DAUN LONTAR

Karena Yadnya Yang Paling Utama adalah Pengetahuan (Jnana)

Archive for February, 2010

Saraswati dan Kenangan Masa Kecil

Posted by I Wayan Agus Eka on February 26, 2010

Setiap kali menjelang hari raya Saraswati saya selalu seperti kembali ke masa kecil ketika masih sekolah dasar di kampung halaman. Bangun pagi terus mandi dan berpakaian sembahyang, kemudian dengan membawa sesajen berjalan kaki bersama teman-teman ke sekolah untuk sembahyang. Sepulang sekolah, ibu pasti nyuruh supaya buku-buku dikumpulkan di sanggah untuk dibanteni. Ya, begitulah rutinitas ketika hari itu tiba.

Kala itu terasa sangat menyenangkan mungkin karena Saraswati masih bermakna hari libur bagi saya, saya tidak harus belajar (kan ada mitos pas Saraswati tidak boleh baca), tidak harus buat PR ditambah ke sekolah dengan berpakaian yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Masih belum terasa aura hari raya yang suci dan penuh makna. Namun sekarang, tatkala saya sudah mulai belajar dan sedikit memahami makna Saraswati saya sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana saya bisa berhari raya bersama keluarga dan teman-teman sekolah yang mungkin sangat sulit bisa diulangi pada masa saya sekarang.

Meskipun ketika kecil, dengan vidya (pengetahuan) yang masih terbatas, dimana saya hanya memahami hari raya sebagai hari libur namun ada satu makna kecil yang sebenarnya menurut saya menjadi salah satu esensi dari sebuah hari raya yaitu kebersamaan. Kebersamaan karena hari raya adalah saat kita berkumpul dengan teman-teman, ayah, ibu, saudara dan keluarga lainnya.Saat kita bisa bercengkrama melepas rutinitas sehari-hari, saat kita bisa menanyakan kabar saudara kita, saat kita bisa mengambilkan makanan untuk pekak (kakek) dan dadong (nenek) yang kalau hari biasa saya bisanya hanya minta uang jajan ke beliau.

Hal ini justru menjadi sebuah antitesis pada saat sekarang ketika saya sudah besar dan mulai memahami apa makna dari sebuah hari raya. Kehidupan modern dimana di setiap rumah sudah ada kitab suci dan orang-orang mulai hafal dengan mantram Kramaning Sembah serta avidya (kebodohan) yang katanya sudah mulai terhapuskan malah justru meninggalkan semangat kebersamaan ketika berhari raya. Kini, ketika Saraswati, kita hanya datang (mungkin ke pura Aditya Jaya Rawamangun), sembahyang trus pulang. Ketika sembahyangpun mungkin kita tidak mengenal siapa yang duduk di sebelah kita ataupun berusaha untuk mengenalkan diri dan sekadar mengucapkan selamat Saraswati. Ya, rasa kebersamaan itu mungkin sudah mulai terkikis sedikit demi sedikit.

Memaknai hari raya sangat penting karena dengan memaknainya kita memelihara hubungan vertikal kita dengan Sang Pencipta, namun hendaknya kita tidak melupakan hubungan horizontal kita sebagai sesama manusia. Saya sangat rindu dengan masa kecil saya yang meskipun dengan pengetahuan agama yang terbatas namun sangat menikmati arti dari sebuah kebersamaan.

Selamat Hari Raya Saraswati…

Advertisements

Posted in Daily Notes | Tagged: | 3 Comments »

Konsistensi…Pentingkah????

Posted by I Wayan Agus Eka on February 24, 2010

Dalam sebuah drama politik terbesar (mungkin dalam 10 tahun terakhir) salah seorang anggota oposisi menyatakan bahwa kita akan tetap konsisten sesuai dengan pandangan awal fraksi. Dalam kesempatan lainnya juga sering keluar pernyataan bahwa konsistensi sangat diperlukan dalam membangun negara yang bebas dari korupsi.

Apakah pernyataan mengenai konsistensi itu salah???tidak, sama sekali tidak. Namun, perlu dilihat bagaimana dan kapan kita harus bersikap konsisten. Apabila dalam indikasi awal kita bersikap bahwa telah terjadi pelanggaran namun kemudian setelah dilakukan pemeriksaan tidak ditemukan pelanggaran apakah sikap konsistensi masih diperlukan. Kalau dalam konteks ini masih bersikap konsisten maka sikap ini adalah sikap konsisten menyalahkan yang benar atau hanya mencari-cari kesalahan.

Akan sangat lebih bijak apabila sikap konsistensi memiliki dasar yang kuat yang memiliki rasional-rasional yang mendasarinya, tidak hanya didasarkan pada emosi dan membangun opini publik supaya kata-kata “konsisten” terdengar seperti sikap yang 100% benar tanpa cela. Opini publik seolah-olah digiring dengan membangun image bahwa yang konsistenlah yang selalu benar, padahal yang konsisten belum tentu benar dan yang “plin plan” belum tentu salah.

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

SAK ETAP, sebuah versi sederhana dari SAK Umum

Posted by I Wayan Agus Eka on February 21, 2010

Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) pada bulan Juli 2009 telah mengesahkan salah satu standarnya yang diberi nama Standar Akuntansi Keuangan Entitas tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Sesuai dengan namanya maka sasaran pengguna dari standar ini adalah entitas yang tidak memiliki tanggung jawab akuntabilitas kepada publik (ETAP). SAK ETAP beranalogi dengan IFRS SMEs (Small and Medium Enterprises), bahkan semangat pengembangan SAK ETAP berasal dari IFRS SMEs namun dengan beberapa penyesuaian.

Selama ini perusahaan yang tidak memiliki akuntabilitas publik (misalnya UKM, private entities dll) mengalami dilema dalam penyusunan laporan keuangan. Di satu sisi mereka menginginkan laporan keuangan yang sesuai dengan standar, utamanya untuk tujuan-tujuan antara lain memperoleh kredit dari bank, tujuan pelaporan pajak maupun tujuan internal perusahaan namun di sisi lain mereka menghadapi hambatan dalam pengaplikasian SAK Umum terkait dengan kompleksitas SAK Umum sehingga menimbulkan cost yang besar apabila tetap diterapkan.

DSAK memahami hal ini dan memberikan solusi berupa penerbitan SAK ETAP yang merupakan simplifikasi dari SAK Umum. Secara substansi tidak terdapat perbedaan signifikan antara keduanya, namun persyaratan disclosure dari SAK ETAP berkurang signifikan dari SAK Umum. Perbedaan-perbedaan lainnya antara lain:

  1. Terkait dengan metode pelaporan arus kas dari kegiatan operasi, SAK ETAP hanya mengenal indirect method, sementara SAK Umum selain mengenal indirect juga memungkinkan penerapan direct method.
  2. Terkait dengan pelaporan investasi,SAK ETAP menerapkan standar US GAAP sementara dalam SAK Umum dikenal dengan nama Financial Asset dan Financial Liabilities (SAK 50 dan 55) yang penerapannya di Indonesia sampai sekarang masih mengalami penundaan.
  3. Pengukuran Aset Tetap (PPE) pada SAK ETAP hanya menggunakan metode biaya dengan revaluasi hanya bisa dilakukan apabila ada peraturan pemerintah, namun SAK Umum selain metode biaya juga memungkinkan mengadopsi revaluation model.
  4. Borrowing cost pada SAK ETAP dibebankan namun pada SAK Umum dikapitalisasi

Posted in Accounting | Tagged: | Leave a Comment »

Generasi Masa Depan bukan Generasi Masa Kini

Posted by I Wayan Agus Eka on February 20, 2010

“Demi masa depan” begitulah ungkapan yang sering kita dengar dari orang yang bekerja keras setiap hari. Aktivitas sehari-harinya bangun pagi-pagi sekali, sarapan buru-buru langsung berangkat kerja, kemudian pulang larut malam. Setiap kali anaknya bertanya kenapa ayahnya seperti ini, jawaban sang ayah singkat “demi masa depan kamu nak”.

Apa sih masa depan itu???seolah-olah masa depan berupa makhluk menyeramkan yang memaksa kita untuk memeras darah (bukan keringat lagi) kita hari ini untuk membebaskan kita dari makhluk tersebut. Masa depan seolah-olah menjadi momok menakutkan bagi orang-orang yang hidup di kekiniannya.

Tidakkah orang-orang seperti itu menyadari bahwa kelak suatu saat, masa depan akan menjadi masa kini. Dan jangkauan masa depanpun bukannya tidak terbatas karena setiap manusia pasti memiliki batas umurnya masing-masing. Sehingga, ujung dari masa depan itu adalah apa yang disebut dengan maut atau kematian. Menyadari hal ini apakah masih kita masih perlu menggebu-gebu beralasan “demi masa depan”???Apakah masih perlu kita mengorbankan masa kini kita demi masa depan kita itu???apakah masih perlu seorang ayah tidak pernah melihat anaknya sarapan dan mengantarkan cerita dikala anaknya mau tidur????Apakah masih perlu seorang anak manusia mengabaikan cintanya dan baru menuainya dikala sang fajar sudah tenggelam???

Mudah-mudahan saya tidak termasuk dalam generasi masa depan itu, mudah-mudahan saya termasuk dalam generasi masa kini yang peduli dengan masa depan. Awighnam astu…

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Judi dan Generasi Instan

Posted by I Wayan Agus Eka on February 20, 2010

Tulisan ini dimuat di harian balipost tanggal 20 februari 2010, klik di sini

Posted in Published Writing | Leave a Comment »

I Ngurah Suryawan: Bali, Narasi dalam Kuasa Politik dan Kekerasan di Bali

Posted by I Wayan Agus Eka on February 17, 2010

Buku ini saya dapatkan pada pameran buku di daerah Senayan Jakarta. Awalnya sih hanya mencari buku tentang Bali, daerah kelahiran saya, namun justru saya menemukan buku yang menurut pandangan saya menjadi sisi lain dari wajah pulau dewata yang selama ini kita kenal. Buku ini dikarang oleh seorang putra bali yang saat dia menyusun buku ini masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan Antropologi UNUD.

Hal yang menurut saya menjadi bagian paling menarik dalam buku ini adalah bagaimana sang penulis memberikan gambaran tentang terjadinya tragedi berdarah di Bali setelah peristiwa Gestok Oktober 1965. Menjadi sangat menarik karena sang penulis mampu membawa suasana pada saat itu melalui gaya bahasanya yang kritis. Dia melukiskan bagaimana bertolakbelakangnya sifat ramah tamah orang bali yang kita kenal saat ini dimana saat itu orang bali dengan begitu mudahnya melenyapkan nyawa sesama bahkan saudaranya sendiri hanya karena perbedaan paham politik. Sang penulis juga mencatat bahwa meskipun secara niskala tragedi itu sudah melalui proses pembersihan, namun jejak-jejaknya masih terus ada sampai sekarang terutama dari orang yang mengalami peristiwa tersebut secara langsung.

Hal lain yang cukup menarik adalah bagaimana penulis membahas mengenai isu ajeg bali. Bagaimana sang penulis mengkaitkan isu ajeg bali dengan usaha mempertahankan identitas ke-balian orang bali sendiri dan kemudian dikaitkan dengan isu-isu ekonomi melalui industri pariwisata yang ujung-ujungnya berpangkal pada masalah perut. Ajeg bali juga dihubungkan dengan terbentuknya apa yang disebut penulis sebagai jago-jago kebudayaan, sebuah sebutan bagi institusi, lembaga tradisional, organisasi pemuda, media massa dll yang seakan-akan menjadi pihak yang akan menjaga keajegan bali itu. Salah satu jago yang sering disinggungnya adalah kehadiran pecalang. Pecalang yang pada awalnya hanya digunakan pada saat ada upacara keagamaan menjadi sebuah istitusi yang mempunyai kewenangan luar biasa dengan dalih untuk menjaga kebudayaan Bali sebut saja ketika pecalang melakukan razia penduduk luar Bali.

Buku yang cukup bagus memberikan gambaran wajah lain dari Bali yang kita kenal. Salut buat sang penulis…

Posted in Book that i've read | Leave a Comment »

Roso Daras: Bung Karno “the other stories” Serpihan Sejarah yang tercecer

Posted by I Wayan Agus Eka on February 16, 2010

Siapa sih yang tidak tau dengan sosok Bung Karno???berbagai penilaian telah dialamatkan kepada salah satu sosok terpenting dalam sejarah bangsa Indonesia ini. Berbagai macam buku telah mencoba untuk mengulas sosok dari berbagai macam sudut pandang dan pemahaman.

Buku ini mengenalkan saya pada sisi lain dari pribadi seorang pemimpin besar revolusi. Bung karno yang kita kenal sebagai pemimpin idealis dengan pidatonya yang berapi-api ternyata juga memiliki sisi humanisme selayaknya manusia pada umumnya. Mungkin sisi humanisme inilah yang membentuk karakter bung karno yang kina kenal sampai sekarang.

Sisi humanisme itu sangat kentara tatkala buku ini mengisahkan bagaimana bung karno melamar gadis pujaannya yang kelak menjadi ibu negara, fatmawati. Kala itu jarak yang memisahkan mereka tidak menyurutkan niat bung karno untuk melamar fatma yang berada nun jauh di bengkulu sementara bung karno berada di jakarta, dan terjadilah kemudian pernihkahan jarak jauh (kalau sekarang sih adanya istilah LDR/long distance relationship).

Namun ada satu kisah menggelitik ketika bagaimana dalam satu lawatan ke luar negeri bung karno berniat membelikan pakaian dalam untuk istrinya. Tidak kekurangan ide, bung karno yang tidak tahu ukuran pakaian dalam istrinya meminta semua pegawai cewek di toko BH itu untuk berdiri berjajar dan kemudian bung karno memperhatikan bentuk tubuh masing-masing dan kemudian mengira-ngira pegawai yang memiliki ukuran yang serupa dengan istrinya. Dan ternyata, cara bung karno terbukti ampuh, pakaian dalam yang dibelinya pas untuk istrinya

Dan adakah yang tau kapan ciuman pertama bung karno???ya, pada usia 14 tahun ama gadis bule berkebangsaan belanda (gile cing, 14 tahun dah ciuman ama bule pula, ckckckck…). Sebuah buku yang cukup bagus.

Posted in Book that i've read | Tagged: , | Leave a Comment »

Balinese Instant Generation

Posted by I Wayan Agus Eka on February 16, 2010

I Kocong sudah tamat SMA sekarang, namun bagi pemuda sekelas I Kocong sekolah hanyalah sambilan dari profesi utamanya sebagai brandes (brandalan desa), sebutan khas masyarakat bali untuk orang yang sering buat onar, mabuk-mabukan dll di lingkungan masyarakat. Jangankan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, untuk bangun pagi berdandan rapi menenteng map saja dia ogah. Sube keles asane bungut meme bapane ngorahin I Kocong (ungkapan yang kurang lebih berarti bahwa ortunya I Kocong sudah sampai bosan menasehatinya).

Setiap hari kerjaannya hanya nongkrong di warung pinggir jalan, menghisap rokok dan berharap temen2nya sesama brandes datang sambil membawa red label (kalo lagi ada duit) atau kalau lagi cekak arak bali pun gpp. Duduk melingkar di sisi jalan, ditengahnya ada botol besar dan gelas kecil kemudian digilir ke setiap anggota komunitasnya, begitulah sampai badannya terasa ringan dan semua masalah hidupnya seakan-akan hilang lalu pulang terhuyung-huyung kemudian menjatuhkan badan di kamarnya yang sumpek dan baru bangun jam 2 siang keesokan harinya. Begitulah hari-hari I Kocong, sang jagoan desa.

Suatu hari datanglah salah seorang temannya. Dandanannya ga jauh beda ama personil grup punk. Rambut kaku berdiri, semir merah, baju dan celana ketat compang camping, sepatu ga jelas sambil menenteng blackberry onyx di tangan. Gacoannya pun ga kalah, mobil honda jazz hitam full modifikasi plus ditambah seorang cewek cantik di dalamnya dengan dandanan serupa. Melihat temannya itu, I Kocong hanya bisa menelan air ludahnya sendiri, bibirnya mangap terus sembari kupingnya serius mendengar cerita-cerita seru temannya tentang kehidupan “modernnya” di kota seberang. Kupingnya tetap terpasang ketika sang teman menceritakan keberhasilannya menggaet cewek-cewek cantik dan mengajaknya kencan ke hotel, makin keluarlah air liur I Kocong.

Cerita sang teman masih terngiang-ngiang di telinga I Kocong sesampainya di rumah, kalau biasanya sehabis mabuk dia langsung tidur namun kali ini matanya masih terbelalak seperti burung hantu yang suaranya sering terdengar di belakang rumahnya. Pikirannya menerawang jauh ga tentu arah membayangkan seandainya dia bisa seperti itu, namun I Kocong selalu menghela nafas ketika dia menyadari bahwa dia hanya seorang pemuda desa pengangguran yang ortunya hanya petani yang menggarap tanah warisan leluhurnya.

Namun tiba-tiba matanya berubah semakin terang, raut mukanya menjadi lebih jelas, bibirnya terseyum-senyum simpul karena di pikirannya melintas “ide cemerlang” yang bisa mengatasi kegundahannya. Ya, dia yakin ide ini akan merubah I Kocong dari pemuda culun, kampungan, dekil menjadi pemuda modern, wangi, disenangi cewek-cewek, dll. Dia akan membujuk ayahnya untuk menjual tetandingan (sebutan untuk tanah warisan), ya, dia yakin akan menjual harta satu-satunya peninggalan leluhurnya itu.

Awalnya sang ayah menolak, namun namanya juga orang tua yang hanya memiliki satu anak laki-laki sang ayah tidak bisa berbuat banyak. Tanpa waktu yang lama, tanahnya dibuatkan sertifikat (karena pada umumnya tanah warisan di bali belum disertifikat) kemudian dengan bantuan seorang makelar yang juga penduduk desa seberang maka tanpa kesulitan dia menemukan calon pembeli dari luar negeri. Transaksi pun terjadi dan sekarang I Kocong sudah menjadi orang kaya baru di desanya.

Terkejut dengan jumlah uang yang begitu banyak, satu persatu barang mewah pun dibelinya. Mulai dari mobil keluaran terbaru, HP terkini, rumahpun diperbaiki seperti amah tetani (ungkapan yang berarti bahwa rumahnya dipenuhi ukiran-ukiran). Biar balance, tampang I Kocong pun dipermak abis, dia pun mulai mengenal yang namanya body lotion, deodoran, minyak wangi dll.

Kebiasaannya pun berubah, dari sekadar hanya nongkrong di pinggir jalan menunggu teman-temannya datang membawa arak sekarang tongkrongannya menjadi sekelas “Kamasutra” yang mungkin tiket masuknya cukup buat beli beras sebulan. Mentraktir temanpun menjadi menu keseharian I Kocong sekedar untuk berebut pengaruh dan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Gonta ganti cewek menjadi hal yang biasa baginya. Tetanggapun sering membicarakannya namun baginya itu justru hal yang membuatnya menjadi semakin bangga dengan statusnya sekarang.

Cerita I Kocong mungkin hanya fiktif belaka, namun bukan hal yang mustahil hal ini terjadi pada kehidupan nyata khususnya di Bali yang generasi mudanya begitu terpengaruh dengan dunia luar hasil dari industri pariwisata dan kemudian mencoba mengadaptasinya di kehidupan sehari-hari tentunya dengan modal bernama tanah warisan dari leluhurnya. I Kocong merupakan cerminan pemuda bali masa kini yang menginginkan segala sesuatu yang serba cepat tanpa mengalami proses, bukan bermaksud untuk mengeneralisasi karena saya yakin masih banyak pemuda Bali yang berjuang keras dan memperoleh hasil sebagai kristalisasi keringat (meminjam istilah dari tukul). Hasil yang diperoleh I Kocong seperti buah pisang karbitan yang nampak bagus dari luar namun di dalamnya masih mentah.

Apakah Anda salah satu dari I Kocong?????

Posted in Daily Notes | 2 Comments »

Mirisnya Pisau Sang Nenek

Posted by I Wayan Agus Eka on February 12, 2010

Si nenek sudah  dua kali lewat di hadapanku pada pagi hari yang cukup dingin di pasar ubud. Mataku langsung mengamati dari ujung rambutnya karena ingatanku langsung tertuju pada almarhum nenekku. Kepalanya menjunjung keranjang yang berisi berbagai macam pisau tradisional bali. “metumbasan pisau bu” (beli pisau bu) begitulah suara lirih yang keluar dari bibirnya yang sudah termakan usia kepada setiap pengunjung pasar.

Mungkin karena capek mondar mandir di tengah pasar, sang nenek kemudian duduk persis di depanku di sebelah pura yang ada di tengah pasar. Sejurus kemudian datanglah seorang turis mengendarai motor matic dan parkir di sebelah motorku, tanpa menunggu lama sang nenek langsung berdiri menghampirinya. “buy mister, good, bantu saya mister, buy satu mister” begitulah kata sang nenek beserta gerak tubuhnya supaya sang turis paham dengan ucapannya.

Bibirku tersenyum simpul sembari menahan ketawa melihat tingkah polah sang nenek yang menggelitik, mencerminkan kepolosan seorang manusia bali sesungguhnya. Namun sedetik kemudian suasana hati ini berubah tatkala menyadari bahwa sang nenek ini adalah cermin dari sebuah perjuangan hidup seorang manusia yang mungkin dalam usianya sudah selayaknya diam di rumah dan dirawat anak-anaknya namun masih harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan mungkin juga keluarganya. Sebuah potret yang miris ketika menyadari bahwa nenek ini tinggal di jantung kota kecil yang sangat gemilang dengan pundi-pundi dolar dari industri yang bernama pariwisata. Ya, nenek ini adalah potret manusia yang tidak menikmati kesuksesan pariwisata bali.

“Kude siki pisau niki bu”(berapa harga pisau ini satu bu?) mendadak lamunanku buyar ketika ibuku sudah datang belanja dan langsung menawar salah satu barang dagangan nenek itu. “duang tali bu”(dua ribu bu), jawab sang nenek, tanpa pikir panjang ibuku langsung mengambil uang 2 ribu dari dompetnya dan mengambil salah satu pisau kecil sang nenek. “mai gus, mulih jani”(ayo nak, sekarang pulang), dan ajakan pulang ibuku memaksaku menghidupkan mesin motorku dan kembali pulang meninggalkan sang nenek yang nasibnya semiris pisau yang dijualnya.

Posted in Daily Notes | 3 Comments »