DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Archive for the ‘Daily Notes’ Category

Doa dan Quantum Entanglement

Posted by I Wayan Agus Eka on September 21, 2016

Saya yakin kita semua orang beragama atau minimal memiliki rasa spiritualitas di dalam diri masing-masing. Tentunya masing-masing dari kita pernah memanjatkan doa untuk orang lain. “Ya Tuhan, berikanlah kesembuhan untuk orang yang aku kasihi” mungkin seperti itu doa yang kita ucapkan. Atau bahkan seperti ini “Ya Tuhan, berikanlah hukuman kepada mereka yang telah menzolimi aku” (ini doa apa nyumpahin ya? Hehehe, entahlah, tidak dibahas di sini).
Read the rest of this entry »

Advertisements

Posted in Daily Notes | Tagged: , , | Leave a Comment »

Buat Elo yang Merasa Bersih

Posted by I Wayan Agus Eka on July 1, 2016

Undang-Undang Pengampunan Pajak telah disahkan oleh DPR. Mari sudahi perdebatan yang ada dan songsong masa depan dengan mensukseskan pelaksanaannya. Read the rest of this entry »

Posted in Daily Notes, Taxes, Uncategorized | Tagged: , | 1 Comment »

Meditasi Angka, Benang Merah Spiritualitas dan Ilmu Pengetahuan

Posted by I Wayan Agus Eka on March 6, 2016

Spiritualitas (saya lebih menggunakan istilah ini meskipun kadang dapat diganti dengan agama maupun keyakinan) dan ilmu pengetahuan ibarat dua kutub yang berlawanan. Setidaknya sejarah dunia mencatat ilmuwan seperti Copernicus dan Galileo Galilei harus menghadapi perlawanan Gereja ketika mereka menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Cerita film Hollywood seperti Angel and Demons (sekuel dari The Da Vinci Code yang dibintangi Tom Hank) juga diilhami oleh pertentangan antara kutub agama dan ilmu pengetahuan, terlihat ketika The Carmelengo (tokoh antagonisnya) mengatakan “Jika partikel tuhan diklaim oleh golongan ilmuwan lalu apa yang disisakan untuk Tuhan?”

Read the rest of this entry »

Posted in Daily Notes | Tagged: , | 1 Comment »

Mengurus VISA dengan Paspor Biru

Posted by I Wayan Agus Eka on July 15, 2013

Hari sudah menunjukkan pukul 12.00, sementara belum ada tanda-tanda rapat ini akan berakhir. Satu setengah jam lagi waktu pengambilan visa akan dimulai, dan sudah terbayang di benak ini bagaimana panjangnya antrian mengingat banyaknya orang yang sedang apply visa untuk libur lebaran tahun ini. Read the rest of this entry »

Posted in Daily Notes | 1 Comment »

Menggugat Komersialisasi Prambanan

Posted by I Wayan Agus Eka on February 9, 2013

Lelah badan dan letihnya mata ini serasa belum pergi setelah menempuh perjalanan darat yang cukup jauh dari Bandung menuju Jogjakarta. Pagi itu tanggal 30 Desember 2012, saya dengan selamat menjejakkan kaki di Jogjakarta bersama calon mantan pacar saya :D. Read the rest of this entry »

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Bercermin di Ujung Slamet Riyadi

Posted by I Wayan Agus Eka on June 29, 2012

Malam itu adalah malam terakhir saya bertugas di solo, kota yang mendapat julukan the spirit of java. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 sepulang dari makan malam menikmati enaknya kikil bakar di jalan gadjah mada. Mobil kami menelusuri jalan slamet riyadi dan sesaat lagi akan berbelok di penghujung jalan menuju tempat kami menginap. Seketika mata saya menuju sekumpulan orang yang berhimpun tepat di sebelah patung slamet riyadi, menelisik hati saya untuk mampir sebentar. Dari kejauhan terlihat kelir putih yang tidak terlalu besar, ya, itu adalah pertunjukkan wayang kulit.

Sejak kecil saya sangat suka menonton pertunjukkan wayang kulit. Di kampung halaman saya pertunjukkan wayang bisa berakhir sampai dini hari. Kesempatan ini tidak akan saya lewatkan dan sesaat setelah memarkir mobil, saya memisahkan diri dari rombongan dan melangkahkan kaki menuju pertunjukkan tersebut.

Saya menyusup di tengah keramaian dan akhirnya mendapatkan spot yang cukup baik untuk dapat menikmati pertunjukkan tersebut. Saya berdiri di sebelah seorang pemuda yang duduk di atas sepada motornya. Ternyata cerita yang disajikan bukanlah cerita klasik semacam ramayana atau mahabarata, tokoh-tokohnya pun bukanlah pandawa, rahwana dll, namun tokoh-tokoh modern yang saya tidak kenal sama sekali.

Di depan kelir sang dalang sedang memainkan dua orang tokohnya dan tentunya dengan bahasa jawa yang sebagian besar tidak saya mengerti artinya. Gelak tawa penonton pun membahana setiap sang dalang membuka dialognya. Saya yang sama sekali tidak mengerti juga tertawa kecil, bukan menertawai kelucuan yang dibuat sang dalang tapi tertawa karena yang lain tertawa juga.

Sejenak perhatian ini beralih dari kelir sang dalang menuju ke penonton. Ternyata penontonnya tidak hanya dari golongan orang tua namun banyak juga remaja tanggung yang menonton, mungkin karena lakon yang dipentaskan bukanlah lakon klasik namun lakon modern yang kita temui sehari-hari. Saya sangat senang mengamati ekspresi penonton ketika tertawa, raut muka mereka sangat orisinil, tertawa mereka tidak dibuat-buat hanya untuk sekedar menghormati sang dalang. Mereka seperti melupakan kesulitan-kesulitan hidup yang sedang dihadapi saat ini. Ekspresinya jauh dari kesan berpura-pura, polos, lugu selayaknya masyarakat tradisional yang menjunjung tinggi arti kejujuran dan ketulusan. Bagi mereka semua ini murah harganya karena mereka lakukan setiap hari, tapi bagi saya dan mungkin sebagian besar masyarakat modern, semua ini mahal harganya. Ketulusan, kejujuran dan keikhasan sudah menjadi barang langka yang teramat mahal bagi kita semua, dan di pertunjukkan inilah saya bisa melihatnya lagi, gratis.

Sang dalang masih memainkan tangan dan jarinya menghidupkan tokoh-tokoh rekaan yang dia ciptakan hingga pada sepenggal adegan terdapat 4 orang yang salah satunya adalah seorang calon lurah yang berhasil mengantongi suara terbanyak dalam sebuah pemilihan dan 3 orang lainnya adalah petugas pemilihan yang terdiri dari seorang pemimpinnya dan dua orang bawahannya. Adegan ini menggunakan dialog bahasa indonesia sehingga saya dapat memahaminya.

“terima kasih atas bantuan bapak membantu memenangkan saya dalam pemilihan ini. Ini ada uang 30 juta untuk bapak dan rekan-rekan bapak” tungkas sang lurah terpilih. Si A (sebut saja seperti itu) sebagai pimpinan petugas pemilihan kemudian bertemu dengan si B dan si C, anak buahnya. “rekan-rekan, ini ada uang 3 juta dari pak lurah sebagai imbalan atas bantuan kita memenangkan beliau, saya ambil sejuta dan sisanya buat kalian berdua”. Seketika tertawalah para penonton ketika sang dalang menyampaikan dialog tersebut.

Dalam hati kecil saya sangat penasaran, mengapa untuk dialog tersebut hampir semua penonton tertawa terbahak-bahak, apakah memang mereka menertawakan cara dialog tersebut dibawakan yang memang sangat jenaka atau mereka sedang menertawakan isi atau pesan yang hendak disampaikan sang dalang. Bagaimana kemudian sang dalang dengan cerdas menyindir pembagian uang haram yang juga tidak luput dari korupsi (udah uangnya haram, dikorupsi pula). Semua ini seperti menohok saya dan kita semua, dan inilah pesan yang ingin disampaikan sang dalang kepada khalayak.

Entah disadari oleh penonton atau tidak, memang ada pesan tersembunyi yang hendak disampaikan oleh sang dalang. Inilah substansi dari wayang itu sendiri. Di kampung halaman saya wayang ditonton di balik layar, jadi sang penonton hanya akan melihat bayangan wayangnya saja. Dari sanalah kemudian muncul sebuah makna mendalam bahwa menonton wayang adalah menonton bayangan kita sendiri, melihat diri kita sendiri di depan sana dengan tingkah laku yang beraneka macam. Dan itulah intinya, bercermin sehingga mampu melihat dan menyimpulkan apakah yang kita lakukan selama ini sudah berada dalam jalur yang benar atau perlu koreksi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, saya pun melangkah pamit meskipun pertunjukkan belum usai. Malam itu, dibawah sebuah patung pahlawan, sebuah pagelaran memberikan kesempatan bagi saya untuk bercermin kembali, melihat noda-noda yang mulai menghitamkan wajah ini seraya berusaha mengambil tisu bersih untuk mulai membersihkannya lagi. Terima kasih Solo atas sebuah kearifan yang engkau ajarkan, suatu saat aku pasti kembali lagi, meskipun hanya untuk bercermin.

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Teori Keagenan, Maximizing Shareholders (Life) Value dan Tri Hita Karana

Posted by I Wayan Agus Eka on January 15, 2012

Dalam sebuah entitas ekonomi (bahkan institusi publik sekalipun), manajemen (atau pemerintah) merupakan agen dari pemilik modal (rakyatnya) yang memiliki tugas utama untuk meningkatkan nilai mereka (maximizing shareholders value). Segala tindakan dari sebuah manajemen adalah dalam rangka meningkatkan nilai pemegang sahamnya. Inilah inti dari teori keagenan dalam berbagai literatur ekonomi. Dalam perkembangannya teori ini juga diadopsi pada ranah manajemen publik dengan melibatkan pemerintah sebagai agen dari rakyatnya.

Disadari ataupun tidak, teori ini juga berlaku dalam kehidupan ini. Kita semua adalah agen-agen bagi orang lain untuk meningkatkan nilai mereka dan disaat yang sama kita juga berposisi sebagai shareholder bagi mereka. Bedanya, dalam teori keagenan kehidupan shareholdernya bukanlah pemegang saham tapi semua hal di luar kita, yaitu orang tua, saudara, pasangan, anak, rekan kerja, bahkan makhluk hidup dan alam ini seluruhnya. Nilai yang dimaksimalkan juga bukan nilai saham namun nilai dalam arti luas antara lain kedewasaan, pencapaian, penerimaan, pengetahuan, penghargaan dan lain sebagainya.

Berbagi dan Pemaksimalan Nilai
Lalu bagaimana caranya meningkatkan nilai shareholders kita? Bertolak belakang dengan premis matematika dimana berbagi dimaknai sebagai pengurangan (minus), maka dalam teori keagenan kehidupan berbagi adalah cara paling efektif untuk meningkatkan nilai shareholders termasuk nilai kita sendiri sebagai shareholders bagi mereka di luar kita. Berbagi memang mengurangi pada saat kita melakukannya namun suatu saat jumlah yang kita terima akan berlipat-lipat. Selayaknya menabung yang mengurangi nilai uang di kantong kita, namun suatu saat kita dapat menikmati kembali uang tersebut bahkan dengan bunganya sekaligus.

Proses pemaksimalan
Bayangkan dua orang anak manusia berbeda jenis, sang lelaki dan sang wanita. Kita asumsikan mereka berdua memiliki masing-masing memiliki modal nilai sejumlah 10. Proses pernikahan dipercaya berbagai agama sebagai salah satu sarana untuk memaksimalkan nilai kedua orang ini.

Ketika mereka berpasangan, masing-masing bertindak sebagai agen dari pasangannya, mereka bersepakat untuk saling berbagi dengan menyerahkan sebagian modal nilai mereka kepada pasangannya. Mengapa sebagian? Karena sisanya mereka gunakan untuk kehidupan mereka masing-masing, untuk pekerjaan, orang tua, masyarakat, anak dan lain sebagainya. Proses berbagi antara kedua anak manusia berbeda jenis inilah yang nantinya akan memaksimalkan nilai mereka masing-masing sehingga bahkan akan mampu memperoleh nilai di atas modal mereka semula yaitu 10. Inilah yang dalam pepatah sering disebut dibalik laki-laki yang hebat terdapat wanita yang hebat dan sebaliknya di balik wanita yang hebat terdapat laki-laki yang juga hebat.

Lalu apakah selamanya akan terjadi proses pemaksimalan nilai dalam hubungan pasangan ini? Jawabannya tentu tidak. Setiap manusia pada dasarnya memiliki standar pengharapan masing-masing dari pasangannya. Misalnya dalam perumpamaan ini standar pengharapan si wanita adalah 6, namun sang laki-laki hanya bisa memberikan 5 saja karena selebihnya dia gunakan untuk pekerjaan kantornya, adiknya, bisnisnya, orang tuanya dst. Apabila si wanita tidak mau menerima nilai yang dibawah standarnya maka alih-alih akan terjadi pemaksimalan nilai yang terjadi justru akan mengurangi nilai masing-masing karena energi mereka berdua terkuras untuk konflik dan pertentangan. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tidak ada cara lain selain yang disebut dengan pengertian, selisih sejumlah 1 (6-5) antara standar pengharapan sang wanita dengan nilai yang dia dapat dari pasangannya adalah apa yang disebut dengan pengertian dan penerimaan.

Secara teori, apa yang diilustrasikan di atas sangat simpel dan sederhana sehingga terkesan sangat gampang untuk dilaksanakan, namun pada prakteknya tidak semudah itu. Pertentangan selalu akan terjadi, tawar menawar selalu akan sengit untuk menuju titik temu yang dalam istilah ekonomi disebut harga.

Contoh di atas hanya merupakan gambaran sederhana bagaimana proses pemaksimalan nilai seseorang yang terbentuk dalam hubungan antara sepasang anak manusia. Proses lainnya juga berlaku untuk pola hubungan yang lain seperti hubungan keluarga, hubungan rekan kerja di kantor bahkan hubungan kita dengan Tuhan dan lingkungan sekitar. Bukan sebuah kebetulan pula apabila pola hubungan (keagenan) ini dalam konsep tradisional Hindu sering disebut dengan Tri Hita Karana, sebuah konsep yang menyebutkan bahwa keseimbangan semesta terbangun dari keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alamnya.

Semoga kita semua mampu menjadi agen-agen yang akan memaksimalkan nilai shareholders kita.

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Ketika Orang Mabuk Bukan Karena Miras

Posted by I Wayan Agus Eka on January 14, 2012

“ahh..elo lagi elo lagi” gumam saya ketika mata ini dipertontonkan adegan kekerasan layak sensor. Niatnya sih mulia, ingin memperjuangkan supaya perda miras tidak dicabut. Tapi apa gunanya niat yang mulia ketika diejawantahkan dalam lemparan batu dan ayunan tongkat kayu.

Tidak hanya sekali ini saja, catatan sejarah menunjukkan perilaku yang sama sudah sangat sering diperagakan, lalu apa gunanya ilmu Ilahi yang dikuasai kalau semuanya berujung anarkisme. Sejarah masa lalu sudah banyak memberikan gambaran kalau perjuangan dengan kekerasan hanya akan menyisakan pihak yang kalah, tidak ada yang menang. Namun sebaliknya, perjuangan dengan mengandalkan diplomasi dan kekuatan rasa atau pikiran sudah banyak terbukti keberhasilannya, lihatlah India dengan Gandhi, lihatlah Aceh dengan JK.

Pikiran bodoh saya sering bercanda kepada saya, kalau seperti ini mungkin lebih baik miras dibiarkan saja beredar dengan bebas, kalau orang sudah mabuk palingan dia hanya teriak-teriak ga jelas, jalan terhuyung huyung lalu rebah menghujam tanah, tinggal keesokan harinya diguyur air saja daripada mereka yang anti miras (dan logikanya tidak pernah mabuk) tetapi merusak dan mengancam orang lain. Saya menjadi heran, kalau sudah seperti ini siapa yang sebenarnya lagi mabuk???

Kata Bang Haji, miras memang memabukkan, tetapi nafsu merusak ternyata lebih dahsyat memabukkannya daripada miras. Kalau sudah seperti ini, Bang Haji sepertinya harus mengubah lirik lagunya.

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Ketika kesendirian dan kebersamaan sama-sama menjadi sebuah kebutuhan

Posted by I Wayan Agus Eka on October 1, 2011

Saya termasuk orang yang berkesimpulan kalau bersosialisasi, bergaul, berkomunikasi dan berhubungan merupakan kebutuhan wajib bagi seorang manusia. Keseharian kita dilewati dengan mencari dan memperbanyak teman, sahabat, klien dan seterusnya. Bahkan dengan banyaknya social media dewasa ini, kendala jarak dan waktu untuk memperbanyak teman tidak menjadi masalah lagi.

Begitu pula saya, seorang pegawai yang setiap hari berkutat dengan rekan-rekan kantor, menyelesaikan laporan yang ibarat laut tak bertepi, berinteraksi dengan atasan, berkeluh kesah dengan pasangan dan keluarga dan seterusnya. Berbagai macam interaksi tadi memberikan pelajaran tentang makna menghargai hubungan dengan sesama.

Namun, entah kenapa saya sangat menikmati sedikit menit waktu yang ada untuk sendiri. Tidak terlalu lama yang saya habiskan, karena memang saya hanya membutuhkannya sebentar saja.

Saya biasa melakukannya di perjalanan pulang dari kantor. Dari dalam helm, sambil mengendarai sepeda motor, saya bisa mendengar dengan jelas setiap ucapan yang keluar dari mulut saya. Saya sering mengutarakan ide,pendapat,gagasan,apapun itu dengan ngomong di helm tadi. Mulai dari mengomentari budayawan yang sudah tidak laku dan alih profesi menjadi komentator politik, sampai mengucapkan doa ketika melihat seorang pria mendorong motornya yang pecah ban, semoga segera menjumpai tukang tambal ban.

Bagi saya waktu kesendirian tersebut adalah salah satu sesi kuliah untuk lebih memaknai hidup ini dan mensyukurinya. Lebih dari itu, waktu favorit saya yang lain adalah ketika naik bus pergi ke luar kota. Di perjalanan saya bisa merenung, melihat lampu-lampu jalan yang bergerak cepat meninggalkan kita, melihat wajah orang-orang dengan berbagai macam ekspresinya bahkan ngeblog dari hp (saya menulis ini ketika perjalanan ke bandung).

Dengan speaker menempel di telinga, dan channel radio memutar lagu yang kadang saya ga kenali, pikiran ini terus menjelajah ke alam yang tidak terbatas, antara nyata dan maya. Seringkali pikiran liar bin aneh muncul tiba-tiba, mulai dari ide untuk mencabut subsidi bbm seketika jika saya jadi presiden, mengusir freeport dari republik ini, impian untuk sekolah, bahkan sampai memaknai kematian.

Disinilah kemudian saya berkesimpulan bahwa kesendirian juga merupakan kebutuhan bagi setiap orang. Manusia pada hakikatnya memang tidak bisa hidup sendiri, tapi manusia tetaplah seorang individu. Tidak akan ada orang yang benar-benar bisa memahami pemikiran seseorang 100 persen, bahkan oleh pasangannya sendiri, karena pemikiran itu bebas, liar, dan tak terbatas. Yang bisa dilakukan orang di luar kita hanya memahami dan mengerti, ya, hanya sebuah pengertian ke diri ini.

Kesendirian memberikan saya ruang untuk berdialog dengan “sang diri”. Suaranya yang seringkali terkalahkan dengan kebisingan kehidupan dan teriakan permasalahan hidup. “Sang diri” juga butuh didengar dan hanya kitalah yang mampu mendengarnya, bukan dengan telinga tapi dengan rasa. Dia adalah sayup-sayup akan terdengar ketika kita meluangkan waktu sedikit untuknya. Dan bahkan, dialah yang sebenarnya setiap detik meneriaki kita dengan nasihat dan kejernihan.

Inilah saya dengan kebersamaan saya sekaligus kesendirian saya dengan “diri” ini. Bagaimana dengan anda?

Posted in Daily Notes | 4 Comments »

Merdeka*

Posted by I Wayan Agus Eka on August 17, 2011

*syarat dan ketentuan berlaku

 

Kalau kita menanyakan kepada masyarakat apakah kita sudah merdeka saya meyakini jawabannya adalah belum. Tokoh-tokoh masyarakat, politisi, pengusaha, kaum terpelajar sepertinya sepakat bahwa bangsa ini belum merdeka sama sekali. Alasan yang dikemukakan sederhana, kita belum berhasil mencapai cita-cita bangsa sebagaimana diamanatkan dalam paragraf terakhir pembukaan UUD 1945. Bangsa ini belum mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya, belum mampu mencerdaskan seluruh lapisan masyarakatnya dan belum mampu melindungi seluruh warga negaranya. Sederet kalimat terakhir inilah yang menyimpulkan bahwa merdeka hanya dicapai jika syarat dan ketentuan tersebut terpenuhi.

Ijinkan saya untuk berbeda pandangan dengan pemikiran mainstream tersebut. Saya, dalam berbagai kesempatan terutama ketika bulan kemerdekaan tiba seringkali merenung, kapan sebuah bangsa dikatakan makmur? kapan sebuah bangsa disebut cerdas? kapan sebuah bangsa dianggap melindungi seluruh rakyatnya. Apakah ketika tidak ada kemiskinan atau kebodohan kita dapat dikatakan mencapai cita-cita kita? lalu kapan kemiskinan dan kebodohan itu benar-benar lenyap? apakah ketika seluruh rakyat memiliki penghasilan di atas 5 juta sebulan atau ketika seluruh rakyat minimal berpendidikan SMA? dan kalimat-kalimat menyangkut definisi makmur, cerdas, miskin, dll terus-menerus berlari dalam pikiran ini.

Saya lalu mengambil contoh negara lain, coba tunjuk satu negara di dunia ini yang menurut anda sudah sejahtera, cerdas dan melindungi warganya. Kita ambil saja Amerika Serikat, benarkah rakyat Amerika sudah sejahtera, cerdas dan melindungi semua bangsanya? pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa ada sebuah sekolah disana yang rusak dan hanya berjarak beberapa blok dari White House? Atau mengenai kemiskinan yang dialami kaum Africa-America disana?

Pikiran saya terus berputar untuk menemukan kondisi yang dicapai suatu negara sehingga kita pantas untuk mengatakannya sejahtera, cerdas dan melindungi rakyatnya. Namun semakin keras otak ini berputar, semakin sulit untuk menemukannya, bahkan untuk mengimajinasikannya pun saya tidak sanggup.

Bertolak dari kemustahilan untuk mendefinisikannya itu, saya tidak akan menyimpulkan bahwa cita-cita kita adalah mustahil namun saya justru akan mengubah cara pandang saya mengenai arti dari kemerdekaan itu sendiri. Saya tidak lagi mendefinisikan kemerdekaan sebagai sebuah hasil yang ingin kita capai, tidak lagi mendefinisikan kemerdekaan sebagai sejahtera atau cerdas, namun saya mendefinisikan kemerdekaan sebagai sebuah proses. Kita semua “merdeka” untuk melakukan segala upaya yang terbaik di bidang kita masing-masing untuk mencapai apa yang disebut dalam alinea ke-4 pembukaan UUD 45, kita semua “merdeka” untuk berusaha sekuat tenaga mencapai kesejahteraan dan kemandirian bangsa.

Inilah arti merdeka bagi saya, dan ketika saya mendefinisikan merdeka dengan seperti ini maka saat ini juga saya mengatakan bahwa kita semua sudah merdeka. Dan ijinkan saya kemudian untuk menghapus tanda (*) pada judul artikel ini karena saya dan anda semua telah merdeka, ya telah merdeka tanpa syarat apapun. Merdeka

I Wayan Agus Eka

 

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »