DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Pitoyo Amrih: The Darkness of Gatotkaca

Posted by I Wayan Agus Eka on June 27, 2010

“Kakang Narada, tolong pertemukan seorang putri bangsa raksasa dari Pringgandani dengan si tinggi besar Pandawa, Bratasena. Kumpulkan seluruh kesaktian bangsa dewa untuk mempercepat kehamilan Arimbi itu dan juga mempercepat kelahiran dan kedewasaan jabang bayi mereka” Begitulah sabda Batara Guru kepada Narada yang merupakan cikal bakal lahirnya Gatotkaca. Gatotkaca dilahirkan atas titah dewata untuk menyelamatkan negeri para dewa dari ancaman serbuan negeri raksasa bernama Gilingwesi.

Seketika ketika gatotkaca lahir dia langsung dilempar ke kawah candradimuka dan kemudian diberikan kesaktian oleh Narada, Empu Angganjali dan Empu Ramadi. Lelaku ini juga menciptakan tombak kecil yang diberi nama tombak Konta Wijayadanu yang memang diciptakan sebagai senjata satu-satunya yang dapat membunuh Gatotkaca dan kelak digunakan oleh Karna ketika perang Bharatayudha.

Novel ini menceritakan bagaimana Gatotkaca selalu menjadi pribadi yang diberikan tugas dan tanggung jawab besar bahkan dari sejak dia masih bayi. Bagaimana dia memusnahkan kerajaan Gilingwesi ketika usianya masih hitungan hari. Bagaimana kemudian dia juga membantu Arjuna membunuh Niwatakawaca, raksasa yang juga berusaha menaklukkan alam dewa. Bagaimana dia selalu terbang di langit kerajaaan Amerta (kerajaan dari Yudisthira, pamannya) untuk mengamankannya dari segala gangguan musuh.

Gatotkaca adalah pribadi pendiam, selalu melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan tuntas. Namun, di balik itu semua, Gatotkaca juga merupakan pribadi yang bengis dengan semua musuh-musuhnya, bahkan dia tanpa ragu membunuh Pamannya sendiri (Kalabendana) hanya karena Pamannya tidak bisa berbohong sesuai pintanya, satu-satunya kesalahan dalam hidupnya yang dia sadari dan sesali sampai akhir hidupnya.

Jasa-jasa Gatotkaca nyaris tanpa penghargaan dari siapapun. Ketika dia berhasil mengalahkan pasukan Niwatakawaca, justru Arjuna yang mendapat hadiah dari para Dewa. Keberhasilannya menjaga Amerta dari serangan musuh tidak mendapat pengakuan dari saudara-saudaranya. Alhasil, dia ibarat makhluk yang memang diciptakan ke dunia hanya sebagai senjata hidup yang  digunakan untuk kepentingan dewa dan pandawa.

Meskipun akhirnya dia menikahi Pregiwa dan memiliki seorang anak namun tetap saja tidak ada yang bisa memahami isi hatinya. Orang di sekelilingnya menganggap dia adalah pribadi yang kuat dan sakti sehingga merasa tidak perlu untuk memahami dan menyelami isi hatinya. Padahal Gatotkaca juga memiliki sifat-sifat manusia yang sangat membutuhkan kasih sayang, namun tanggung jawab yang besar yang dipikulnya semenjak lahir seolah-olah menutupi itu semua.

Dia selalu hidup dalam kesendirian. Dia selalu memendam dan menekan setiap rasa kecewa di dasar hatinya. Tak ada orang di sekitarnya yang bisa diajaknya berbagi. Dia terlalu angkuh untuk bisa mengutarakan setiap perasaannya. Dia selalu membawa beban rasa bersalah dalam dirinya. Dia selalu merasa sendiri di tengah kehangatan keluarga di sekitarnya.

Sebuah novel yang sebenarnya memiliki ide cerita yang sangat menarik karena bersumber dari salah satu mahakarya terbesar umat manusia, Mahabarata. Namun demikian, pemilihan kata yang berulang-ulang membuat saya agak sedikit kebosanan membacanya meskipun kelemahan itu tertutupi karena memang ide dasar cerita yang menarik.

Akhirnya ijinkan saya mengutip salah satu kalimat pada halaman awal novel ini bahwa novel ini adalah “untuk para patriot yang terkadang hidup dalam kesendirian di tengah keriuhan”. Mungkin Anda(saya)lah salah satunya.

I Wayan Agus Eka

Advertisements

4 Responses to “Pitoyo Amrih: The Darkness of Gatotkaca”

  1. Eko SW said

    Love it! 🙂

  2. chimbah said

    gak nemu lagi buku ini, malah baca yang bisma jadinya
    harus baca niy kek nya

  3. tri.wahyono said

    kok beda ya…?
    dari yang aku baca dari buku yang judulnya di atas sih kalo gak salah Bratasena/Bima/Werkudara itu menikahi Arimbi sebagai penebusan karena telah membunuh Arimba [kakak tertua Arimbi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: