DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Revaluasi Aset dan Pertumbuhan Ekonomi. It’s too good to be true…

Posted by I Wayan Agus Eka on February 13, 2016

Menarik untuk menelisik lebih lanjut kaitan antara revaluasi aset dengan pertumbuhan ekonomi. Para pendukung dari kebijakan ini mengatakan bahwa revaluasi aset dapat memperbaiki kondisi keuangan perusahaan yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan posisi perusahaan untuk mendapatkan sumber pembiayaan yang lebih efisien (kalau tidak bisa dikatakan murah). Bagaimana hal ini bisa terjadi? Saya akan berusaha menggambarkan mekanismenya dengan pendekatan akuntansi yang saya pahami.

reval

Pada tabel di atas, sebelum revaluasi aset, PT A memiliki posisi keuangan pada kolom 2 dengan jumlah aset sebesar 1000. Misal seluruh aktiva tetapnya direvaluasi dengan nilai wajar sebesar 1500, hal ini berakibat pada meningkatnya modal perusahaan 4 kali lipat (kolom 3). Dengan meningkatnya modal perusahaan (dan nilai aktiva tetap) maka perusahaan dapat melakukan pinjaman kepada lembaga keuangan. Asumsikan PT A akan meminjam dana sedemikian rupa sehingga kondisi DER sama dengan kondisi sebelum revaluasi sebesar 4:1 (menggunakan 4:1 semata-mata untuk mencerminkan ketentuan perpajakan sebagaimana diatur pada PMK-169/PMK.010/2015). Dengan demikian perusahaan dapat menarik dana baru sebesar 2400 (kolom 4). Dana ini akan digunakan perusahaan untuk melakukan ekspansi atau investasi, sehingga posisi akhir neraca akan tercermin di kolom 5. Dengan membandingkan antara posisi keuangan sebelum revaluasi (kolom 2) dengan setelah revaluasi (kolom 5) dengan mudah kita bisa melihat bahwa aset perusahaan meningkat sangat signifikan. Adanya kemampuan perusahaan untuk menarik dana baru inilah (yang kemudian digunakan untuk capex) yang menjadi argumen para pendukung revaluasi bahwa penjualan/omzet perusahaan akan meningkat (pabrik baru yang lebih besar tentunya akan sebanding dengan peningkatan penjualan) dan otomatis pula mendorong economic growth.

Tidak ada yang salah memang dengan argumen di atas, namun perlu ditelisik lebih mendalam apakah memang semudah itu sebuah kebijakan akan dapat mendorong growth. Setidaknya terdapat tiga alasan utama mengapa relasi antara revaluasi aset dengan growth sedikit banyak too good to be true.

Pertama.

Benarkah revaluasi aset memengaruhi laporan keuangan komersial. Pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab adalah apakah memang kebijakan revaluasi ini memengaruhi laporan keuangan komersial.

Kebijakan insentif penurunan tarif pajak revaluasi ini diatur pada PMK-191/PMK.010/2015 (PMK 191). Pasal 9 ayat 1 PMK 191 menyebutkan bahwa selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap Wajib Pajak di atas nilai sisa buku komersial semula setelah dikurangi dengan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dan Pasal 6 harus dibukukan dalam neraca komersial pada perkiraan modal dengan nama “Selisih Lebih Penilaian Kembali Aktiva Tetap Wajib Pajak Tanggal……”. Dengan melihat pasal ini maka terang benderanglah bahwa kebijakan revaluasi ini memengaruhi laporan keuangan komersial. Trus, case closed right? Eits nanti dulu.

Pada akhir Desember 2015, pemerintah mengamandemen PMK 191 dengan mengeluarkan PMK-233/PMK.03/2015. Pasal 9 ayat 1 pun diubah redaksionalnya menjadi selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap Wajib Pajak di atas nilai sisa buku komersial semula setelah dikurangi dengan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dan Pasal 6 harus dicatat dalam laporan keuangan Wajib Pajak.. Apa makna dari perubahan ini? Perubahan ini bermakna bahwa kebijakan revaluasi ini adalah hanya untuk tujuan perpajakan. Bahwa apakah revaluasi ini memengaruhi laporan keuangan komersial dikembalikan ke standar akuntansi yang berlaku di Indonesia.

Untuk memahami mengapa pasal 9 ayat 1 ini diubah kita harus kembali melihat PSAK 16 tentang aset tetap. Pada prinsipnya psak ini membolehkan perusahaan untuk menggunakan metode biaya atau metode revaluasian untuk penilaian aktiva tetap. Dalam metode biaya, aktiva setelah perolehannya dicatat tetap sebesar nilai perolehannya sehingga secara implisit mengandung arti bahwa perusahaan yang menggunakan metode ini tidak dapat melakukan penilaian kembali atas aktivanya. Berbeda dengan metode biaya, perusahaan yang menggunakan metode revaluasian akan melakukan penilaian kembali aktivanya (lebih tepatnya aktiva dalam kelompok yang sama) secara teratur apabila dipandang bahwa nilai yang tersaji sekarang sudah berubah secara signifikan. Dalam metode revaluasian ini pula diatur bahwa pencatatan selisih lebih revaluasinya akan dijurnal ke akun modal (tepatnya akun surplus revaluasi).

Redaksional pasal 9 ayat 1 pada PMK 191 seolah-olah mengharuskan bahwa kebijakan revaluasi ini harus dicatat pada laporan keuangan komersial, padahal bagi perusahaan yang menggunakan metode biaya, revaluasi aktiva tetap tidak diperkenankan. Dengan demikian, perubahan redaksional pasal 9 ayat 1 untuk adalah untuk menselaraskan antara ketentuan perpajakan dengan standar akuntansi yang berlaku umun. Pasal 9 ayat 1 PMK 233 hanya mengharuskan revaluasi aktiva tetap untuk dicatat pada laporan keuangan. Definisi dicatat ini cukup luas, dia bisa berupa penjurnalan maupun hanya dicatat atau diungkap pada catatan laporan keuangan.

Simpulannya adalah bagi perusahaan yang memang menggunakan metode revaluasian ataupun perusahaan yang mulai menggunakan metode revaluasian (ingat bahwa PSAK 16 menggarisbawahi penggunaan metode biaya atau revaluasian haruslah konsisten), maka kebijakan revaluasi aset ini akan memiliki pengaruh pada laporan keuangan komersial sebagaimana diilustrasikan pada ilustrasi perusahaan tabel di atas. Namun bagi perusahaan yang mengikuti kebijakan revaluasi ini namun tetap memilih menggunakan metode biaya maka revaluasi yang dilakukannya hanya untuk kepentingan perpajakan saja dan tidak memengaruhi nilai aktiva dan modal dalam neraca (perusahaan ini hanya mencatatnya pada catatan laporan keuangan dan menghitung pengaruhnya pada rekonsiliasi fiskal).

Kembali ke pertanyaan semula, apakah kebijakan revaluasi ini memperbaiki laporan keuangan? Jawabannya belum tentu. Bagi perusahaan kecil menengah mungkin akan tetap menggunakan metode biaya mengingat untuk mengadopsi metode revaluasian sebuah perusahaan diharuskan melakukan penilaian kembali secara reguler dan ini tentunya akan memakan biaya yang tidak sedikit.

Kedua.

Let say sebuah perusahaan melakukan revaluasi baik untuk tujuan perpajakan maupun tujuan laporan keuangan komersial. Asumsikan pula saat ini perusahaan sudah melakukan penilaian kembali sehingga posisi laporan keuangannya ada pada kolom 3 tabel di atas.

Saat ini jumlah aset yang tercatat pada neraca sudah naik sangat signifikan. Dengan jumlah aset tercatat yang baru ini PT A mengajukan kredit ke bank, lalu apakah bank akan begitu saja menyetujui kredit tersebut? belum tentu.

Dalam menganalisa kredit yang diajukan calon debitur, bank pasti akan melakukan penilaian sendiri atas aset yang dijaminkan terlepas apakah nilai wajar aset tersebut telah tercatat dalam laporan keuangan atau tidak. Bayangkan anda memiliki rumah yang dibeli 10 tahun lalu seharga Rp100juta. Di “neraca” keluarga anda, rumah ini tercatat sebesar harga perolahannya Rp100juta. Apabila suatu ketika anda “menyekolahkan” sertifikat rumah ini ke bank, maka bank akan melakukan penilaian kembali untuk mengetahui berapa harga wajar rumah ini dan otomatis berapa besar maksimal plafon kredit yang dapat disetujui bank. Apakah anda mengikuti insentif revaluasi PMK 191 ini menjadi tidak relevan, karena untuk pengajuan kredit pihak bank pasti akan menilai kembali besar harga wajar rumah anda.

Kondisi aset pada kolom 3 adalah sama dengan kolom 2, jumlah asetnya tetap sama hanya saja nilai yang tercatat dalam laporan keuangan sekarang lebih mencerminkan nilai pasar sebenarnya. Apabila memang aset ini tidak digunakan sebagai jaminan utang semula, maka bisa saja aset ini digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh utang baru. Namun sekali lagi, mengajukan utang baru dengan kondisi neraca pada kolom 2 atau kolom 3 akan sama saja karena pihak bank pasti akan tetap melakukan penilaian kembali atas aset yang dijaminkan.

Ketiga.

Katakanlah sekarang perusahaan ini telah berhasil mendapatkan pinjaman sehingga kondisi keuangannya seperti pada kolom 4 tabel di atas. Pertanyaan selanjutnya adalah menggunakan dana ini untuk tujuan produktif sama sulitnya ketika berusaha mendapatkan pinjaman tersebut. Perusahaan akan dihadapkan pada beberapa pilihan investasi misalnya apakah meningkatkan kapasitas pabrik yang ada, apakah membangun pabrik baru ataukah membangun lini bisnis baru. Semuanya memiliki risiko dan potensi masing-masing dan membutuhkan analisis yang mendalam yang tentunya disertai dengan masing-masing asumsinya.

Namun apapun opsi yang dihadapi perusahaan semuanya membutuhkan waktu. Menggunakan dana yang besar membutuhkan perencanaan yang matang yang tidak selesai hanya dalam hitungan bulan saja. Membangun pabrik tidak hanya butuh sebulan dua bulan, membeli mesin baru memerlukan waktu yang cukup lama bukan dalam hitungan hari saja. The bottom line adalah kalaupun memang perusahaan bisa mendapatkan dana baru dari revaluasi ini, dampaknya kepada profitabilitas perusahaan tidak serta merta dapat dinikmati dalam hitungan bulan, akan terdapat time lag yang cukup panjang antara saat revaluasi dilakukan dengan dampaknya kepada penjualan perusahaan dan economic growth (dampak kepada perpajakan juga serupa, revaluasi tahun 2015 tidak serta merta akan memengaruhi penerimaan di 2016, mungkin butuh 2-3 tahun untuk bisa menikmati peningkatan kapasitas produksi ini tentu dengan asumsi perusahaan bisa mendapatkan dana baru, lihat kembali poin pertama dan kedua yang menjadikan kemungkinan ketiga ini menjadi semakin kecil).

Closing remark

Tulisan ini hanyalah sebuah pandangan kritis atas opini/teori mainstream yang terbentuk ketika kebijakan ini dilakukan. Tulisan ini bukan bermaksud untuk menegasikan argumentasi mereka yang mendukung kebijakan ini namun memberikan sudut pandang lain yang perlu dipahami bersama dan menjadi bahan diskusi secara ilmiah. Seperti halnya sebuah iklan promosi yang selalui disertai tanda asterik (*) “syarat dan ketentuan berlaku”, nah tulisan ini bermaksud menguraikan syarat dan ketentuan berlaku tersebut.

Terlepas dari hal tersebut di atas, baik tulisan ini maupun argumentasi bahwa kebijakan revaluasi dapat mendukung pertumbuhan ekonomi masih berada dalam tataran teoretis yang memerlukan pembuktian empiris. Saya membayangkan sekitar 2-3 tahun lagi ketika data-data sudah mulai lengkap akan ada sebuah disertasi yang membuktikan secara empiris apakah kebijakan revaluasi ini memang mampu memengaruhi pertumbuhan ekonomi atau tidak.

Sebagaimana halnya di dunia fisika, sebuah teori tidak akan pernah mendapatkan nobel jika belum teruji dalam sebuah eksperimen. Teori Einstein pada tahun 1915 baru mendapatkan nobel pada 1921, teori Peter Higgs pada 1960-an baru mendapatkan nobel pada 2013 lalu. Lalu apakah revaluasi ini berhasil memengaruhi pertumbuhan ekonomi? mudah-mudahan sebelum pemerintahan ini berakhir sudah ada kajian empirisnya. Sebelum itu terjadi, janganlah terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa didasari fakta empiris yang telah teruji, terlalu dini pula untuk mengatakan bahwa revaluasi 2015 akan memengaruhi penerimaan pajak di 2016.

Valuable comments on this article are highly appreciated

Semoga Pikiran Suci Datang Dari Segala Penjuru

Salam

I Wayan Agus Eka

Advertisements

8 Responses to “Revaluasi Aset dan Pertumbuhan Ekonomi. It’s too good to be true…”

  1. Saya sangat setuju dengan bung wayan, ilustrasi sangat jelas bagaimana reval dapat memperbaiki performa perusahaan baik dalam nilai aset, pemenuhan PMK-169/PMK.010/2015 sehingga dapat memperoleh tambahan leverage. Sayang hal tersebut (ketentuan 4:1) memang kurang tersosialisasi dengan baik pd saat peraturan reval diterbitkan. Padahal mungkin saja saat ini WP belum memahami sekali ttg ketentuan 4:1 tersebut dan kaitannya dengan reval. Good post. Keep enlightening society with good knowledge.

    • I Wayan Agus Eka said

      Betul bahwa revaluasi ini sangat terkait dengan aturan DER yang mulai berlaku di tahun pajak 2016 ini dan memang wajib pajak pada umumnya belum sadar akan hal ini. Namun yg lebih tidak kita sadari adalah bahwa revaluasi hanya akan memengaruhi DER ketika dia memengaruhi laporan keuangan komersial dan ternyata tidak semuanya seperti itu. Silakan dibaca di poin pertama artikel di atas. Salam

  2. Putuyogi said

    Sebaiknya pmk nya tetap ada dalam 2 ato 3 tahun kdepan hingga setelah ad penelitian ttg efektifitas insentif pajak atas revaluasi tsb. Kalau tidak, hasil penelitiannya akan ketinggalan jaman.

    • I Wayan Agus Eka said

      Pmk ini adalah pmk yg berbatas waktu, artinya kalau tahun 2016 sudah berakhit maka insentif revaluasi kembali menggunakan pmk yg lama dengan tarif 10%. Mengapa perlu waktu untuk melihat efektivitasnya karena sekali lg yang namanya pengeluaran modal tidak serta merta bisa dilihat waktunya hanya dalam setahun dua tahun. Salam

  3. adyatmaja said

    Muantaps pak yann…..bisa minta wejangan mengenai laporan keuangan untuk kontraktor dan konsultan arsitektur..??

  4. Rein said

    keep posting Bro, agak susah meraba chaneling revaluasi aktiva ke economic growth, karena keputusan investasi sangat tergantung dengan visi manajemen dalam melihat potensi bisnis.

  5. nifeby said

    Selamat malam pak wayan,
    Saya sangat tertarik dengan tema pembahasan bpk diatas mengenai adakah pengaruh revaluasi terhadap pertumbuhan ekonomi dan Saya berniat ingin menguji atas beberapa perusahaan yang telah melakukan revaluasi sebagai bahan penelitian tesis saya.
    Bisakah bpk bantu saya memberikan daftar beberapa perusahaan yang melakukan revaluasi selama tahun 2015-2016.

    Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: