DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Agus Aris Munandar: Gajah Mada, Biografi Politik

Posted by I Wayan Agus Eka on July 8, 2010

Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini, barangkali inilah sosok yang keterkenalannya melebihi rajanya sendiri. Sosok yang digambarkan oleh buku-buku sejarah jaman kita SD dulu sebagai orang yang gagah, besar, kuat, tegas dan sederet julukan-julukan hebat lainnya.

Dari semenjak lahirnya Gajah Mada sudah mengundang perdebatan tersendiri. Ada kitab yang menyebutkan bahwa dia adalah titisan dari Dewa Wisnu sebagai salah satu awatara. Namun, banyak juga ahli yang meyakini bahwa dia adalah salah satu keturunan pembesar Majapahit sendiri, jadi dalam darah Gajah Mada memang sudah ada darah ksatria dari kerajaan Majapahit itu sendiri.

Pemberontakan Kuti adalah peristiwa yang mengangkat nama Gajah Mada. Dia memimpin 15 orang pasukan Bhayangkara untuk mengungsikan Raja Jayanegara ke Bedander. Cukup menarik karena oleh pengarang buku ini, jumlah pasukannya yang 16 orang, kelipatan 8 (15 orang ditambah Gajah Mada sendiri) ditafsirkan sebagai dewa penjaga delapan arah mata angin yang menjaga Shiva (jayanegara) di tengah-tengahnya. Meskipun demikian, Gajah Mada kemudian dianggap juga berperan dalam pembunuhan Jayanegara yang dilakukan oleh tabib ra Tanca. Gajah Mada yang dianggap sudah mengetahui rencana pembunuhan tersebut justru membiarkannya karena Gajah Mada menganggap bahwa Jayanegara sudah tidak pantas lagi memimpin kerajaan karena sering melakukan tindakan asusila yaitu suka menganggu dan berhubungan dengan wanita-wanita yang sudah bersuami.

Kemudian di bawah pemerintahan Tribuana Tunggadewi, Gajah Mada mulai merealisasikan sumpahnya dengan menyerang Bali di empat penjuru. Penyerangan ini membawa sejumlah besar pasukan majapahit yang dipimpin beberapa Arya-Arya yang sekarang menjadi silsilah keturunan masyarakat Bali. Namun upaya penaklukan Bali ini bukannya tanpa perlawanan, adalah Ki Pasung Grigis yang menjadi duri dalam daging usaha Gajah Mada. Dia selalu berhasil meloloskan diri dan selalu memberikan perlawanan sengit kepada pasukan Majapahit. Akhirnya Gajah Mada bersiasat dengan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Ki Pasung Grigis kemudian menyambutnya dengan suka cita. Ketika terjadi pertemuan antara keduanya, Gajah Mada kemudian mengeluarkan siasatnya, Gajah Mada meminta Ki Pasung Grigis untuk memanggil anjing hitamnya yang konon mengerti kata-kata manusia. Tanpa basa basi Ki Pasung Grigis kemudian memanggil anjing itu seraya menjanjikan makanan kepadanya, namun ketika anjing itu datang bukan makananlah yang diberikan Ki Pasung Grigis namun hanya sebuah batok kelapa. Melihat kejadian ini Gajah Mada langsung menghardik dan memaki bahwa Ki Pasung Grigis sudah melakukan perbuatan yang pantang dilakukan para ksatria. Seorang ksatria pantang mengingkari janji bahkan kepada binatang sekalipun dan perbuatan melanggar janji adalah perbuatan yang sangat rendah. Mendengar makian Gajah Mada, Ki Pasung Grigis hanya bisa berdiam diri menyadari kekeliruannya dan kemudian mengakui kekalahannya dari Majapahit.

Oh ya, satu konsep kehidupan yang saya dapat dari buku ini adalah salah satu konsep istri dalam pandangan Hindu. Bahwa pada hakikatnya istri itu adalah energi bagi suami. Konsep yang mendasari hal ini adalah konsep sakti. Kita tentu sudah paham bahwa sakti dalam salah satu definisinya juga berarti istri, sakti Dewa Siwa adalah Dewi Parwati, sakti Dewa Brahma adalah Dewi Saraswati, dll. Jadi kekuatan dari para dewa tersebut tercermin dalam saktinya/istrinya.

Tak pelak lagi, peristiwa Bubat dianggap sebagai catatan hitam seorang Gajah Mada yang menodai jasa-jasa yang sudah dia lakukan. Peristiwa yang pada awalnya merupakan prosesi pernikahan antara Raja Hayam Wuruk dengan putri kerajaan Sunda Dyah Pitaloka. Sebagai satu-satunya kerajaan di pulau Jawa yang belum mengakui kerajaan Majapahit, maka pernikahan putri Sunda ini merupakan upaya untuk memperluas pengaruh Majapahit di seluruh pulau Jawa. Namun, Gajah Mada justru meminta agar sang putri diantar kepada raja Majapahit sebagai persembahan dan bukti bahwa Sunda sudah takluk di tangan Majapahit. Permintaan inilah yang memicu pertempuran di lapangan Bubat yang akhirnya membunuh sang putri dan raja Sunda.

Tafsiran baru dalam buku ini menyebutkan bahwa bukan Gajah Mada yang menjadi penyebab utama terjadinya peristiwa berdarah di Bubat. Adalah orang tua Hayam Wuruk, Krtawardana dan TribuanaTunggadewi, yang menjadi aktor utama peristiwa ini. Orang tua Hayam Wuruk agaknya sudah berjanji kepada Rajadewi Maharajasa, adik tribuana, untuk menikahkan putrinya yang bernama Indudewi kepada Hayam Wuruk, sehingga apabila Dyah Pitaloka benar-benar akan menikah dengan Hayam Wuruk maka Indudewi hanya akan menjadi selir raja saja dan akan mengundang perpecahan di kalangan dalam keluarga raja Majapahit. Untuk mencegah hal ini maka orang tua Hayam Wuruk meminta kepada Gajah Mada agar pernikahan tersebut digagalkan dan kemudian terjadilah peristiwa Bubat.

Seandainya tafsiran itu benar maka Gajah Mada bukanlah yang bertanggung jawab dalam peristiwa Bubat tersebut, dia hanya menjalankan perintah kedua orang tua Hayam Wuruk. Namun, Gajah Mada mendapatkan getahnya sampai sekarang, dia selalu dicaci dan dimaki, bahkan dalam kidung sunda disebutkan bahwa Gajah Mada akhirnya dibenci keluarga Majapahit karena telah menggagalkan pernikahan agung Hayam Wuruk. Mungkin begitulah nasib para pahlawan, jasa-jasanya seolah-olah lenyap hanya oleh satu kesalahan yang belum tentu dia yang melakukannya. Gajah Mada juga manusia.

I Wayan Agus Eka

Advertisements

16 Responses to “Agus Aris Munandar: Gajah Mada, Biografi Politik”

  1. sepertinya terkait dengan pembunuhan jaya negara oleh ra tanca ada beberapa versi, versi berbeda sy sempet baca di buku gadjah mada karngan langit kresna hariadi. btw nice post bli.
    🙂

  2. I Wayan Agus Eka said

    iya, sejarah memang punya versinya masing-masing gus. Di buku ini juga si pengarang ada kritik implisit pada buku-buku ttg gajah mada yang berbau novel itu. Bli belum baca novelnya, nanti deh setelah beberapa waiting list buku selesai dibaca baru ngambil seri novelnya Gajah Mada

  3. Made edY said

    tulisan yang Top Bli Gosenk..

  4. dildaar80 said

    Ada yang janggal menurut saya mengenai sejarah tentang kematian Dyah Pitaloka yang merupakan putri dari Raja Lingga Bhuwana dari kerajaan Sunda, walau cerita itu berdasarkan Pararaton yang notabene adalah sastra peninggalan Jawa namun kalau kita cermati sepertinya ada pemutarbalikan cerita.

    Menurut sejarah yang sedang berlaku saat ini, Dyah Pitaloka atau Citrasemi dilamar oleh Hayam Wuruk untuk dijadikan permaisuri, rencana perkawinan ini diceritakan sebagai perkawinan politik guna menyatukan wilayah Jawa di bawah kekuasaan Majapahit. Oleh Raja Lingga Bhuwana pinangan Hayam Wuruk kepada putrinya yaitu Dyah Pitaloka yang terkenal pandai dan cantik akan diterima dengan satu syarat yaitu status Dyah Pitaloka bukan dijadikan upeti raja, dan sejarah saat ini menyebutkan kalau Hayam Wuruk menyetujuinya. Akhirnya rombongan pengantin berangkat ke Majapahit, namun ketika sampai di Lapangan Bubat terjadi perselisihan karena Patih Gajah Mada mengingkari kesepakatan dan memaksa Raja Lingga Bhuwana menjadikan Dyah Pitaloka sebagai upeti, akhirnya pertarungan pun terjadi, rombongan pengantin Sunda itu ditumpas habis oleh sepasukan prajurit Majapahit dan berakhir dengan bunuh diri oleh Dyah Pitaloka. Konon kecantikan dan kepandaian Dyah Pitaloka sangat tinggi, sampai mpu Prapanca yang mengarang Negarakrtagama mengirimi 2 karya sastra nya. Dari beberapa tulisan menyebutkan, setelah peristiwa itu mengakibatkan hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada merenggang, sampai berujung meninggalnya Gajah Mada.

    BENARKAH DEMIKIAN?
    Ada yang janggal menurut saya!,
    Jika Raja Linggabhuwana memberikan persyaratan kepada Hayam Wuruk bahwa putrinya tidak boleh dijadikan upeti, maka berarti sebelumnya Sunda telah mengirimkan upeti berupa harta benda kepada Majapahit, dengan demikian Sunda telah lama menjadi bawahan Majapahit, dan secara tidak langsung menjawab argumen yang menyatakan bahwa Sunda adalah kerajaan yang tidak pernah dikuasai oleh Jawa.
    Dan sejarah yang menyebutkan bahwa rencana perkawinan tersebut sebagai perkawinan politik itu pun sama tidak benarnya, karena tidak ada suatu alasan apapun yang membuat Hayam Wuruk untuk melakukan itu karena Sunda telah menjadi kerajaan bawahan. Dengan mengacu data tersebut saya menyimpulkan bahwa pada saat itu tidak ada proses peminangan Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka.
    Untuk mendapatkan kesinambungan cerita mengenai peristiwa Lapangan Bubat, saya melakukan pengkajian terbalik yaitu sebagai berikut: untuk mendapatkan posisi lebih kuat atau malah lepas dari kekuasaan Majapahit justru Raja Sunda melakukan siasat politik dengan menjadikan putri nya sebagai upeti pada saat paseban di Majapahit, dengan kemampuan Dyah Pitaloka yang terkenal sangat pintar dan siasat Linggabhuwana yang jitu diharapkan minim Hayam Wuruk mau menerima Dyah Pitaloka menjadi istrinya, entah sebagai selir atau malah permaisuri, dengan demikian secara otomatis Linggabhuwana menjadi mertua dari Raja Majapahit, dan status Sunda lebih dari sekedar kerajaan bawahan, selain itu dengan kecerdasan Dyah Pitaloka yang dibanggakan segenap rakyat Sunda, diharapkan bisa mengambil hati Hayam Wuruk dengan demikian Majapahit bisa dikuasai secara tidak langsung dari sisi politik maupun kehidupan pribadi raja.
    Sedangkan peristiwa sewaktu di Lapangan Bubat dimulai dari beberapa konflik, sebenarnya Lapangan Bubat adalah bukan alun-alun utama dekat keraton, melainkan alun-alun besar untuk segala kegiatan kerajaan kepada segenap rakyat Majapahit dan tidak jauh dari tempat peristirahatan para tamu sebelum diperkenankan menghadap, itupun jaraknya masih jauh agar jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan effectnya tidak mempengaruhi stabilitas lingkungan kerajaan, dengan kata lain Lapangan Bubat adalah alun-alun di luar kota praja, rencana yang akan dilakukan oleh Linggabhuwana terdengar oleh teliksandi Majapahit dan sampai pula oleh Permaisuri, bahwa rencana Linggabhuwana akan menjadikan Dyah Pitaloka sebagai bagian dari upeti yang akan diserahkan secara mendadak ketika pertemuan agung ,dengan demikian Hayam Wuruk tidak mempunyai cukup alasan untuk menolak, sebab dengan penolakan itu sebagai Raja besar akan melecehkan martabat perempuan yang sebenarnya dengan banyak wanita disekelilingnya sah saja sehingga juga akan memberikan kesan Hayam Wuruk sebagai raja yang tidak bertatakrama dan yang paling memalukan adalah takut karena permaisurinya.
    Dari rencana itu mengundang reaksi keras oleh Permaisurinya, salah satunya menyuruh Mpu Prapanca(pengarang Negara Krtagama) mengirimkan karya sastra yang isinya ajaran keutamaan seorang wanita, yang dikirimkan adalah sebuah karya sastra hal ini mengandung maksud banyak diantaranya bahwa sastra adalah karya seni yang maknanya bisa dimengerti dengan pendalaman perasaan, dengan memberikan karya sastra tersebut permaisuri Majapahit menunjukkan statusnya, dengan sastra tersebut mengandung sindiran tajam yang berarti ancaman, jika Linggabhuwana dan Dyah Pitaloka masih tetap melanjutkan rencananya maka dari sastra tersebut secara tidak langsung mencetuskan bahwa mereka tidak mengerti akan sastra dan secara kasar menyebutkan bahwa Dyah Pitaloka tidak seperti apa yang diagung-agungkan rakyat Sunda karena dari sastra yang dikirimkan permaisuri Majapahit dirinya tidak bisa memahaminya.
    Tatkala sastra sudah dikirimkan namun rombongan dari kerajaan Sunda masih tetap mengarah ke Bubat, semakin memancing reaksi keras oleh permaisuri Majapahit, hal ini sempat dibicarakan pribadi dengan Hayam Wuruk, namun Hayam Wuruk hanya mengambil sikap diam di depan permaisurinya, diamnya Hayam Wuruk ini mengandung maksud bahwa peristiwa ini biar dihadapi oleh permaisurinya, sehingga jika ada kejadian apapun semata-mata adalah sikap permaisurinya untuk menunjukkan baktinya dan permasalahan antar wanita, dari kejadian itu mengundang amarah permaisurinya sampai dirinya akan turun langsung menghadapi Linggabhuwana dan Dyah Pitaloka bagaikan ksatria, namun hal itu dilarang oleh Hayam Wuruk agar ingat posisi permaisuri sebagai wanita utama dengan tidak bersikap seperti pria, sebagai gantinya di utuslah Gajah Mada sebagai Mahapatih Majapahit untuk membereskanlah semua, setelah mencapai wilayah lapangan Bubat, dicegatlah rombongan itu dengan sepasukan Majapahit dipimpin oleh Gajah Mada, disitu terjadi perdebatan yang memaksa Linggabhuwana untuk tidak meneruskan niatnya yang di sejarah sekarang menyebutkan bahwa Gajah Mada mengingkari kesepakatan status Dyah Pitaloka, akhirnya pertarungan tidak bisa dielakkan, karena Linggabhuwana tidak mau mengurungkan niatnya, dan berakhirlah dengan kematian Linggabhuwana disusul bunuh diri oleh Dyah Pitaloka.

    Jika kita mencermati kejadian tersebut ada maksud yang tidak kita sadari, contohnya: Mpu Prapanca disebut dalam penulisan cerita memberikan karya sastranya kepada Dyah Pitaloka sebagai bukti betapa terkenalnya Putri Sunda akan kepandaiannya, tentunya cerita ini dapat dimaklumi karena dengan menyebutkan demikian tidak memojokkan posisi Dyah Pitaloka sebagai seorang putri yang berbakti kepada ayahnya, dan hal itu karena dilihat dari sudut pandang rakyat kebanyakan di kala itu, bisa dibayangkan jika kala itu masyarakat melihat yang datang Mpu Prapanca yang seorang ahli sastra melainkan seorang perwira yang menyerahkan surat ancaman kepada Sunda, maka akan bergolaklah masyarakat Majapahit dan hal itu tentunya tidak dikehendaki oleh Raja Hayam Wuruk.
    Mengapa peristiwa itu harus di Lapangan Bubat jika teliksandi Majapahit telah melaporkannya ke Majapahit, kenapa tidak di tempat lain misal di perjalanan yang jauh dari Majapahit? Dalam memutuskan di mana tempat untuk menyelesaikan masalah itu sebenarnya hal yang sangat enteng, namun perlu dicatat dibiarkannya rombongan ini sampai Bubat adalah untuk memberikan waktu antara Dyah Pitaloka dan Linggabhuwana untuk berpikir ulang mengenai rencananya, selain itu jika prajurit Majapahit melakukan hal itu tentunya di tempat lain akan menimbulkan kesan bahwa Majapahit bertindak gegabah dan Linggabhuwana bisa membangun argument dan alibi bahwa dia pihak yang dirugikan, dari sisi Majapahit merupakan pengeluaran yang dipandang tidak perlu walau Majapahit tidak kekurangan untuk itu, dan jika rombongan Sunda semakin mendekat ke Majapahit akan memberikan kesan kepada Linggabhuwana bahwa rencananya berjalan mulus sehingga dirinya tidak perlu menyiapkan strategy lain, dengan demikian Majapahitpun sudah menang strategy dan secara keadaan Majapahit bisa mengisolasi kekuatan Sunda.
    Mengapa setelah sampai di Lapangan Bubat rombongan Sunda yang sedikit ini harus dihadapi dengan sepasukan Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada?, jawabannya adalah inilah cara Majapahit menghormati lawan dalam berperang, walau serombongan kecil namun yang memimpin adalah seorang Raja, bagaimanapun raja adalah pemimpin kerajaan, apa jadinya kalau rombongan kecil dari Sunda yang dipimpin rajanya meninggal karena mempunyai niat kurang terpuji dan meninggalnya karena berhadapan dengan seorang perwira, bukankah akan memalukan raja itu sendiri sampai alam kubur juga semua rakyat Sunda kala itu, dengan begitu sekecil apa rombongan itu karena sudah dipimpin rajanya langsung maka dianggap sebagai pasukan besar, itulah tata krama keprajuritan yang dilakukan oleh Majapahit kepada musuhnya.

    Mengenai peran permaisuri Majapahit, di sejarah yang berkaitan dengan peristwa Bubat menyebutkan setelah kejadian itu Hayam Wuruk sangat bersedih, setelah beberapa lama Hayam Wuruk menikah dengan Indudewi/Padukasori dari Wengker, jika kita rangkai dengan cerita pembangunan Gapura Bajang Ratu dan pengalihan fungsi Kolam Segaran akan didapatkan cerita yang menguatkan bahwa permaisuri majapahit telah ada jauh sebelum peristiwa Bubat dimana Gapura Bajang Ratu adalah sebenarnya adalah gapura taman peristirahatan yang menyatu dengan kolam Segaran dan Candi Tikus(data bisa dibaca di post saya mengenai perjalanan ke Majapahit).
    Sebenarnya jika kita perdalam, peristiwa Bubat adalah perselisihan antara Permaisuri Majapahit melawan putri Dyah Pitaloka, namun karena peristiwa tersebut dimotori dari ide Raja Linggabhuwana maka yang dilakukan Permaisuri Majapahit adalah menggulung rencana pengkhianatan ini sampai ke akar-akarnya(tumpes tapis), kadang kita tak terpikir atau tak percaya bahwa peristiwa lapangan Bubat ini adalah seorang wanita, namun setidak-tidaknya itulah yang terjadi, penggambaran sosok Durgamahisa suramardini menghancurkan apa yang mengganggu dirinya, perwujudan Uma/parwati dalam sosok keanggunan pendamping Raja Majapahit yang berubah menjadi menyeramkan( mirip disebut triwikrama) menghancurkan habis rombongan itu.
    Lantas mengapa sampai saat peristiwa lapangan Bubat ini dicatat dalam sejarah sebagai kesalahan Majapahit? Jika mau maka Majapahit akan mencatat dalam sebuah prasasti sebagai peringatan keras akan rencana pemberontakan ini, dan saya rasa permaisuri menghendakinya, namun hal itu tidak disetujui oleh Hayam Wuruk secara pribadi karena akan mempermalukan seluruh keturunan dari kerabat Kerajaan Sunda. Sementara kejadian tersebut dicatat lain dalam Pararaton, maka saya mengembalikan validitas Pararaton yang telah ditemukan baik penerjemahan, waktu pembuatan dan ketepatan penulisan sejarahnya.

    Benar tidaknya sudut pandang saya mengenai peristiwa Lapangan Bubat saya kembalikan bagaimana sejarah itu dilihat, walaupun sejarah sekarang berdasarkan Pararaton adalah suatu pertanyaan juga, benarkah Pararaton yang dijadikan acuan adalah yang aslinya atau sesuaikah penterjemahan Pararaton dengan masa lalu atau justru sifat Pararaton sebagai sumber sejarah adalah data bias jika dibanding dengan prasasti. Penulisan post ini bukan bermaksud memutarbalikkan fakta yang tentunya akan menyinggung banyak kalangan, seperti halnya ada pihak yang tidak mau mengakui bahwa Gajah Mada sebagai pemersatu nusantara, atau penolakan nama Hayam Wuruk dan Gajah Mada sebagai nama jalan karena cerita Dyah Pitaloka, karena tanpa itupun bagi saya Hayam Wuruk adalah Raja besar dari Jawa yang keagungannya sama tinggi dengan Rakai Pikatan yang membangun Candi Prambanan, dengan Gunadharma yang membangun candi Borobudur, dengan Mpu Sindok yang memindahkan Mataram ke Jawa Timur, Dengan Airlangga yang membangun Kahuripan, dengan Bathara Parameswara yang menurunkan Raja-raja tangguh juga sebagai Hayam Wuruk sendiri sebagai titisan Wisnu pemersatu Nusantara hingga asia tenggara.

    beberapa data yang patut dikaji ulang mengenai peristiwa Bubat
    1. Kidung Sunda,
    Bahwa ketika melihat Dyah Pitaloka mati, Hayam Wuruk sedih hatinya dan tak lama setelah itu maka Hayam Wuruk meninggal dunia, yang menjadi pertanyaan adalah jika setelah beberapa saat peristiwa Lapangan Bubat Raja Hayam Wuruk mangkat maka pada usia berapa tahun Hayam Wuruk memiliki anak yaitu Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana, andai saja kidung itu benar seharusnya akan ada masa kekosongan posisi Raja Majapahit karena putri Kusumawardhani masih kecil dan ini tentunya akan jauh lebih heboh.
    Disebutkan bahwa utusan Majapahit ke Sunda hanya menempuh waktu 6 hari dengan menggunakan kapal, jika menggunakan kapal besar kemungkinannya melalui sungai brantas, sementara sungai brantas bermuara di selat surabaya berarti jauh sekali, jika melalui laut selatan mungkinkah? lantas benarkah kejadian tersebut!

    2. simulasi angka tahun sejarah(data diambil dari wikipedia)
    – 1334 Hayam Wuruk lahir (ditandai dengan gempa besar di prabanyu pindah)
    – 1351 peristiwa lapangan Bubat berarti usia Hayam Wuruk 17 tahun(1351-1334=17)
    – 1365 dalam negara krtagama Kusumawardhani sudah menikah dengan Wikramawardhana, jadi usia Kusuma wardhani pada saat peristiwa bubat adalah kurang dari 14 tahun(1365-1351=14), dan usia Hayam Wuruk adalah 31 tahun (1365-1334=31)
    – 1377 Hayam Wuruk menyerang palembang sebagai penundukan atas Sriwijaya, usia Hayam Wuruk 43 tahun (1377-1334=43)
    – 1389 Hayam Wuruk Meninggal di usia 55 tahun(1389-1334=55) dan wikramawardhana menjadi raja
    jika hal di atas benar maka benarkah kutipan dalam pararaton menyebut bahwa Hayam Wuruk meninggal setelah peristiwa bubat karena kesedihan atas meninggalnya Dyah Pitaloka, karena berdasar data tersebut Hayam Wuruk meninggal 38 tahun setelah peristiwa Bubat!!

    http://badailautselatan.multiply.com/journal/item/61/Kematian_Dyah_Pitaloka_di_Bubat_sudut_pandang_lain_mengenainya

    Ada yg bisa menanggapi?

  5. Tulisan yang sangat cerdas. Setidaknya memberikan tantangan bagi para sejarahwan, budayawan dan pemerhati sejarah untuk menanggapi komentar Sdr. Dildaar80. Kita tdak sedang mencari kesalahan, tapi sedang merajut benang kusut yang pada akhirnya akan bermuara pada pemahaman bahwa masa lalu adalah pelajaran berharga yang harus menjadi holy-spirit bagi bangsa hari ini yang sedang galau diganggu oleh sebagian benalu yang akan menghancurkan nilai-nilai luhur bangsa, keutuhan negara kesatuan. Terlebih-lebih pelaku korupsi yang sudah tidak punya rasa malu.

    Salam Nusantara..!
    Renny Masmada
    http://www.rennymasmada.com
    http://www.filmgajahmada.com

  6. I Wayan Agus Eka said

    @dildaar80: terima kasih atas tanggapannya,maaf tidak terlalu banyak membantu karena sy masih belajar
    @rennymasmada: terima kasih atas kunjungannya

  7. andie said

    Melihat fakta watak(typical)dari org2 “kita” ya sangat wajar kalau ada yg menulis seperti tulisan dildaar80 diatas.. sudah bukan rahasia umum lagi.. membaca tulisan diatas saya membayangkan seseorang yg cerdas sedang berfikir subjectif sehingga bisa berimajinasi membuat suatu naskah berdasarkan rasa ketidak sukaanya karena pujaannya gajah mada dipersalahkan dan dianggap tidak ksatria. Dalam kehidupan sehari2 kita pasti sering melihat org2 yang bersifat seperti ini misalnya : sudah tau anaknya, saudaranya, bapaknya, ibunya, atau rekan satu sukunya bersalah tapi tdk bisa objectif mengakui kesalahan mereka bahkan membuat cerita yg memutarbalikan fakta untuk membela mati2an kesalahan org2 yg dicintainya tersebut.Dildaar80 tdk hanya berusaha membersihkan nama pujaannya namun sekaligus menyerang balik dengan merendahkan seorang puteri Dyah Pitaloka.
    Pasti sering sekali kita melihat orang2 seperti ini. Hanya Tuhan yang paling tau niat buruk atau niat tulus seseorang maka dari itu pula hanya Tuhan jualah yang berhak menilai dan menghukumnya entah di dunia atau di akhirat nanti. Ini kenapa Indonesia susah maju karena terlalu banyak orang dengan bad attitude. Wilayah luas bukanlah indikator kemajuan suatu bangsa. Harap kita ingat : memaksa org lain untuk takluk serta mengambil harta suatu wilayah org lain adalah ciri utama dari penjajahan.

    Pertanyaan simple saja, apa sih alasannya seorang gajah mada begitu bernafsu untuk memaksa orang lain takluk dan tunduk? jawabannyapun simple saja.. yaa karena gajah mada juga manusia yang sifat dasarnya adalah mempunyai hawa nafsu dan ambisi yang sangat2 tinggi. Apakah dimata Tuhan seorang Gajah Mada akan ditinggikan derajatnya dan disiapkan tempat di surga karena “jasanya” menaklukan nusantara dibawah kekuasaan majapahit? Apakah kata mempersatukan nusantara itu hanya kamuflase atau pembenaran dari nafsu menjajah dari seorang gajah mada.
    Maaf, tapi tidak ada seorangpun yang bisa memaksa seseorang untuk mengagumi gajah mada.

    • I Wayan Agus Eka said

      Makasi kawan, nice comment..Tp maaf juga, tidak ada seorangpun yang juga bisa memaksa seseorang untuk tidak membela gajah mada sesuai dengan pemahaman dan keyakinannya.

    • dildaar80 said

      Argumentasi dibalas argumentasi bukan menyindir kesukuan. Kalau utk itu jg sy bisa tp takkan sy lakukan disini…

      • punakawan bayuaji said

        Lha iya gitu aja si Andie kok sepertinya kebakaran jenggot.

        Eh.. si Andi punya jenggot nggak sih

    • eroes andi said

      Dari cerita2 teman diatas sy jadi kagum tp,kita semua harus ingat,semua itu kan hanya berdasarkan cerita yg tertulis di sisa sejarah yg tertinggal,jd jgn sampai kita terjebak dulu yg nantinya menimbulkan perpecahan saudara sunda dan jawa,karena sy sudah baca seri gajah mada by langit kresna dan yg lain,dan di dlm nya ada juga nama2 yg sepertinya fiktif,tp saya pikir ya sudah krn itu bukan salah satu tokoh pembesar,cuma pengiring cerita aja kali. yg sy tau emang bubat benar adanya seperti itu krn dlm cerita lain juga spt itu,dan sampai sekarang emang ada buktinya dari tatar sunda ga ada namanya jalan gajah mada,mungkin itu karena kekekian orang2 sunda setelah bubat tsb,thk

  8. ari3f said

    Sdr Wayan Agus Eka. Terima kasih atas ulasan yg singkat dan baik mengenai buku “Gajah Mada: Biografi Politik”. Saya tengah mencari literatur asal usul Gajah Mada. Apakah buku tsb menjelaskan rinci mengenai kelahiran, asal usul, sebelum Gajah Mada memimpin pasukan elit Bhayangkara? Saya memerlukan beberapa referensi sejarah. Terima kasih sebelumnya.

  9. Rarawuan said

    Om.. katanya ada yang bilang patung kepala Gajah Mada di atas itu cuma celengan yang ditemukan di Trowulan, dan bahkan ada anekdot bahwa patung kepala itu lebih mirip M. Yamin si penggagas “kejayaan” Majapahit di masa lampau untuk kepentingan “kebangkitan” bangsa?

    • I Wayan Agus Eka said

      Wah, saya baru tau ada versi seperti ini. Ya namanya sejarah, orang bisa mengatakan apa saja menurut versinya, tinggal kitanya saja yang pintar-pintar menyaringnya. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: