristal-kristal yang membuncah untuk mendinginkannya.

Ya, kembali aku ujian yang namanya ikhlas. Ujian keikhlasan atas sebuah objek yang sama berkali-kali dan terus mengulang-ulang. Tuhan mungkin sayang sama aku sehingga dia uji aku terus-menerus, tapi saking sayangnya mungkin Tuhan ingin aku tetap di kelas ini sehingga Dia tetap bisa melihatku terus-menerus, entahlah.

Meskipun sudah kali ke sekian, perasaan tegang tetap ada, tangan gemetaran, badan panas dingin, nafsu makan berkurang, persis kondisi ketika seorang mahasiswa akan menghadapi ujian akhirnya. Dan benar saja, ketika soal sudah dibagikan, mata ini tiba-tiba menjadi gelap, tanganpun tak henti-hentinya mengurut dada, sabarr..sabarr, begitu gumamku dalam hati.

Kalau pada ujian sebelumnya aku dengan mudah bisa menebak jawabannya, namun kali ini sungguh di luar dugaan. Apa yang aku sangka sebagai jawaban justru bukanlah jawaban, aku terjebak, iya, aku terjebak dalam permainan Sang Penguji. Dia begitu pandai membuat soal yang seolah-olah gampang aku jawab, namun di balik itu semua ada lubang menganga yang tertutup rumput yang siap menjatuhkan aku ke tempat terdalam, seperti sebuah batu yang pada awalnya dilemparkan sekuat tenaga ke langit dan begitu sampai puncak tertinggi akan terhempas ke bumi dengan benturan yang sangat dahsyat, sakit, iya sakit sekali.

Mungkin di ujian sebelumnya aku belum lulus sepenuhnya sehingga aku harus menjalani remidi ini. Sang Penguji artinya masih berbaik hati memberi kesempatan kembali untuk mengulang mata kuliah ini, dia tidak langsung men-DO aku sebagaimana mahasiswa-mahasiswa lainnya. Apakah kali ini aku akan lulus??? awighnam astu

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 2 Comments »

Anak itu bernama Siwa

Posted by I Wayan Agus Eka on February 19, 2011

Hari ini seperti sabtu pada minggu-minggu sebelumnya adalah saat untuk bangun agak siang, maklum selama 5 hari harus bangun pagi, jadi merasa berhak untuk bangun siang di hari sabtu, hehehehe…Tapi ketika bangun tiba-tiba langsung ada keinginan untuk tangkil sembahyang ke gunung salak, sebuah keinginan yang sebenarnya tertunda-tunda terus dengan berbagai macam alasannya. Tas ransel pun disiapkan, pakaian sembahyang dimasukkan, tidak ketinggalan satu buah buku buat bahan bacaan nanti disana.

Setelah menempuh perjalanan naik motor sekitar 2 jam dengan sekali beristirahat di bogor buat minum dan cuci muka, akhirnya tiba juga di parahyangan agung jagatkarta. Bergegas kemudian mengganti pakaian dan menuju pelataran pura untuk sembahyang. Cuacanya cukup sejuk meski nyampe sana pas jam 12 siang sehingga sembahyang bisa lebih kusyuk dan pikiranpun menjadi lebih tenang.

Selesai sembahyang seperti kebiasaan yang sudah-sudah, saya menuju ke sisi luar pura, duduk di sebuah balai kecil. Buku yang saya bawa pun saya keluarkan dan kemudian mulai membuka halamannya satu persatu. Di seberang sana kemudian muncul seorang anak laki-laki berpakaian adat sembahyang yang saya sudah tahu namanya Dharma, dia kemudian berjalan ke arah saya.

“Dik, biasanya kamu kan jualan peyek kan, skrg kok ga bawa?” tanya saya membuka obrolan

“Bawa kok kak, bentar ya.”

Bergegas dia memanggil sang adik yang juga saya sudah tahu namanya siwa

“nama kamu siwa kan dik?”

“iya kak.”

“berapa satu kripiknya?”

“lima ribu”

“kasi saya dua ya”

saya serahkan uangnya ke dia, dan kemudian mulailah saya memakan kripik itu untuk mengganjal perut karena kelupaan membawa makan siang, gpp lah, ga ada nasi kripikpun jadi. Dan, percakapan itupun dimulai

“kelas berapa dik” tanya saya

“satu smp”

“trus kakakmu kelas berapa?”

“kelas 5 sd”

ternyata meskipun berstatus sang kakak, tp kakaknya ternyata sangat disayang gurunya sehingga ga dikasi naik kelas, hehehehe, kidding

“trus skrg ga sekolah?”

“ga kak, tadi telat bangun.”

“kamu tiap hari jualan disini”

“iya”

“bawa berapa bungkus biasanya?”

“20 bungkus”

“trus, abis ga biasanya”

“kadang-kadang sih kak”

“trus, hari ini sudah laku berapa”

“dua kak”

jadi hari ini saya adalah pembeli pertamanya, kasian.

“aku itu 6 sodara kak, adikku yang paling kecil baru 4 bulan” tanpa saya tanya dia bercerita

“trus orang tua kerjanya apa”

“ya buat kue-kue aja”

“ga ada nanem-nanem apa gitu di rumah”

“nanem?lha itu tanah siapa kak!!!”

dia sekeluarga tinggal di sebuah gubug kecil yang kelihatan jelas di pinggir sebuah jembatan di jalan menuju pura. Saya langsung teringat ketika saya dulu beberapa kali melewati rumahnya setelah selesai sembahyang, di sana biasanya sang ayah ada di pinggir jalan kemudian mengatupkan tangannya seraya mengucapkan terima kasih dan selamat jalan kepada setiap umat yang sembahyang disana.

Dari seorang teman saya sedikit mengetahui kisah keluarga mereka. Mereka dahulu sebenarnya hidup berkecukupan, namun karena suatu sebab yang sayapun tidak mengetahuinya mereka kehilangan semuanya dan kemudian tinggal di tempat sekarang selama 4 tahun terakhir.

Obrolan saya dengan siwa pun berlanjut ke kegiatan dia sehari-hari. Saya pun tahu kalau uang sakunya tiap hari 5 ribu itupun harus dipotong 4 ribu untuk sewa angkot, uang spp nya 35 ribu sebulan.

Satu hal yang berkesan dari si anak bernama siwa itu adalah, di balik apa yang sering kita sebut sebagai kekurangan dia memiliki apa yang seringkali tidak kita punyai disaat kita menyebut diri kita berkecukupan. Di usianya yang masih belasan dia sudah hidup di dua periode kehidupan, dia pernah sangat berkecukupan dan skrg dia dalam keterbatasan. Namun di saat dia dan keluarganya hidup di fase terbawah seperti sekarang dia tidak kehilangan senyum, kegembiraan, kesenangan dan yang terpenting dia tidak kehilangan rasa berkecukupan atau syukur.

Di saat terpuruk tapi tetap bersyukur, ya itulah siwa, seorang anak kecil yang hari ini menemani saya hari ini dan mengisi ruang-ruang spiritual di dalam diri saya. Suksma

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 2 Comments »

Civil Failure

Posted by I Wayan Agus Eka on December 6, 2010

“ini adalah kegagalan pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya”, “pemerintah tidak becus mengurus negara ini”, “DPR juga menjadi rumah bagi para koruptor”, itulah beberapa kritikan (kalau memang tidak mau disebut sebagai hinaan) yang sering rakyat sampaikan dalam kesempatan apapun yang kalau mau diperpanjang mungkin tidak akan pernah ada habisnya. Kebebasan berpendapat di negeri ini bagai anak bayi yang baru lahir yang selalu akan menangis, menangis bukan hanya dikala dia sedih tapi juga menangis dikala senang bahkan dikala tidak terjadi suatu apapun. Tangisan seorang bayi yang baru lahir menandakan dia lahir sehat, mudah-mudahan dengan kebebasan berpendapat ini, menandakan sehatnya kelahiran sebuah demokrasi di negara ini.

Sudah lebih dari satu dekade kita baru menikmati apa yang kita sebut sebagai demokrasi setelah lebih dari 3 dasawarsa terkungkung oleh apa yang kemudian kita sebut diktator yang berbungkus demokrasi. Namun ketika kita memutar kembali memori kita selama 12 tahun usia demokrasi ini, rasanya apa yang kita rasakan masih jauh dari harapan, bahkan mungkin harapan itu semakin bertambah jauh. KKN yang menjadi musuh bersama reformasi kembali muncul dengan berbagai wajah barunya dan mungkin semakin dahsyat dibandingkan sebelum reformasi. Apatisme rakyat semakin menjadi-jadi kepada pemerintah sehingga apapun yang dilakukan pemerintah praktis rakyat sudah tidak memberikan kepercayaan. Sebaik apapun program pemerintah pasti ada saja celah untuk dikritik bahkan dicaci.

Apa yang kita sebut sebagai demokrasi yang tumbuh di Indonesia ini ibarat lingkaran setan yang tidak memiliki awal dan akhir. Rakyat terhimpit dengan kebutuhan hidup lalu kemudian memilih calon wakil dan calon pemimpin yang berani memberi uang. Begitu terpilih mereka kemudian berusaha mengembalikan modal dengan berbagai cara dan korupsi adalah cara paling utama. Apa yang dikorupsi tersebut sebenarnya merupakan hak rakyat yang seharusnya mereka nikmati melalui budget dan program pemerintah. Ketika rakyat tidak menikmati haknya lalu kebutuhan mereka tidak terpenuhi lagi, munculah sikap apatis tadi dan lingkaran setannya mulai lagi seperti semula. Hal ini terus-menerus berlangsung tanpa kita sadari.

Lingkaran setan tadi memunculkan apa yang dalam teori public finance disebut sebagai government failure, namun failure dalam bahasan saya ini saya artikan lebih luas, tidak hanya dalam arti kegagalan intervensi pemerintah ke dalam pasar sebagaimana arti sebenarnya dalam teori public finance namun juga kegagalan pemerintah dalam mewujudkan cita-cita bangsanya sebagaimana diamanatkan konstitusi.

Sebagian besar di antara kita menganggap Government failure sebagai sebuah sebab atau dalam istilah statistiknya disebut sebagai problems. Kemiskinan adalah kegagalan pemerintah, pengangguran, ketidakberdayaan, pelecehan negeri tetangga bahkan bencana alampun kita sebut sebagai kegagalan pemerintah. Namun sedikit yang menganggap bahwa government failure sebenarnya merupakan sebuah gejala (dalam istilah statistik disebut sebagai symptoms). Lalu apakah real problemnya???real problemnya adalah kita semua, saya, anda dan semua rakyat Indonesia. Kitalah yang sebenarnya memiliki kekuatan untuk memutuskan lingkaran setan tadi, bukan pemerintah. Kitalah yang harus memupuk kesadaran untuk memotong lingkaran setan tadi bukan pemerintah, karena itulah inti dari demokrasi yang selama ini kita anggap sudah lahir di negeri ini. Karena kitalah pusat demokrasi itu maka kitalah penanggung jawab dari semua kegagalan yang ada termasuk government failure. Government failure di negara ini hanya sekedar gejala, tapi penyebab utamanya adalah civil failure, kegagalan anda, kegagalan saya dan kegagalan kita semua. Kita gagal untuk menciptakan pemerintahan dan parlemen yang bersih karena kita juga tidak bersih ketika memilihnya, kita gagal mewujudkan negara yang maju karena suara kita seringkali hanya seharga nasi bungkus, kaos, sembako dan uang sepuluh ribu rupiah. Inilah yang saya sebut sebagai civil failure.

Mari kita putuskan lingkaran tadi bersama-sama, keep positive.

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 1 Comment »

sukses adalah bersyukur dan melakukan yang terbaik

Posted by I Wayan Agus Eka on November 29, 2010

“Wah, sekarang kamu udah sukses ya ka!!”pertanyaan yang berulang kali diucapkan kalau bertemu dengan kawan-kawan lama. Seketika itu pula pikiran ini mencoba mencari jawaban, apa sih yang definisi sukses menurut mereka. Padahal kalau ukurannya harta, saya jauh dari kriteria sukses, apa yang mereka miliki jauh melebihi apa yang saya punya.

Ya, setiap orang dalam hidupnya pasti akan berusaha mencapai kesuksesan, tentunya dengan definisi masing-masing. Ada yang mendefinisikan sukses kalau dia mampu menyekolahkan anaknya, ada yang mendefinisikan kenaikan jabatan, dan mungkin sebagian besar dari kita mendefinisikan sukses itu adalah harta yang kita miliki sekarang. Tidak salah memang, setiap orang berhak mendefinisikan sukses itu sesuai keyakinannya masing-masing. Namun pernahkah kita menyelami definisi-definisi itu satu-persatu bahwa itu semua berasal dari luar diri kita.

Harta, jabatan dan bahasa sejenis lainnya semuanya berusaha memuaskan indria kita dengan kemilaunya masing-masing. Namun ketika harta dan jabatan itu bertemu dengan sifat dasar manusia yang tidak pernah puas maka dia akan menjadi air laut yang akan selalu membuat sang pelaut yang meminumnya merasa kehausan. Ketika sudah punya motor lalu ingin mobil, ketika sudah punya mobil ingin mobil yang baru lagi dan demikian seterusnya tidak akan pernah ada ujungnya.

Lalu dimanakah sukses itu berada? sebenarnya ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, entah itu jabatan atau harta, maka disana juga tersirat makna sukses. Namun makna sukses bukan melekat pada benda-benda itu, tapi melekat pada respon kita kepada benda-benda duniawi itu. Ketika kita mampu meresponnya dengan ucapan syukur maka disanalah makna sebuah kesuksesan. Syukur akan membawa jiwa ini kepada rasa berkelimpahan yang melebihi nilai harta/jabatan yang kita peroleh. Syukur akan mengajarkan diri kita untuk merasa cukup dan tidak serakah.

Ya, syukur adalah rasa berkecukupan. Cukup disini bukan berarti bahwa kita berhenti bekerja atau berbuat, tidak sama sekali. Cukup disini adalah melatih diri ini untuk membunuh rasa rakus dan iri hati. Tugas kita tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, anda yang petani akan bekerja sebaik-baiknya sebagai petani, anda yang pedagang akan menjadi pedagang yang baik sekuat anda, saya yang abdi negara akan sebaik-baiknya melakukan tugas, nah ketika kita mampu melakukan apa yang menjadi tugas kita sebaik-baiknya maka harta/jabatan akan datang dengan sendirinya, tapi satu hal yang harus dicatat bahwa kita bekerja bukan untuk harta/jabatan itu. Bekerja ya bekerja, sesederhana itu.

Lalu bagaimana dengan ambisi? banyak orang yang mengatakan bahwa kunci sebuah kesuksesan terletak pada kuatnya ambisi yang ada di dalam diri, ambisi bagai bahan bakar yang akan melecut seseorang untuk melakukan sesuatu dengan luar biasa. Tidak salah memang bahwa ambisi memiliki peran seperti itu, sampai tahap tertentu ambisi adalah sesuatu yang sangat baik bahkan sangat diperlukan. Namun ketika melewati titik tertentu, dia akan tumbuh menjadi keserakahan, dia akan menjelma menjadi kerakusan dan akan berkembang biak menjadi penghalalan segala cara. Jadi kunci sebuah kesuksesan bukan pada ambisi, kuncinya pada sikap melakukan tugas kita masing-masing dengan sebaik-baiknya dan pada saat yang bersamaan mensyukuri apapun hasil yang kita dapatkan termasuk ketika tidak menghasilkan apapun (gagal). Melatih diri untuk terus bersyukur dan selalu berbuat yang terbaik adalah kunci kesuksesan, dengan definisi seperti ini maka kesuksesan bukan sesuatu yang abstrak di masa depan tapi realita di masa kini. Bukan bermaksud menggurui saudara-saudaraku semua, saya juga masih dalam tahap belajar meresapi definisi ini. Salam sukses.

I Wayan Agus Eka

 

 

 

Posted in Daily Notes | 1 Comment »

Belajar dari Sang Tukang Parkir

Posted by I Wayan Agus Eka on August 27, 2010

Sejenak mata ini menoleh ke pergelangan tangan, ahhh sudah jam 7 malam ternyata, lalu secepat kilat saya habiskan beberapa potong pisang bakar keju di hadapan saya, menu kedua buka puasa (padahal ga puasa dink, hehehe) setelah nasi goreng yang saya nikmati di sebuah tempat nongkrong di bilangan Al-Azhar yang sebenarnya lebih terkenal dengan roti bakarnya. Kaki ini pun kemudian melangkah pelan menuju tempat parkir motor sambil menghirup udara jakarta yang kali ini terasa sangat segar setelah dibasahi hujan, seakan mengerti bahwa seorang anak manusia di bawah sana yang dari semenjak pagi dihadapkan pada sebuah ujian kesabaran yang membuat tangan ini selalu mengurut dada.

Kunci motor kuambil, kemudian gembok motor kubuka dan jaket tipispun aku kenakan. Di seberang sana kurang lebih 3-4 meter tampak seseorang dengan pakaian khas tukang parkir sedang sibuk membantu seorang pelanggan yang hendak memarkir motornya. Cukup susah payah tampaknya sang tukang parkir menarik-narik motor tersebut karena sempitnya tempat yang tersedia dan kondisi lahan yang masih basah. Perlengkapan sudah aku kenakan dengan lengkap, tinggal memakai helm saja, dan sang tukang parkirpun melangkahkan kakinya ke arahku.

Sejurus kemudian aku merogoh dompet bersiap-siap mengeluarkan uang ongkos parkir. Semua tampak berjalan sebagaimana biasanya sampai saat aku menyerahkan selembar uang 5 ribu dan sang tukang parkir kemudian menerimanya. Tapi yang membuat aku tersentak dan seperti tersambar adalah bagaimana cara bapak itu menerima uangku. Dijulurkan tangan kanannya sembari tangan kirinya memegang tangan kanannya, kemudian sedikit direndahkannya tubuhnya dan dari bibirnya terdengar jelas “maaf pak”. Sungguh sopan sekali bapak ini, diperlakukan demikian aku langsung mengalihkan pandangan memandangi wajahnya dan benar saja,  rona muka bapak ini memberi kesan yang berbeda, tenang, kalem, senyum seolah-olah tiada beban dan sangat menikmati profesinya itu. Mendadak lamunanku hilang ketika beliau menjulurkan tangannya dengan cara yang sama ketika dia menerima uangku sambil berujar “maaf pak, ini kembaliannya”.

Tidak hanya berhenti disana ternyata, ketika aku sudah menaiki motor, di depanku ada sepasang kakek nenek mau menyeberangi jalan, sontak bapak tukang parkir itu langsung memasang badan di tengah jalan menyetop kendaraan yang lewat memberikan ruang  bagi kakek nenek itu untuk melintas. Ketika aku dan motorku mau menyeberangpun, beliau juga melakukan hal yang sama dan yang luar biasa aku dengan sangat jelas mendengar ucapan “terima kasih” dari bapak itu ketika aku dan motorku menyeberangi jalan.

Ahhh.. sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa menurutku dan aku yakin bukan hanya aku yang pernah mengalami peristiwa ini. Hanya menerima 1000 rupiah dariku namun aku mendapatkan lebih dari selembar uang seribu itu, hanya menerima lambaian tangan dari sang kakek nenek namun hal tidak membuat bapak tukang parkir ini kemudian memperdebatkan masalah keadilan, karena dia tidak paham apa yang namanya keadilan, dia tidak paham apa yang sering kita sebut dualitas hak dan kewajiban, karena baginya hanya ada satu, keluasan keikhlasan yang luar biasa yang dia wujudkan melalui pengabdian yang tulus pada profesi tukang parkir yang seringkali kita pandang sebelah mata.

Malam ini tidak hanya perutku yang kenyang, namun bapak tukang parkir itu telah memberi makanan bagi jiwaku. Terima kasih

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 7 Comments »

Redefinisi Merdeka

Posted by I Wayan Agus Eka on August 16, 2010

65 tahun sudah kita menikmati apa yang kita definisikan sebagai merdeka. Sebelum 1945, merdeka bermakna melepaskan diri dari penjajah. Penjajah pun bermakna harfiah yaitu bangsa yang menjejakkan kakinya di bumi pertiwi dan menguras seluruh harta bangsa ini. Perjuangan mencapai kemerdekaan pun dilakukan sebagian besar melalui angkat senjata dengan nyawa adalah taruhannya. Perjuangan mencapai kemerdekaan saat itu tidak hanya dilakukan oleh para pemimpin saja, namun oleh segenap rakyat tanpa memandang suku, status sosial, agama dll. Semuanya bersatu padu berjuang sekuat tenaga untuk mengusir penjajah. Tidak ada perpecahan, karena semuanya memiliki satu tujuan, satu nafas perjuangan dan satu cita-cita, indonesia merdeka.

Setelah kita merdeka dalam definisi yang pertama, maka kemudian makna merdeka mengalami pergeseran. Meskipun merdeka dalam definisi ini masih berkutat dalam perjuangan melawan penjajah namun penjajah yang kita hadapi bukan lagi berwujud bangsa lain yang menduduki indonesia secara fisik namun berwujud kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan bahasa-bahasa lain yang semakna dengan itu. Dalam hal tersebut di atas maka ada benang benang merah yang jelas antara definisi apa yang menjajah bangsa ini sebelum dan sesudah proklamasi, ada kesamaan makna antara bangsa yang menjajah dahulu dengan kemiskinan, ketidakadilan dll yang menjajah kita sekarang.

Namun ada satu benang merah yang terputus antara definisi merdeka sebelum dan sesudah proklamasi. Benang yang putus itu adalah definisi pejuang itu sendiri. Dahulu seluruh rakyat indonesia adalah pejuang yang tangguh memerangi penjajah untuk mencapai kemerdekaan, semua rakyat tanpa kecuali bersatu padu memikul beban sesuai dengan kemampuannya untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Namun sekarang rasanya persatuan para pejuang itu sudah luntur. Komponen bangsa ini terlalu sibuk untuk saling menyalahkan kenapa bangsa ini belum “merdeka”, terlalu sibuk mencari kambing hitam siapa yang bertanggung jawab atas masih adanya kemiskinan, kemelaratan dll. Pejuang pada masa sekarang hampir selalu diasosiasikan dengan pemerintah saja, sehingga pemerintahlah yang menjadi kambing hitam ketika “kemerdekaan” belum bisa tercapai. Hujatan-hujatan seringkali dialamatkan kepada pemerintah yang dinilai tidak becus dalam mengusir “sang penjajah” dari negeri ini.

Mengapa kita masih mengalami “penjajahan”? Tidak lain karena kita tidak bersatu, kita tidak merasa memiliki satu tujuan “kemerdekaan” sebagaimana pejuang dahulu. Pejuang kemerdekaan yang dahulu adalah seluruh rakyat indonesia tidak berlajut ketika kita menghadapi penjajah bernama kemiskinan dll, makna “pejuang kemerdekaan” sekarang hanyalah segelintir orang-orang yang sering dihujat dan dikritik tanpa batas karena dianggap gagal “memerdekakan” Indonesia. Padahal untuk mencapai “kemerdekaan” setelah proklamasi ini, pejuang yang bermakna seluruh komponen bangsa merupakan syarat yang utama. Sehingga,  Pemerintah, Saya,  dan Anda semua adalah pejuang itu persis ketika seluruh komponen bangsa ini mengusir penjajah dahulu kala.

Menyadari hal ini akan menjadi tidak elok ketika kita hanya menyalahkan salah satu pihak ketika sang penjajah (baca: kemiskinan, kebodohan dll) masih merongrong negeri ini. Salahkanlah kita semua, salahkanlah saya dan anda, karena saya dan anda juga pejuang itu dan ini adalah perjuangan kita bersama, Bangsa Indonesia. MERDEKA

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 2 Comments »

Hari Ulang Tahun, Lupakan Kelahiran Maknai Kematian

Posted by I Wayan Agus Eka on August 3, 2010

“Tepat 26 tahun yang lalu lahirlah seorang anak manusia yang kemudian dikenal dengan nama…..” mungkin begitulah ungkapan yang sering kita dengar ketika seseorang berulang tahun. Tidak ada yang salah memang dalam ungkapan tersebut karena ulang tahun yang kita kenal umumnya dimaknai sebagai peringatan hari kelahiran kita, sebuah hari yang begitu bersejarah yang menandai kelahiran seorang anak manusia.

Namun mungkin sedikit sekali orang yang menyadari untuk memaknai kematian dalam setiap hari ulang tahunnya. Pemikiran yang sangat radikal memang bahkan bisa dikatakan nyeleneh dan tidak populis untuk memaknai sebuah hari yang sangat membahagiakan. Seberapa sadar kita bahwa dibalik pemahaman bertambahnya umur saat berulang tahun, namun pada saat yang sama juga terselip makna implisit bahwa ulang tahun juga berarti mendekatnya kita kepada akhir perjalanan kita sebagai manusia. Ya, bertambahnya umur juga berarti berkurangnya umur di lain sisi, persis seperti kita memaknai sebuah gelas yang berisi air separuh, kita bisa mengatakan gelas tersebut separuh penuh namun jangan salahkan ketika ada yang mengatakan gelas itu separuh kosong.

Berbagai keyakinan (baca:agama) mengajarkan hal yang sama bahwa umur manusia sudah dituliskan dalam satu kata yang disebut takdir. Tidak ada yang tahu kapan kita akan dijemput malaikat maut, mungkin sedetik nanti, besok, sebulan lagi atau puluhan tahun lagi, namun inilah jenis kepastian yang mutlak yang di dunia ini.

Lalu, mengapa mengidentikkan ulang tahun dengan kematian??karena kematian mengajarkan makna bersyukur yang menurut saya jauh melebihi kelahiran itu sendiri. Gede Prama dalam karyanya mengatakan bahwa bagaimana kita bisa menghargai kehidupan kalau tidak bisa memaknai kematian. Mengingat kematian sebagai sebuah kepastian memberikan pemahaman untuk selalu berterima kasih karena masih diberikan nafas kehidupan sehingga bisa menikmati pertambahan umur. Karena kematian selalu identik dengan “akhir perjalanan” maka memaknainya ketika berulang tahun juga berarti bahwa sang pemberi kehidupan masih mempercayai kita untuk masih menghuni badan kasar ini untuk melanjutkan tugas-tugas yang belum selesai, untuk membahagiakan dan menerima limpahan kasih darii orang-orang yang kita cintai dan yang lebih penting untuk memperbaiki diri menuju tangga-tangga yang lebih tinggi.

Tulisan ini bukan bermaksud memberi ceramah apalagi menggurui, sangat jauh dari itu. Ini hanya pemikiran yang melintas sekilas di benak saya, jadi mohon maaf ketika timbul kesan-kesan seperti itu.

Ahhh, hari ini aku berulang tahun, tidak ada kue apalagi pesta, hanya tundukkan kepala memanjatkan doa dan itu sudah lebih dari cukup. Sengaja memposting tulisan saat-saat menjelang pergantian hari ulang tahun ke keesokan harinya, bukan bermaksud apa2, hanya ingin mengenang sebuah kue strawberry keju dan sebatang lilin pada tengah malam beberapa bulan yang lalu.

Suksma Hyang Widhi

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »