DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Mirisnya Pisau Sang Nenek

Posted by I Wayan Agus Eka on February 12, 2010

Si nenek sudah  dua kali lewat di hadapanku pada pagi hari yang cukup dingin di pasar ubud. Mataku langsung mengamati dari ujung rambutnya karena ingatanku langsung tertuju pada almarhum nenekku. Kepalanya menjunjung keranjang yang berisi berbagai macam pisau tradisional bali. “metumbasan pisau bu” (beli pisau bu) begitulah suara lirih yang keluar dari bibirnya yang sudah termakan usia kepada setiap pengunjung pasar.

Mungkin karena capek mondar mandir di tengah pasar, sang nenek kemudian duduk persis di depanku di sebelah pura yang ada di tengah pasar. Sejurus kemudian datanglah seorang turis mengendarai motor matic dan parkir di sebelah motorku, tanpa menunggu lama sang nenek langsung berdiri menghampirinya. “buy mister, good, bantu saya mister, buy satu mister” begitulah kata sang nenek beserta gerak tubuhnya supaya sang turis paham dengan ucapannya.

Bibirku tersenyum simpul sembari menahan ketawa melihat tingkah polah sang nenek yang menggelitik, mencerminkan kepolosan seorang manusia bali sesungguhnya. Namun sedetik kemudian suasana hati ini berubah tatkala menyadari bahwa sang nenek ini adalah cermin dari sebuah perjuangan hidup seorang manusia yang mungkin dalam usianya sudah selayaknya diam di rumah dan dirawat anak-anaknya namun masih harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan mungkin juga keluarganya. Sebuah potret yang miris ketika menyadari bahwa nenek ini tinggal di jantung kota kecil yang sangat gemilang dengan pundi-pundi dolar dari industri yang bernama pariwisata. Ya, nenek ini adalah potret manusia yang tidak menikmati kesuksesan pariwisata bali.

“Kude siki pisau niki bu”(berapa harga pisau ini satu bu?) mendadak lamunanku buyar ketika ibuku sudah datang belanja dan langsung menawar salah satu barang dagangan nenek itu. “duang tali bu”(dua ribu bu), jawab sang nenek, tanpa pikir panjang ibuku langsung mengambil uang 2 ribu dari dompetnya dan mengambil salah satu pisau kecil sang nenek. “mai gus, mulih jani”(ayo nak, sekarang pulang), dan ajakan pulang ibuku memaksaku menghidupkan mesin motorku dan kembali pulang meninggalkan sang nenek yang nasibnya semiris pisau yang dijualnya.

Advertisements

3 Responses to “Mirisnya Pisau Sang Nenek”

  1. zou said

    Bener2 miris ..
    Jadi inget, ada kakek2 tua yang tiap hari dorong gerobak dagangan isi pisang & daun singkong ..
    Kemana anak & cucu orang2 tua malang seperti itu ya ?
    Kalau memang tidak punya, oke lah, semakin salut, meski sudah tua, semangat mempertahankan hidup masih ada.
    Tapi kalau ada, benar2 ironis .. 😦

  2. nal said

    Menyadarkan qta utk lbh bnyk brsyukur dan memuliakn orang tua..
    Good writing bro!!

  3. chily said

    🙂 nice story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: