DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Archive for the ‘Book that i've read’ Category

BJ Habibie: Habibie & Ainun

Posted by I Wayan Agus Eka on January 8, 2011

“Ada satu ucapannya yang tak pernah saya lupakan ‘he, kenapa sih kamu kok gendut dan hitam?”, begitulah “celaan” habibie kepada ainun semasih mereka duduk di bangku smp. Mereka memang sudah saling mengenal semenjak smp, namun rasa cinta Habibie mungkin baru muncul setelah mereka dipertemukan lagi beberapa tahun kemudian sepulang habibie dari jerman untuk liburan. “Kok gula jawa sudah jadi gula pasir” ungkapan habibie ketika dipertemukan kembali dengan ainun pada malam takbiran 7 Maret 1962.

Dan tahukah anda bagaimana seorang sekaliber Habibie yang super jenius ketika “menembak” ainun. “Ainun maafkan sebelumnya, jikalau saya mengajukan pertanyaan yang mungkin dapat menyinggung perasaanmu. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu rencana masa depanmu. Apakah Ainun sudah memiliki kawan dekat?” habibie mengungkapkan perasaannya ketika sedang jalan-jalan bersama ainun menonton film di bandung. Ehmm, sebuah ungkapan yang sederhana, ga ribet, to the point (perlu dicopas sepertinya, hehehe..).

Pacaran mereka hanya hitungan bulan, karena habibie harus kembali ke jerman dan dalam waktu yang tidak terlalu lama akhirnya mereka menikah. Disinilah awal dimulainya pengorbanan seorang ainun, dia yang seorang dokter dan sedang meneruskan pendidikan spesialis anak memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan ikut mendampingi suaminya di Jerman. Dia yang berasal dari keluarga terpandang mau menerima pinangan seorang habibie yang waktu itu bukan siapa-siapa, hanya seorang asisten profesor di Jerman. Tapi mungkin pengorbanan inilah yang kemudian memacu semangat Habibie untuk berkarya lebih baik lagi dan “membayar” apa yang telah Ainun korbankan untuknya.

Cerita-cerita selanjutnya adalah kisah perjalanan hidup Habibie baik ketika masih di jerman maupun ketika dipanggil pulang ke Indonesia oleh Presiden Suharto. Bagaimana pada awal-awal pernikahannya, kondisi keuangan mereka sangat tipis sehingga mengharuskan habibie untuk pindah ke luar kota untuk dapat menyewa apartemen yang lebih murah. Jikalau habibie pulang ketika dalam keadaan hujan, dia harus berjalan kaki dengan payung dan sepatu yang diberi alas kertas. Ainun kemudian menunggunya dengan memandang dari jendela menantikan kedatangannya walaupun di luar hujan, dingin dan gelap (what a romantic moment).

“Maafkan kemampuan saya hanya ini saja”. Begitulah ucap habibie ketika mmenghadiahkan sebuah mesin jahit ketika ulang tahun istrinya yang ke -25. Ainun kemudian menciumnya dan berkata “kamu sudah memberi saya yang lebih indah dari semuanya yang kamu tak dapat bayangkan.” Ainun menerangkan maksudnya malam itu bahwa dia sedang mengandung anak mereka yang pertama.

Bagian-bagian selanjutnya kemudian menceritakan karir habibie sebagai insinyur di Jerman. Bagaimana dia bergabung dan menjadi pimpinan di perusahaan kereta api kemudian memimpin perusahaan pesawat terbang. Selanjutnya diceritakan bagaimana Presiden Suharto memanggilnya untuk membangun industri strategis di negara ini dan mengembangkan SDM Indonesia menjadi berkelas dunia. Kita tentunya sudah akrab dengan berbagai karya dari sang Profesor, pesawat CN 235 Tetuko dan yang fenomenal adalah pesawat N 250 Gatotkaca. Menjadi fenomenal karena saat itu pesawat ini adalah pesawat paling canggih di kelasnya dengan mengaplikasikan teknologi terbaru. Namun sayang, krisis 1998 memaksa proyek ini harus berhenti atas saran dari IMF meskipun dalam keputusan penghentian ini terselip kepentingan asing untuk menghapus salah satu pesaing dalam industri pesawat terbang.

Cerita menarik lainnya adalah ketika Ainun berada di Jakarta dan pada tanggal 23 Maret 2010 diperiksa MRI. Ketika itulah Ainun diketahui mengidap kanker ovarium stadium 3 atau 4. Padahal sekitar 6 jam kemudian mereka merencanakan akan berangkat ke Singapura dan berlayar dengan kapal pesiar Queen Victoria. Seketika itu, Habibie memutuskan untuk kembali ke Jerman secepatnya. Habibie menelepon kedubes Jerman meminta kebijakan agar visanya bisa dipercepat dan dipermudah, dan dubes Jermanpun menyanggupinya. Masalah selanjutnya adalah tiket penerbangan, penerbangan langsung ke Jerman hari itu sudah penuh. Habibie kemudian menelepon kepala perwakilan lufthansa jakarta dan menjelaskan keadaan istrinya. 15 menit kemudian kepala perwakilan lufthansa menelepon balik dan memberitahu bahwa 6 tiket tersedia. Ternyata selama 15 menit itu kepala perwakilan lufthansa menelepon 6 orang penumpang, menjelaskan kondisi ibu ainun dan secara sukarela 6 orang tersebut membatalkan perjalanannya, dan keenamnya bukan warga negara indonesia (thumbs up for all those people).

Setelah dirawat intensif di Jerman selama 2 bulan akhirnya pada tanggal 22 Mei 2010 Ainun meninggal setelah Habibie mengikhlaskan kepergiannya dengan menolak rencana operasi ke-13. Sejak saat itu habibie terpisah secara fisik dengan Ainun, namun seperti yang Habibie tulis dalam bukunya bahwa mereka telah manunggal jiwa sepanjang masa dalam langit semesta dalam cinta yang tulus, murni, suci, sejati dan sempurna.

“Behind every great man there’s a great woman”. Setidaknya buku ini telah membuktikan bahwa pepatah itu bukanlah sebuah hipotesis lagi, dia telah terbukti melalui sebuah kajian empiris kehidupan Habibie dan Ainun.

I Wayan Agus Eka

Advertisements

Posted in Book that i've read | 2 Comments »

Negeri Van Oranje

Posted by I Wayan Agus Eka on December 4, 2010

Semuanya berawal dari penerbangan yang tertunda akibat cuaca buruk di bandara schipol belanda. 5 orang mahasiswa indonesia kemudian bertemu dalam kondisi yang tidak mereka duga sebelumnya. 5 orang yang memiliki latar belakang berbeda, daus sang pns depag keturunan betawi asli, banjar anak juragan bawang, geri sang pria idaman setiap kaum hawa, wicak sang jawara karena keberaniannya melawan cukong kayu dan terakhir lintang si embun yang menyejukkan keempat cowok-cowok tadi.

Pertemuan yang kemudian berlanjut menjadi persahabatan dengan segala warna-warninya,kesetiaan,penghargaan,senasib sepenanggungan,saling pengertian walaupun tidak jarang juga diselingi dusta,konflik dan persaingan.

Dengan setting di negeri kincir angin novel ini mampu mengajak pembacanya menjelajahi keindahan belanda melalui kekuatan kata-kata imajinasinya. Tidak hanya itu, sang penulis juga menyelipkan berbagai tips bagi para backpacker yang akan menjelajah tidak hanya belanda tapi juga negeri-negeri lain di daratan eropa. Dengan kekuatan kata-katanya,penulis mampu melukiskan keindahan berbagai macam destinasi wisata di eropa.

Dari sisi cerita, sang penulis mampu menghadirkan cerita yang sangat menarik dan menghibur. Humor-humor ala mahasiswa mampu membuat bibir ini tersenyum simpul ketika membacanya,meskipun di beberapa bagian novel ini juga menghadirkan kesedihan dan tragedi. Ya, saya sebut tragedi karena ada unexpected reality di bagian-bagian akhir ceritanya (baca aja ya, kalau tak sebut di sini nanti ga seru,hehehe).

Karena wayangnya adalah mahasiswa maka sudah barang tentu cinta adalah jualan utamanya. Dan yang kemudian menjadi kembangnya siapa lagi kalau bukan Lintang, sementara daus, wicak dan banjar menjadi kumbangnya. Trus, geri kemana?apa dia ga suka ama lintang, atau punya cewek lain atau apa, tapi yang jelas saya yakin terkaan kalian 90 persen salah,baca aja pokoknya,hehehe.

Novel yang menurut saya cukup menghibur dan bisa membuat kaki saya naik meniru gaya sepeda ketika tertawa (karena saya sering membaca sambil tidur terlentang trus kalau membaca bagian yang lucu otomatis kaki ini naik sembari menggoes dan terpingkal-pingkal,hehehe). Selamat membaca.

I Wayan Agus Eka

Posted in Book that i've read | 4 Comments »

Gede Prama: Bali Shanti

Posted by I Wayan Agus Eka on September 26, 2010

Dalam buku terakhir ini nampaknya sang penulis mengambil Bali sebagai objek. Mengapa Bali??sederhana saja, Bali telah memberi contoh-contoh yang teramat agung bagi peradaban di dunia ini, contoh-contoh sikap yang mampu menyembuhkan dunia dari segala kekalutandan ketidakpedulian. Ketika peradaban ini selalu menyajikan gambaran kekerasan yang dibalas dengan bahasa serupa, sebut saja peristiwa 11 september yang diikuti dengan perang, maka Bali memberikan contoh yang luar biasa. Ketika pulau kecil ini dicabik-cabik dengan bom teroris, bahkan sampai dua kali, masyarakat bali memang marah, namun tidak pernah kita mendengar kejadian ini diikuti dengan penyerbuan tempat ibadah saudara yang lain, tidak pernah kita lihat diikuti dengan membenci umat lain, namun justru peristiwa ini diikuti dengan proses upacara penyucian dengan harapan semuanya kembali suci, kembali hening, kembali damai, hidup berdampingan dengan shanti.

Parama shanti adalah puncak segalanya. Ketika selesai sembahyang maka kata-kata inilah yang kita ucapkan dengan pengharapan dalam kalbu untuk menemukan the ultimate healing yaitu kedamaian. Segehan adalah bentuk penghormatan kita (bukan pemujaan) kepada sesama makhlukNya yang lebih rendah, ini mengajarkan bahwa semuanya adalah baik, dualitas ini baik, atas bawah, benar salah, bersih kotor, semuanya mengajarkan kebaikan dalam bentuknya masing, dan ketika kita mampu menghapus dualitas ini maka semuanya akan damai, damai dan damai.

Seorang peneliti pernah bertutur bahwa ada empat penyangga kehidupan beragama di bali, yaitu kecintaan akan alam, rasa bakti kepada leluhur, Hindu dan Buddha. Lihatlah kehidupan masyarakat bali jaman dahulu yang agraris, semua hal yang dilakukan saat itu adalah wujud cinta masyarakat kepada alam. Bahkan sampai sekarangpun masyarakat bali masih melakukan tradisi tumpek kandang dan tumpek uduh sebagai penghormatan kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan. Begitu pula dengan leluhur, bagaimana kita melihat semangatnya seorang anak yang akan melakukan upacara Ngaben untuk orang tuanya. Dengan aspek Hindu pun demikian, ribuan pura yang ada di Bali adalah manifestasi dari aspek ini. Meskipun kecil, namun aspek Buddha dapat kita lihat sampai sekarang, sebutlah pura konco yang ada di tengah-tengah uttama mandala di pura ulun danu batur, itu adalah bukti aspek buddha juga mempengaruhi masyarakat Bali.

Bali selama ratusan tahun disangga oleh empat tiang ini, memang label tradisional akan melekat di dalamnya namun tak dipungkiri keempatnya membawa kedamaian dan keheningan dalam kehidupan masyarakat Bali sampai sekarang.

Bali dalam bahasa pali berarti persembahan. Orang Bali jaman dahulu tidak mengenal apa yang namanya kesenian, nama terakhir adalah sebutan yang diberikan orang luar kepada kegiatan menari, melukis, membuat patung dll. Orang bali jaman dahulu melakukan hal tersebut hanya untuk satu tujuan, yaitu persembahan kepada Pencipta. Persembahan itu sendiri mengambil beberapa bentuk. Yang paling banyak kita tahu adalah sembah raga, kerja bhakti, ngayah, adalah bagian dari sembah ini. Kemudian yang kedua adalah sembah rasa, dalam tingkatan ini bukan ragalah yang menjadi objek namun menyayangi semua makhluk, tidak menyakiti dan banyak memberi. Bukan untuk menginginkan pahala, namun dalam rasa semuanya akan terhubung dalam hukum alam yang kekal, menyayangi akan diikuti dengan disayangi, menyakiti akan ditemani oleh disakiti dll. Tingkatan selanjutnya adalah sembah rahasia, sembah puncak ini oleh para tetua bali sering disebut meneng, suwung, kolok, sunya dll. Bagaimana manusia mengisi kesehariannya, itulah sembah yang sesungguhnya, sebagaimana dikatakan Kahlil Gibran, “your life is your true temple” hidupmulah tempat ibadahmu yang sesungguhnya.

Bila boleh disarikan ajaran tetua Bali semuanya berawal dari Rwa Bhinneda. Semuanya sedang bertumbuh menuju cahaya yang sama. Orang baik bertumbuh, orang jahatpun bertumbuh. Mereka yang berbaju suci pun bertumbuh yang berbaju biasapun bertumbuh. Pertumbuhan yang dilandasi dengan bhaktilah yang akan membawa pencerahan yang berujung pada parama shanti, semuanya hening, sunyi, damai. Ketika kita mampu berada di atas dualitas maka saat itulah pintu sarva dharma terbuka, saat itulah semua perdebatan akan menjadi sia-sia belaka karena semuanya adalah dharma, semuanya baik, semuanya damai, dan itulah Parama Shanti.

I Wayan Agus Eka

Posted in Book that i've read | Leave a Comment »

Made Kembar Kerepun: Mengurai Benang Kusut Kasta

Posted by I Wayan Agus Eka on September 10, 2010

Buku ini adalah buku kedua yang saya baca yang mengulas tentang kasta setelah sebelumnya buku serupa karangan wiana. Dewasa ini, ditengah kemajuan jaman, permasalahan kasta memang sudah bukan lagi menjadi suatu perdebatan dan pertentangan sebagaimana yang dahulu pernah terjadi. Namun bukan berarti konflik-konflik dan diskriminasi sudah 100% menghilang dalam praktek sosial kehidupan masyarakat di Bali. Beberapa kasus yang berbau kasta dan pembedaan masih saja terjadi di masyarakat dan ini membuktikan bahwa kasta masih menjadi suatu bahan perdebatan meskipun masyarakat bali modern sudah tidak mempermasalahkannya lagi.

Pada masa jaya-jayanya, gelar kebangsawanan yang disandang oleh mereka yang masuk dalam golongan triwangsa adalah sekat-sekat yang membedakannya dengan golongan sudra/jaba yang mayoritas. Masyarakat pada masa itu dilarang untuk menggunakan beberapa kosakata dalam nama mereka antara lain Bagus, Oka, Rai, Ngurah dll. Sementara pada masa sekarang, konflik horizontal umumnya terjadi ketika ada beberapa orang yang melakukan perubahan gelar mereka dari semula sudra menjadi yang lebih tinggi. Kalau perubahan ini hanya semata dipandang sebagai perubahan nama saja mungkin tidak akan menjadi masalah, namun seringkali mereka tersebut meminta hak yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya misalnya duduk paling depan, berbahasa halus dll.

Kalaupun alasan perubahan nama itu adalah mengikuti leluhur maka alasan tersebut kurang tepat karena siapa yang dimaksud leluhur disini, bukankah sebelum kedatangan majapahit belum dikenal yang namanya Ida Bagus, Gusti, Dewa, dll, serta kalau menarik lebih jauh lagi siapa yang dimaksud leluhur bukankah semua manusia asal mulanya berasal dari satu, sang Hyang Manu. Bahkan ketika Majapahit sudah mulai kuasanya di bali gelar kebangsawanan yang kita kenal sekarang belum muncul, hal ini terbukti dari Adipati Majapahit pertama yang memerintah di Bali yang bernama Sri Kresna Kepakisan, apakah gelarnya raja ini adalah Sri? Atau Kresna?atau apa???

Kapan gelar-gelar tersebut muncul tidak diketahui secara pasti, namun diduga gelar itu muncul setelah runtuhnya kerajaan Gelgel. Keturunan Sri Kresna Kepakisan setelah runtuhnya gelgel memakai gelar Dewa Agung atau Cokorda. Sementara arya-arya majapahit ada yang memakai gelar I Gusti atau I Gusti Ngurah meskipun juga ada juga beberapa soroh arya (Arya Kloping, Arya Kanuruhan) yang tidak menggunakan gelar.

Belanda melalui konferensi Pemerintahan tahun 1910 di Singaraja telah menghidupkan sistem kasta di Bali. Dalam konferensi itu diputuskan bahwa sistem kasta merupakan pondasi dalam masyarakat Bali. Faktor politik dan kekuasaan berada di balik keputusan ini, karena Belanda ingin melanggengkan kekuasaannya di Bali dengan hanya “memegang” bekas-bekas raja yang masih memiliki pengaruh dan menjadikannya alat untuk meredam perjuangan rakyat Bali. Sementara, para raja-raja tersebut tetap mendapatkan kekuasaan dan pengaruhnya yang mungkin tidak akan didapat apabila Indonesia sudah merdeka.

Diberlakukannya kembali sistem kasta oleh Belanda telah membawa ketidakadilan oleh masyarakat Bali terutama dalam beberapa aspek antara lain kewajiban kerja rodi yang hanya untuk golongan jaba saja, larangan memakai sulinggih non-pedande, dan larangan menggunakan sarana pengabenan berupa bade metumpang dan petulangan berbentuk lembu. Adalah warga Pande Beng yang menentang dengan keras ketidakadilan ini dan melakukan upaya hukum. Melalui surat dari residen Bali Lombok dinyatakan bahwa warga Pande Beng menang dan berhak menggunakan Mpu dalam setiap upacaranya dan menggunakan sarana pengabenan tersebut.

Tidak dipungkiri lagi bahwa arsitek-arsitek kasta merupakan orang yang sangat hebat yang sangat menguasai ilmu agama dan mampu memanipulasinya menjadi paham yang mungkin sampai sekarang masih berakar di masyarakat Bali. Mengapa kasta bisa bertahan selama itu? Kurang lebih ada 6 alasan yaitu larangan amada-mada ratu, larangan asisia-sisia, sor singgih bahasa bali, paham ajawera, paham raja dewa, dan manipulasi titah dewata.

Amada-mada ratu adalah melakukan atau meniru-niru atau menyama-nyamai perbuatan yang pada masa itu hanya boleh dilakukan oleh golongan triwangsa saja. Hal ini meliputi larangan pemakaian kosakata tertentu dalam nama, kawin dengan perempuan yang kastanya lebih tinggi (asu mundung dan anglangkahi karang hulu), menggunakan bade bertingkat dan petulangan lembu, manak salah (melahirkan kembar laki-perempuan), membangun rumah menyerupai puri, dll. Sementara asisia-sisia serupa dengan amada-mada ratu namun khusus dalam bidang kesulinggihan misalnya adanya larangan melakukan lokapalasraya dan memberikan tirta pangentas bagi sulinggih non-pedande, karena menurut rontal indraloka kedua hak itu adalah mutlak dimiliki pedande saja.

Khusus mengenai perkawinan antar kasta, maka hal itu bukan saja dilarang namun juga memiliki konsekuensi hukuman bagi yang melanggar. Hukumannya dari yang hanya sekedar penurunan kasta, pembuangan ke luar daerah sampai dengan yang paling kejam labuh geni (dibakar hidup-hidup) dan labuh batu (ditenggelamkan di laut dengan pemberat batu). Perkawinan asu mundung dan anglangkahi karang hulu merupakan aturan yang bersumber dari kitab manawa dharmasastra yang di Bali sering menjadi patokan penyelenggaraan kehidupan sosial yang (katanya) baik. Dalam kitab inilah terdapat aturan-aturan terkait kasta yang mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan kelahiran bukan berdasarkan gunanya. Bahkan, oleh penerjemahnya pun, beberapa ketentuan dalam kitab ini dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang dan tidak dapat diberlakukan secara mutlak.

Tidak hanya sampai pada masalah perkawinan, masalah kasta kemudian juga tidak lepas dengan urusan pemuput upacara (sadhaka). Masing-masing soroh di Bali, baik itu Pasek, Pande, Bhujangga waisnawa memiliki aturan dalam prasastinya masing-masing untuk menggunakan panditanya sendiri-sendiri dalam kegiatan keagamaan, namun diskriminasi telah menimbulkan adanya pengkotak-kotakan para pandita tersebut dilihat dari kastanya ketika masih walaka. Perjuangan kesetaraan sadhaka inilah yang kemudian diperjuangkan oleh kaum Pasek, Pande dan Bhujangga Waisnawa. Tuntutannya tidak hanya sebatas pengakuan kesetaraan saja, namun juga implementasi di lapangan berupa penggunan sarwa sadhaka dalam upacara-upacara yang bersifat umum. Perjuangan ini mencapai puncaknya dengan digunakannya sarwa sadhaka pada upacara Panca Wali Krama di pura Besakih pada tahun 1999, meskipun sampai sekarang masih mengalami pasang surut.

Apa sebenarnya yang dipermasalahkan dalam kasta? Tidak lain adalah kesetaraan. Mereka yang berkasta (tidak semuanya mungkin) menuntut haknya untuk diperlakukan lebih istimewa daripada yang lain, padahal dibalik tuntutan akan hak tersebut tersimpan kewajiban yang harus mereka laksanakan jikalau tidak ingin diturunkan kastanya (patita wangsa). Rontal widhi pepincatan adalah salah satu rontal yang menyebutkan larangan-larangan bagi triwangsa yang jika dilanggar akan dikenakan patita wangsa. Larangan itu antara lain larangan bersawah ladang, berniaga, memikul barang, menggembala, hidup dari menerima upahan, berjudi, menjadi parekan atau budak apalagi budak bangsa asing dll. Apabila disimak lebih lanjut maka terkait dengan larangan menjadi budak, apabila hal ini dilaksanakan secara konsekuen maka seharusnya golongan triwangsa ini sudah terkena patita wangsa (menjadi sudra) ketika bali menjadi jajahan bangsa Belanda. Selain dalam rontal itu, larangan-larangan bagi triwangsa juga terdapat dalam rontal Brahmokta Widhi Sastra, Rontal Catur Brahmawangsa Tattwa dan Manawa Dharmasastra. Apabila kemudian dalam dharma wacana akhir-akhir ini seringkali ada seruan untuk kembali memberlakukan seluruh rontal-rontal maka hal tersebut hendaknya dikaji lebih dalam lagi karena tidak semua rontal masih sesuai dengan kondisi pada masa sekarang.

Secara keseluruhan buku ini menurut saya mampu memberikan tambahan pengetahuan terutama dari aspek historis keberadaan kasta di Bali. Meskipun demikian, beberapa ulasan penulis menurut saya agak mengganggu pesan yang ingin disampaikan karena memberi kesan adanya unsur kemarahan dan opini pribadi penulis yang kurang relevan untuk disampaikan kepada pembaca. Buku yang layak dibaca untuk memberikan pemahaman bahwa semua manusia adalah setara dan biarkanlah kasta menjadi catatan sejarah saja untuk sekedar pengetahuan bukan untuk mendiskriminasi umat manusia. Semoga semua makhluk berbahagia.

I Wayan Agus Eka

Posted in Book that i've read | 18 Comments »

Gede Prama: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan

Posted by I Wayan Agus Eka on August 18, 2010

Rumah kesedihan, begitulah sang penulis menyebutkan buku atau rumah intelektualnya yang ke-23. Disebut demikian karena suasana ketika menyusun buku ini diliputi kedukaan umat manusia. Bom meledak, bencana alam, terorisme datang silih berganti menghantui kehidupan manusia dan itu semua hanya memiliki satu wajah yang terwakili dalam satu kata, kesedihan.

Penulis mengajak pembaca untuk memahami sisi lain dari wajah kesedihan yang selama ini kita kenal. Kesedihan yang selama ini selalu kita hindari dan haramkan terjadi ternyata memiliki rupa menawan selayaknya wejangan guru yang memberikan pencerahan kepada kita semua. Kesedihan ibarat pondasi yang membangun kokoh sebuah rumah kehidupan, bahkan terlalu sulit untuk menemukan kehidupan yang kokoh dan kuat tanpa gunungan kesedihan. Banyak contoh yang sudah membuktikan hipotesis ini, Dave Palzer yang sekarang menjadi guru bagi banyak orang dulunya memiliki masa kecil yang penuh dengan penyiksaan, ancaman dan kekerasan, Rumi, seorang sufi yang dikagumi dunia timur dan barat baru bangkit ketika semua bukunya dibakar oleh gurunya. Bagi tokoh-tokoh tersebut, kesedihan ibarat vitamin yang membantu pertumbuhan sang jiwa.

Dalam kehidupan manusia, pemaknaan merupakan hal yang sangat krusial. Bagaimana sebuah kejadian dimaknai menjadi sebuah kunci yang menentukan. Dalam hal kesedihan, dia menjadi destruktif ketika dimaknai destruktif. Termasuk dalam pemaknaan destruktif ini adalah dihukum Tuhan, Tuhan sedang marah, karena kehidupan penuh dosa dll. Setiap kejadian seharusnya dapat dimaknai sebagai “sidik-sidik jari Tuhan”. Kesedihan juga seperti itu, kesedihan menghadirkan pemurnian yang tidak dapat dihadirkan oleh kebahagiaan.

Kebahagiaan ibarat komoditas andalan yang selalu dicari oleh setiap orang. Dia hampir selalu dicari dengan membeli mobil, perhiasan, kekayaan, keterkenalan dll. Namun, sebagaimana kesedihan, kebahagiaan yang dicari ke luar bersifat sama, selalu datang dan pergi, bersifat keropos mudah diterbangkan angin kehidupan. Lalu bagaimanakah cara memperoleh kebahagiaan? Pertama adalah mendidik rasa berkecukupan karena sekaya apapun anda akan tetap merasa miskin ketika tanpa berkecukupan, dan semiskin apapun anda akan tetap kaya ketika sudah mampu mengatakan cukup. Kedua adalah mengelola harapan, memiliki harapan tidaklah salah bahkan berguna sejauh harapan hanya dianggap sebagi sebuah sumber energi yang membantu pencapaian. Namun harapan akan menjadi bencana ketika dia menjadi sebuah kekuatan pendikte yang terlalu memaksakan diri untuk menjadi sebuah kenyataan. Ketiga adalah menyadari bahwa kita hidup dalam kekinian bukan dalam masa lalu ataupun masa depan sehingga sangat penting untuk berlatih bersyukur dalam kekinian atas apapun yang dicapai maupun belum tercapai.

Keheningan adalah muara dari sebuah pemahaman atas kesedihan dan kebahagiaan, sebuah wilayah yang amat sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata, karena mendefinisikannya justru akan membatasi ketinggian makna dari keheningan itu sendiri. Mencapainya membutuhkan apa yang disebut dengan ketidakmelekatan, suatu kondisi dimana tidak terlalu melekat pada kebahagiaan dan tidak terlalu terpuruk dalam kesedihan.

Mencapai keheningan ibarat menanak nasi menggunakan kompor. Pada awal memasak dia membutuhkan api yang besar (baca: keinginan yang besar, banyak harapan, banyak cita-cita, usaha yang super keras), namun sekian lama maka akan memasuki wilayah api kecil yang merupakan lingkungan penuh rasa syukur dan siap-siap memasuki alam keheningan. Mencapai sebuah keheningan dan pencerahan ibarat bayangan bulan dalam air, bulannya tidak basah karena air dan airnyapun tidak terpecah karena bulan. Dengan kata lain, inti pencerahan adalah tidak tersentuh, tidak marah ketika dimaki, tidak sombong tatkala dipuji, tidak jumawa pada kebahagiaan tidak tenggelam pada kesedihan. Dan kunci untuk mencapai pencerahan ini adalah rasa berkecukupan lalu biarkan hidup menjadi 4 M: mengalir, mengalir, mengalir dan mengalir.

I Wayan Agus Eka

Posted in Book that i've read | 2 Comments »

Gede Prama: Simfoni di dalam Diri (mengolah kemarahan menjadi keteduhan)

Posted by I Wayan Agus Eka on July 15, 2010

Gede Prama kembali hadir dengan karya barunya. Rasanya ada yang baru dalam karya beliau kali ini (atau mungkin saya yang sudah lama tidak membaca buku beliau lagi, entahlah!!!). Dalam karya terakhir ini kayaknya dorongan tulisannya berasal dari fenomena-fenomena kekerasan yang melibatkan agama dan kepercayaan. Gede prama tetap membungkusnya dengan kata-kata indah dan kutipan-kutipan dari mahakarya guru-guru di dunia ini sebagaimana tercermin dalam pembuka buku ini “if i have to choose between religion and compassion, i will choose compassion“, apabila harus memilih antara agama dengan kebaikan maka sang guru lebih memilih kebaikan.

Gd Prama pada bagian awal mengajak untuk memaknai arti kekalahan lebih mendalam. Belajar menerima kekalahan adalah langkah awal kedewasaan dan kebijaksanaan. Kalah seperti ampelas yang menghaluskan kayu yang mau menjadi patung mahal, seperti pisau tajam yang melubangi bambu yang akan menjadi seruling indah. Apa yang disebut dengan menang-kalah, hidup-mati, sukses-gagal tidaklah lebih dari sekadar putaran waktu sebagaimana halnya terbitnya matahari. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi maka terbitlah sang matahari, ketika sudah jam 6 sore maka tenggelamlah matahari, begitu pula kalah-menang, hidup-mati dsb.

Kebakaran telah melanda dunia ini. Kebakaran yang berselimutkan kemarahan tidak hanya menjadi monopoli kaum materialistis, bahkan sosok religius pun seringkali menjadi sumbernya. Api yang diolah dengan tepat justru akan kehilangan sifat membakarnya dan berganti menjadi sosok  menyejukkan. Pengolahan kemarahan melalui keluasan pandangan, doa, persahabatan dan meditasi akan mampu mengganti panasnya bara api menjadi keteduhan yang luar biasa. Unsur hidrogen adalah salah satu unsur yang sangat mudah terbakar, begitu pula dengan unsur oksigen yang memungkinkan timbulnya api, namun ketika kedua unsur ini menyatu secara sempurna maka air yang menyejukkan adalah hasilnya.

Kebahagian dan kesedihan bagai dua ujung dalam satu pendulum, semakin keras sebuah kebahagiaan dinikmati maka semakin keras pula kesedihan yang sudah menanti. Sehingga banyak guru yang kemudian membatasi pendulum emosi mereka sehingga pergerakannya terbatas. Ketika bahagia datang maka nafsu perayaan direm, ketika kesedihan juga kemudian bertamu maka stok air mata juga dibatasi.

Cerita bom bali di kuta secara apik dimaknai oleh gede prama sebagai contoh timbulnya cahaya-cahaya pemahaman. Disaat di belahan bumi lainnya setiap kemarahan dibalas dengan kemarahan, kebencian dibalas dengan kebencian namun masyarakat Bali memberi contoh kepada dunia bahwa penderitaan yang mereka alami tidak harus dibalas dengan anarkis, tidak harus dibalas dengan penyerangan atau kebencian kepada kelompok tertentu. Dimana kemarahan tidak diikuti dengan kemarahan, dendam tidak berbalas dengan dendam maupun kebencian tidak dibayar dengan kebencian maka di sanalah sedang ditaburkan bibit-bibit keagungan.

Kehidupan layaknya seperti siklus air. Dia dimulai ketika hujan turun (baca: belajar keras, bekerja keras), namun begitu menjadi sungai dia menjadi perjalanan yang lembut. Ketika kehidupan mencapai samudranya maka hanya ada dua, melakukan segala sesuatu dengan cinta dan menerima hasilnya dengan penuh keikhlasan seperti samudra yang akan menerima apapun yang diberikan kepadanya dengan tangan terbuka.

Manusia dalam perjalanan hidupnya selalu mencari perdamaian. Bibit-bibit jiwa untuk mencapai perdamaian ini adalah berupa kebaikan dan keburukan. Bukan baik buruknya yang menjadi bibit namun bagaimana dia diolah yang menjadi bibit. Kebaikan ketika diikuti dengan kesombongan dan kecongkakan hanya akan menjadi bibit yang tidak baik. Namun, keburukan kalau diikuti dengan pertobatan dan perbaikan maka niscaya akan menjadi bibit yang baik.

Di bagian akhir bukunya sang penulis mengajak kita untuk memandang seperti langit. Segala sesuatu dipandang serba baik. dalam keadaan berkecukupan maka itu adalah kesempatan untuk memberi, dalam keadaan berkekurangan maka itulah saat untuk rendah hati. Bila berumur panjang maka itulah saat dimana masih terbuka kesempatan untuk berbuat baik, bahkan ketika anda diramalkan akan segera meninggal maka itulah saat anda mendidik orang lain untuk menggantikan posisi anda. Intinya semua hal harus dipandang baik seperti langit yang memberikan ruangnya kepada semuanya. Bahkan, kita harus berterima kasih kepada orang yang menyakiti dan membenci, bukan justru menjauhinya. Orang yang menyakiti dan membenci kita sudah bekerja teramat keras, mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit dan menanggung dosa yang besar hanya untuk membuat kita menjadi lebih sabar dan bijaksana. Semoga semua makhluk berbahagia.

I Wayan Agus Eka

Posted in Book that i've read | 13 Comments »

Agus Aris Munandar: Gajah Mada, Biografi Politik

Posted by I Wayan Agus Eka on July 8, 2010

Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini, barangkali inilah sosok yang keterkenalannya melebihi rajanya sendiri. Sosok yang digambarkan oleh buku-buku sejarah jaman kita SD dulu sebagai orang yang gagah, besar, kuat, tegas dan sederet julukan-julukan hebat lainnya.

Dari semenjak lahirnya Gajah Mada sudah mengundang perdebatan tersendiri. Ada kitab yang menyebutkan bahwa dia adalah titisan dari Dewa Wisnu sebagai salah satu awatara. Namun, banyak juga ahli yang meyakini bahwa dia adalah salah satu keturunan pembesar Majapahit sendiri, jadi dalam darah Gajah Mada memang sudah ada darah ksatria dari kerajaan Majapahit itu sendiri.

Pemberontakan Kuti adalah peristiwa yang mengangkat nama Gajah Mada. Dia memimpin 15 orang pasukan Bhayangkara untuk mengungsikan Raja Jayanegara ke Bedander. Cukup menarik karena oleh pengarang buku ini, jumlah pasukannya yang 16 orang, kelipatan 8 (15 orang ditambah Gajah Mada sendiri) ditafsirkan sebagai dewa penjaga delapan arah mata angin yang menjaga Shiva (jayanegara) di tengah-tengahnya. Meskipun demikian, Gajah Mada kemudian dianggap juga berperan dalam pembunuhan Jayanegara yang dilakukan oleh tabib ra Tanca. Gajah Mada yang dianggap sudah mengetahui rencana pembunuhan tersebut justru membiarkannya karena Gajah Mada menganggap bahwa Jayanegara sudah tidak pantas lagi memimpin kerajaan karena sering melakukan tindakan asusila yaitu suka menganggu dan berhubungan dengan wanita-wanita yang sudah bersuami.

Kemudian di bawah pemerintahan Tribuana Tunggadewi, Gajah Mada mulai merealisasikan sumpahnya dengan menyerang Bali di empat penjuru. Penyerangan ini membawa sejumlah besar pasukan majapahit yang dipimpin beberapa Arya-Arya yang sekarang menjadi silsilah keturunan masyarakat Bali. Namun upaya penaklukan Bali ini bukannya tanpa perlawanan, adalah Ki Pasung Grigis yang menjadi duri dalam daging usaha Gajah Mada. Dia selalu berhasil meloloskan diri dan selalu memberikan perlawanan sengit kepada pasukan Majapahit. Akhirnya Gajah Mada bersiasat dengan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Ki Pasung Grigis kemudian menyambutnya dengan suka cita. Ketika terjadi pertemuan antara keduanya, Gajah Mada kemudian mengeluarkan siasatnya, Gajah Mada meminta Ki Pasung Grigis untuk memanggil anjing hitamnya yang konon mengerti kata-kata manusia. Tanpa basa basi Ki Pasung Grigis kemudian memanggil anjing itu seraya menjanjikan makanan kepadanya, namun ketika anjing itu datang bukan makananlah yang diberikan Ki Pasung Grigis namun hanya sebuah batok kelapa. Melihat kejadian ini Gajah Mada langsung menghardik dan memaki bahwa Ki Pasung Grigis sudah melakukan perbuatan yang pantang dilakukan para ksatria. Seorang ksatria pantang mengingkari janji bahkan kepada binatang sekalipun dan perbuatan melanggar janji adalah perbuatan yang sangat rendah. Mendengar makian Gajah Mada, Ki Pasung Grigis hanya bisa berdiam diri menyadari kekeliruannya dan kemudian mengakui kekalahannya dari Majapahit.

Oh ya, satu konsep kehidupan yang saya dapat dari buku ini adalah salah satu konsep istri dalam pandangan Hindu. Bahwa pada hakikatnya istri itu adalah energi bagi suami. Konsep yang mendasari hal ini adalah konsep sakti. Kita tentu sudah paham bahwa sakti dalam salah satu definisinya juga berarti istri, sakti Dewa Siwa adalah Dewi Parwati, sakti Dewa Brahma adalah Dewi Saraswati, dll. Jadi kekuatan dari para dewa tersebut tercermin dalam saktinya/istrinya.

Tak pelak lagi, peristiwa Bubat dianggap sebagai catatan hitam seorang Gajah Mada yang menodai jasa-jasa yang sudah dia lakukan. Peristiwa yang pada awalnya merupakan prosesi pernikahan antara Raja Hayam Wuruk dengan putri kerajaan Sunda Dyah Pitaloka. Sebagai satu-satunya kerajaan di pulau Jawa yang belum mengakui kerajaan Majapahit, maka pernikahan putri Sunda ini merupakan upaya untuk memperluas pengaruh Majapahit di seluruh pulau Jawa. Namun, Gajah Mada justru meminta agar sang putri diantar kepada raja Majapahit sebagai persembahan dan bukti bahwa Sunda sudah takluk di tangan Majapahit. Permintaan inilah yang memicu pertempuran di lapangan Bubat yang akhirnya membunuh sang putri dan raja Sunda.

Tafsiran baru dalam buku ini menyebutkan bahwa bukan Gajah Mada yang menjadi penyebab utama terjadinya peristiwa berdarah di Bubat. Adalah orang tua Hayam Wuruk, Krtawardana dan TribuanaTunggadewi, yang menjadi aktor utama peristiwa ini. Orang tua Hayam Wuruk agaknya sudah berjanji kepada Rajadewi Maharajasa, adik tribuana, untuk menikahkan putrinya yang bernama Indudewi kepada Hayam Wuruk, sehingga apabila Dyah Pitaloka benar-benar akan menikah dengan Hayam Wuruk maka Indudewi hanya akan menjadi selir raja saja dan akan mengundang perpecahan di kalangan dalam keluarga raja Majapahit. Untuk mencegah hal ini maka orang tua Hayam Wuruk meminta kepada Gajah Mada agar pernikahan tersebut digagalkan dan kemudian terjadilah peristiwa Bubat.

Seandainya tafsiran itu benar maka Gajah Mada bukanlah yang bertanggung jawab dalam peristiwa Bubat tersebut, dia hanya menjalankan perintah kedua orang tua Hayam Wuruk. Namun, Gajah Mada mendapatkan getahnya sampai sekarang, dia selalu dicaci dan dimaki, bahkan dalam kidung sunda disebutkan bahwa Gajah Mada akhirnya dibenci keluarga Majapahit karena telah menggagalkan pernikahan agung Hayam Wuruk. Mungkin begitulah nasib para pahlawan, jasa-jasanya seolah-olah lenyap hanya oleh satu kesalahan yang belum tentu dia yang melakukannya. Gajah Mada juga manusia.

I Wayan Agus Eka

Posted in Book that i've read | 16 Comments »

Pitoyo Amrih: The Darkness of Gatotkaca

Posted by I Wayan Agus Eka on June 27, 2010

“Kakang Narada, tolong pertemukan seorang putri bangsa raksasa dari Pringgandani dengan si tinggi besar Pandawa, Bratasena. Kumpulkan seluruh kesaktian bangsa dewa untuk mempercepat kehamilan Arimbi itu dan juga mempercepat kelahiran dan kedewasaan jabang bayi mereka” Begitulah sabda Batara Guru kepada Narada yang merupakan cikal bakal lahirnya Gatotkaca. Gatotkaca dilahirkan atas titah dewata untuk menyelamatkan negeri para dewa dari ancaman serbuan negeri raksasa bernama Gilingwesi.

Seketika ketika gatotkaca lahir dia langsung dilempar ke kawah candradimuka dan kemudian diberikan kesaktian oleh Narada, Empu Angganjali dan Empu Ramadi. Lelaku ini juga menciptakan tombak kecil yang diberi nama tombak Konta Wijayadanu yang memang diciptakan sebagai senjata satu-satunya yang dapat membunuh Gatotkaca dan kelak digunakan oleh Karna ketika perang Bharatayudha.

Novel ini menceritakan bagaimana Gatotkaca selalu menjadi pribadi yang diberikan tugas dan tanggung jawab besar bahkan dari sejak dia masih bayi. Bagaimana dia memusnahkan kerajaan Gilingwesi ketika usianya masih hitungan hari. Bagaimana kemudian dia juga membantu Arjuna membunuh Niwatakawaca, raksasa yang juga berusaha menaklukkan alam dewa. Bagaimana dia selalu terbang di langit kerajaaan Amerta (kerajaan dari Yudisthira, pamannya) untuk mengamankannya dari segala gangguan musuh.

Gatotkaca adalah pribadi pendiam, selalu melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan tuntas. Namun, di balik itu semua, Gatotkaca juga merupakan pribadi yang bengis dengan semua musuh-musuhnya, bahkan dia tanpa ragu membunuh Pamannya sendiri (Kalabendana) hanya karena Pamannya tidak bisa berbohong sesuai pintanya, satu-satunya kesalahan dalam hidupnya yang dia sadari dan sesali sampai akhir hidupnya.

Jasa-jasa Gatotkaca nyaris tanpa penghargaan dari siapapun. Ketika dia berhasil mengalahkan pasukan Niwatakawaca, justru Arjuna yang mendapat hadiah dari para Dewa. Keberhasilannya menjaga Amerta dari serangan musuh tidak mendapat pengakuan dari saudara-saudaranya. Alhasil, dia ibarat makhluk yang memang diciptakan ke dunia hanya sebagai senjata hidup yang  digunakan untuk kepentingan dewa dan pandawa.

Meskipun akhirnya dia menikahi Pregiwa dan memiliki seorang anak namun tetap saja tidak ada yang bisa memahami isi hatinya. Orang di sekelilingnya menganggap dia adalah pribadi yang kuat dan sakti sehingga merasa tidak perlu untuk memahami dan menyelami isi hatinya. Padahal Gatotkaca juga memiliki sifat-sifat manusia yang sangat membutuhkan kasih sayang, namun tanggung jawab yang besar yang dipikulnya semenjak lahir seolah-olah menutupi itu semua.

Dia selalu hidup dalam kesendirian. Dia selalu memendam dan menekan setiap rasa kecewa di dasar hatinya. Tak ada orang di sekitarnya yang bisa diajaknya berbagi. Dia terlalu angkuh untuk bisa mengutarakan setiap perasaannya. Dia selalu membawa beban rasa bersalah dalam dirinya. Dia selalu merasa sendiri di tengah kehangatan keluarga di sekitarnya.

Sebuah novel yang sebenarnya memiliki ide cerita yang sangat menarik karena bersumber dari salah satu mahakarya terbesar umat manusia, Mahabarata. Namun demikian, pemilihan kata yang berulang-ulang membuat saya agak sedikit kebosanan membacanya meskipun kelemahan itu tertutupi karena memang ide dasar cerita yang menarik.

Akhirnya ijinkan saya mengutip salah satu kalimat pada halaman awal novel ini bahwa novel ini adalah “untuk para patriot yang terkadang hidup dalam kesendirian di tengah keriuhan”. Mungkin Anda(saya)lah salah satunya.

I Wayan Agus Eka

Posted in Book that i've read | 4 Comments »

Joseph Murphy: The Power of Your Subconscious Mind

Posted by I Wayan Agus Eka on June 3, 2010

This book is another book that i’ve read that delineate about how to make miracle using your mind power. The secret of all of our happiness is within ourself called subconscious mind. Our subconscious mind is the builder of your body and can heal you from all the diseases.

Your subconscious mind is your trusted soldier and you are the captain of your life, so the right order as a captain is important in directing the ship. As a captain, your direction must be in positive term, never use “i can’t do it” or “i can’t afford it”. When you use those term, your subconscious mind will make that happen in reality. Remember that your subconscious mind is always working in every single step of your life, so when you start complaining something for example, your subconscious mind will make it happen and you’ll get the bad result in reality.

The law of life is all about believing. Do not believe in something that can hurt you, just believe that your subconscious mind not only will solve all of your problems but also can inspire, strengthen and prosper you. Many people said that we can’t change our destiny, the book said that it is wrong, the destiny come from our thought so if you want to change your destiny, the first thing that you have to do is change your thought in positive way.

From this book, now i know why praying is so powerful. Praying is about hope, it is about what someone want to happen in the reality. Praying is always built by positive sentence and unwittingly, when we are praying we are giving a direct order to our subconscious mind to work to make it real. These can explain to us why there is so many miracle happen in this world as a result of praying.

The book is another book about thinking positively that i have read before. “You can if you think you can” by Norman Vincent Peale, or a series of inspirational stories in “Chicken Soup for the Soul” by Jack Canfield or Rhonda Byrne in “The Secret” and many other books have the same message that the key of happiness, joyfulness and prosperity is all about how you use your mind to keep working in a positive way.

I Wayan Agus Eka

unwittingly

Posted in Book that i've read | Leave a Comment »

John Roosa: Pretext for Mass Murder, The September 30th Movement & Suharto’s Coup D’Etat in Indonesia

Posted by I Wayan Agus Eka on March 3, 2010

Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar Gerakan 30 September 1965???Mungkin salah satu jawaban yang terlintas adalah PKI. Ya, PKI adalah organisasi yang paling sering disebut sebagai aktor intelektual peristiwa tersebut apalagi buku-buku sejarah pada masa rezim Suharto selalu menyudutkan PKI sebagai pihak yang bertanggung jawab dan menamakan gerakan itu sebagai G 30S/PKI.

Namun, seiring dengan jatuhnya rezim Suharto maka bermuncullah berbagai macam versi dari peristiwa tersebut dan buku ini adalah salah satunya. Buku ini, sebagaimana buku-buku lainnya, mencoba untuk memberikan pandangan baru dari perspektif yang berbeda mengenai gerakan tersebut. Kini, untuk menyebut peristiwa tersebut, tidak lagi dengan G30S/PKI namun cukup dengan gerakan 30 September yang memberikan makna bahwa adanya upaya untuk pelurusan sejarah yang selama ini menuduh PKI sebagai aktor intelektual.

Penulis buku ini menjelaskan bahwa peristiwa ini bermula dari perebutan pengaruh dan upaya penggulingan kekuasaan antara Petinggi AD saat itu (A. Yani, Nasution dll) dan PKI dengan Sukarno berada di tengah-tengahnya. Dengan semakin besarnya pengaruh PKI maka Sukarno mulai masuk ke sayap kiri sehingga membuat gerah petinggi AD yang anti komunis.

Petinggi AD yang anti komunis, saat itu menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan rezim Sukarno, karena akan sangat sulit kalau mereka melakukan kudeta langsung ke Sukarno karena legitimasi Sukarno di depan rakyat saat itu sangat kuat. Kemudian terjadilah peristiwa G 30 S yang menjadi dalih bagi Suharto untuk menghancurkan PKI sampai ke akar-akarnya. Sampai ke akar-akarnya ini berarti bahwa seluruh anggota PKI harus ditumpas habis padahal yang merencanakan peristiwa G 30 S hanya segelintir orang PKI sementara anggotanya di daerah yang sebagian besar kaum buruh, petani sama sekali tidak paham mengenai peristiwa ini. Peritiwa pembunuhan massal inilah yang selama ini luput dari perhatian kita ketika rezim Suharto, padahal magnitudenya jauh lebih besar dibandingkan dengan gerakan 30 S itu sendiri. Dengan hancurnya PKI maka sedikit demi sedikit Sukarno akan kehilangan legitimasi dan akhirnya menyerahkan jabatannya.

Salah satu kunci keberhasilan penumpasan PKI (baca:pembunuhan massal) adalah digunakannya media massa sebagai alat doktrinasi. Bagaimana media massa memancing kemarahan rakyat dengan cerita-cerita fiktif bahwa PKI membunuh jenderal dengan menyilet-nyilet bagian vitalnya sambil menari-nari. Disebut cerita fiktif karena dokter yang melakukan otopsi, beberapa tahun kemudian memberikan testimoni bahwa dari hasil otopsi tidak ditemukan bukti tindakan silet-menyilet kepada korban.

Buku ini sebenarnya dilarang beredar, namun kita dapat mengunduhnya dengan mudah di internet dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Setidaknya buku ini memberikan gambaran baru bagi kita mengenai peristiwa yang dahulu hanya kita kenal melalui pelajaran Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa (PSPB) dan bahwa juga sejarah menjadi alat bagi penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya meskipun akhirnya kekuasaan itu runtuh pula di tangan rakyat.

Selamat membaca…

Posted in Book that i've read | 1 Comment »