DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Archive for December, 2010

Civil Failure

Posted by I Wayan Agus Eka on December 6, 2010

“ini adalah kegagalan pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya”, “pemerintah tidak becus mengurus negara ini”, “DPR juga menjadi rumah bagi para koruptor”, itulah beberapa kritikan (kalau memang tidak mau disebut sebagai hinaan) yang sering rakyat sampaikan dalam kesempatan apapun yang kalau mau diperpanjang mungkin tidak akan pernah ada habisnya. Kebebasan berpendapat di negeri ini bagai anak bayi yang baru lahir yang selalu akan menangis, menangis bukan hanya dikala dia sedih tapi juga menangis dikala senang bahkan dikala tidak terjadi suatu apapun. Tangisan seorang bayi yang baru lahir menandakan dia lahir sehat, mudah-mudahan dengan kebebasan berpendapat ini, menandakan sehatnya kelahiran sebuah demokrasi di negara ini.

Sudah lebih dari satu dekade kita baru menikmati apa yang kita sebut sebagai demokrasi setelah lebih dari 3 dasawarsa terkungkung oleh apa yang kemudian kita sebut diktator yang berbungkus demokrasi. Namun ketika kita memutar kembali memori kita selama 12 tahun usia demokrasi ini, rasanya apa yang kita rasakan masih jauh dari harapan, bahkan mungkin harapan itu semakin bertambah jauh. KKN yang menjadi musuh bersama reformasi kembali muncul dengan berbagai wajah barunya dan mungkin semakin dahsyat dibandingkan sebelum reformasi. Apatisme rakyat semakin menjadi-jadi kepada pemerintah sehingga apapun yang dilakukan pemerintah praktis rakyat sudah tidak memberikan kepercayaan. Sebaik apapun program pemerintah pasti ada saja celah untuk dikritik bahkan dicaci.

Apa yang kita sebut sebagai demokrasi yang tumbuh di Indonesia ini ibarat lingkaran setan yang tidak memiliki awal dan akhir. Rakyat terhimpit dengan kebutuhan hidup lalu kemudian memilih calon wakil dan calon pemimpin yang berani memberi uang. Begitu terpilih mereka kemudian berusaha mengembalikan modal dengan berbagai cara dan korupsi adalah cara paling utama. Apa yang dikorupsi tersebut sebenarnya merupakan hak rakyat yang seharusnya mereka nikmati melalui budget dan program pemerintah. Ketika rakyat tidak menikmati haknya lalu kebutuhan mereka tidak terpenuhi lagi, munculah sikap apatis tadi dan lingkaran setannya mulai lagi seperti semula. Hal ini terus-menerus berlangsung tanpa kita sadari.

Lingkaran setan tadi memunculkan apa yang dalam teori public finance disebut sebagai government failure, namun failure dalam bahasan saya ini saya artikan lebih luas, tidak hanya dalam arti kegagalan intervensi pemerintah ke dalam pasar sebagaimana arti sebenarnya dalam teori public finance namun juga kegagalan pemerintah dalam mewujudkan cita-cita bangsanya sebagaimana diamanatkan konstitusi.

Sebagian besar di antara kita menganggap Government failure sebagai sebuah sebab atau dalam istilah statistiknya disebut sebagai problems. Kemiskinan adalah kegagalan pemerintah, pengangguran, ketidakberdayaan, pelecehan negeri tetangga bahkan bencana alampun kita sebut sebagai kegagalan pemerintah. Namun sedikit yang menganggap bahwa government failure sebenarnya merupakan sebuah gejala (dalam istilah statistik disebut sebagai symptoms). Lalu apakah real problemnya???real problemnya adalah kita semua, saya, anda dan semua rakyat Indonesia. Kitalah yang sebenarnya memiliki kekuatan untuk memutuskan lingkaran setan tadi, bukan pemerintah. Kitalah yang harus memupuk kesadaran untuk memotong lingkaran setan tadi bukan pemerintah, karena itulah inti dari demokrasi yang selama ini kita anggap sudah lahir di negeri ini. Karena kitalah pusat demokrasi itu maka kitalah penanggung jawab dari semua kegagalan yang ada termasuk government failure. Government failure di negara ini hanya sekedar gejala, tapi penyebab utamanya adalah civil failure, kegagalan anda, kegagalan saya dan kegagalan kita semua. Kita gagal untuk menciptakan pemerintahan dan parlemen yang bersih karena kita juga tidak bersih ketika memilihnya, kita gagal mewujudkan negara yang maju karena suara kita seringkali hanya seharga nasi bungkus, kaos, sembako dan uang sepuluh ribu rupiah. Inilah yang saya sebut sebagai civil failure.

Mari kita putuskan lingkaran tadi bersama-sama, keep positive.

I Wayan Agus Eka

Advertisements

Posted in Daily Notes | 1 Comment »

Negeri Van Oranje

Posted by I Wayan Agus Eka on December 4, 2010

Semuanya berawal dari penerbangan yang tertunda akibat cuaca buruk di bandara schipol belanda. 5 orang mahasiswa indonesia kemudian bertemu dalam kondisi yang tidak mereka duga sebelumnya. 5 orang yang memiliki latar belakang berbeda, daus sang pns depag keturunan betawi asli, banjar anak juragan bawang, geri sang pria idaman setiap kaum hawa, wicak sang jawara karena keberaniannya melawan cukong kayu dan terakhir lintang si embun yang menyejukkan keempat cowok-cowok tadi.

Pertemuan yang kemudian berlanjut menjadi persahabatan dengan segala warna-warninya,kesetiaan,penghargaan,senasib sepenanggungan,saling pengertian walaupun tidak jarang juga diselingi dusta,konflik dan persaingan.

Dengan setting di negeri kincir angin novel ini mampu mengajak pembacanya menjelajahi keindahan belanda melalui kekuatan kata-kata imajinasinya. Tidak hanya itu, sang penulis juga menyelipkan berbagai tips bagi para backpacker yang akan menjelajah tidak hanya belanda tapi juga negeri-negeri lain di daratan eropa. Dengan kekuatan kata-katanya,penulis mampu melukiskan keindahan berbagai macam destinasi wisata di eropa.

Dari sisi cerita, sang penulis mampu menghadirkan cerita yang sangat menarik dan menghibur. Humor-humor ala mahasiswa mampu membuat bibir ini tersenyum simpul ketika membacanya,meskipun di beberapa bagian novel ini juga menghadirkan kesedihan dan tragedi. Ya, saya sebut tragedi karena ada unexpected reality di bagian-bagian akhir ceritanya (baca aja ya, kalau tak sebut di sini nanti ga seru,hehehe).

Karena wayangnya adalah mahasiswa maka sudah barang tentu cinta adalah jualan utamanya. Dan yang kemudian menjadi kembangnya siapa lagi kalau bukan Lintang, sementara daus, wicak dan banjar menjadi kumbangnya. Trus, geri kemana?apa dia ga suka ama lintang, atau punya cewek lain atau apa, tapi yang jelas saya yakin terkaan kalian 90 persen salah,baca aja pokoknya,hehehe.

Novel yang menurut saya cukup menghibur dan bisa membuat kaki saya naik meniru gaya sepeda ketika tertawa (karena saya sering membaca sambil tidur terlentang trus kalau membaca bagian yang lucu otomatis kaki ini naik sembari menggoes dan terpingkal-pingkal,hehehe). Selamat membaca.

I Wayan Agus Eka

Posted in Book that i've read | 4 Comments »