DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Archive for January, 2012

Teori Keagenan, Maximizing Shareholders (Life) Value dan Tri Hita Karana

Posted by I Wayan Agus Eka on January 15, 2012

Dalam sebuah entitas ekonomi (bahkan institusi publik sekalipun), manajemen (atau pemerintah) merupakan agen dari pemilik modal (rakyatnya) yang memiliki tugas utama untuk meningkatkan nilai mereka (maximizing shareholders value). Segala tindakan dari sebuah manajemen adalah dalam rangka meningkatkan nilai pemegang sahamnya. Inilah inti dari teori keagenan dalam berbagai literatur ekonomi. Dalam perkembangannya teori ini juga diadopsi pada ranah manajemen publik dengan melibatkan pemerintah sebagai agen dari rakyatnya.

Disadari ataupun tidak, teori ini juga berlaku dalam kehidupan ini. Kita semua adalah agen-agen bagi orang lain untuk meningkatkan nilai mereka dan disaat yang sama kita juga berposisi sebagai shareholder bagi mereka. Bedanya, dalam teori keagenan kehidupan shareholdernya bukanlah pemegang saham tapi semua hal di luar kita, yaitu orang tua, saudara, pasangan, anak, rekan kerja, bahkan makhluk hidup dan alam ini seluruhnya. Nilai yang dimaksimalkan juga bukan nilai saham namun nilai dalam arti luas antara lain kedewasaan, pencapaian, penerimaan, pengetahuan, penghargaan dan lain sebagainya.

Berbagi dan Pemaksimalan Nilai
Lalu bagaimana caranya meningkatkan nilai shareholders kita? Bertolak belakang dengan premis matematika dimana berbagi dimaknai sebagai pengurangan (minus), maka dalam teori keagenan kehidupan berbagi adalah cara paling efektif untuk meningkatkan nilai shareholders termasuk nilai kita sendiri sebagai shareholders bagi mereka di luar kita. Berbagi memang mengurangi pada saat kita melakukannya namun suatu saat jumlah yang kita terima akan berlipat-lipat. Selayaknya menabung yang mengurangi nilai uang di kantong kita, namun suatu saat kita dapat menikmati kembali uang tersebut bahkan dengan bunganya sekaligus.

Proses pemaksimalan
Bayangkan dua orang anak manusia berbeda jenis, sang lelaki dan sang wanita. Kita asumsikan mereka berdua memiliki masing-masing memiliki modal nilai sejumlah 10. Proses pernikahan dipercaya berbagai agama sebagai salah satu sarana untuk memaksimalkan nilai kedua orang ini.

Ketika mereka berpasangan, masing-masing bertindak sebagai agen dari pasangannya, mereka bersepakat untuk saling berbagi dengan menyerahkan sebagian modal nilai mereka kepada pasangannya. Mengapa sebagian? Karena sisanya mereka gunakan untuk kehidupan mereka masing-masing, untuk pekerjaan, orang tua, masyarakat, anak dan lain sebagainya. Proses berbagi antara kedua anak manusia berbeda jenis inilah yang nantinya akan memaksimalkan nilai mereka masing-masing sehingga bahkan akan mampu memperoleh nilai di atas modal mereka semula yaitu 10. Inilah yang dalam pepatah sering disebut dibalik laki-laki yang hebat terdapat wanita yang hebat dan sebaliknya di balik wanita yang hebat terdapat laki-laki yang juga hebat.

Lalu apakah selamanya akan terjadi proses pemaksimalan nilai dalam hubungan pasangan ini? Jawabannya tentu tidak. Setiap manusia pada dasarnya memiliki standar pengharapan masing-masing dari pasangannya. Misalnya dalam perumpamaan ini standar pengharapan si wanita adalah 6, namun sang laki-laki hanya bisa memberikan 5 saja karena selebihnya dia gunakan untuk pekerjaan kantornya, adiknya, bisnisnya, orang tuanya dst. Apabila si wanita tidak mau menerima nilai yang dibawah standarnya maka alih-alih akan terjadi pemaksimalan nilai yang terjadi justru akan mengurangi nilai masing-masing karena energi mereka berdua terkuras untuk konflik dan pertentangan. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tidak ada cara lain selain yang disebut dengan pengertian, selisih sejumlah 1 (6-5) antara standar pengharapan sang wanita dengan nilai yang dia dapat dari pasangannya adalah apa yang disebut dengan pengertian dan penerimaan.

Secara teori, apa yang diilustrasikan di atas sangat simpel dan sederhana sehingga terkesan sangat gampang untuk dilaksanakan, namun pada prakteknya tidak semudah itu. Pertentangan selalu akan terjadi, tawar menawar selalu akan sengit untuk menuju titik temu yang dalam istilah ekonomi disebut harga.

Contoh di atas hanya merupakan gambaran sederhana bagaimana proses pemaksimalan nilai seseorang yang terbentuk dalam hubungan antara sepasang anak manusia. Proses lainnya juga berlaku untuk pola hubungan yang lain seperti hubungan keluarga, hubungan rekan kerja di kantor bahkan hubungan kita dengan Tuhan dan lingkungan sekitar. Bukan sebuah kebetulan pula apabila pola hubungan (keagenan) ini dalam konsep tradisional Hindu sering disebut dengan Tri Hita Karana, sebuah konsep yang menyebutkan bahwa keseimbangan semesta terbangun dari keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alamnya.

Semoga kita semua mampu menjadi agen-agen yang akan memaksimalkan nilai shareholders kita.

Advertisements

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Ketika Orang Mabuk Bukan Karena Miras

Posted by I Wayan Agus Eka on January 14, 2012

“ahh..elo lagi elo lagi” gumam saya ketika mata ini dipertontonkan adegan kekerasan layak sensor. Niatnya sih mulia, ingin memperjuangkan supaya perda miras tidak dicabut. Tapi apa gunanya niat yang mulia ketika diejawantahkan dalam lemparan batu dan ayunan tongkat kayu.

Tidak hanya sekali ini saja, catatan sejarah menunjukkan perilaku yang sama sudah sangat sering diperagakan, lalu apa gunanya ilmu Ilahi yang dikuasai kalau semuanya berujung anarkisme. Sejarah masa lalu sudah banyak memberikan gambaran kalau perjuangan dengan kekerasan hanya akan menyisakan pihak yang kalah, tidak ada yang menang. Namun sebaliknya, perjuangan dengan mengandalkan diplomasi dan kekuatan rasa atau pikiran sudah banyak terbukti keberhasilannya, lihatlah India dengan Gandhi, lihatlah Aceh dengan JK.

Pikiran bodoh saya sering bercanda kepada saya, kalau seperti ini mungkin lebih baik miras dibiarkan saja beredar dengan bebas, kalau orang sudah mabuk palingan dia hanya teriak-teriak ga jelas, jalan terhuyung huyung lalu rebah menghujam tanah, tinggal keesokan harinya diguyur air saja daripada mereka yang anti miras (dan logikanya tidak pernah mabuk) tetapi merusak dan mengancam orang lain. Saya menjadi heran, kalau sudah seperti ini siapa yang sebenarnya lagi mabuk???

Kata Bang Haji, miras memang memabukkan, tetapi nafsu merusak ternyata lebih dahsyat memabukkannya daripada miras. Kalau sudah seperti ini, Bang Haji sepertinya harus mengubah lirik lagunya.

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »